Sabang Dinilai Berpotensi Menjadi Hub Industri Baru Seperti Singapura

Sabang Dinilai Berpotensi Menjadi Hub Industri Baru Seperti Singapura

Kota Sabang kembali menjadi perhatian dalam pembahasan pengembangan ekonomi nasional. Letaknya yang berada di ujung barat Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pusat industri, logistik, hingga perdagangan internasional di kawasan Asia. Bahkan, sejumlah pihak menilai posisi strategis Sabang dapat menjadi kekuatan besar seperti yang dimiliki Singapura.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Jose Rizal, mengatakan bahwa secara geopolitik Sabang memiliki keunggulan yang sangat besar, terutama karena berada di jalur utama perdagangan internasional Selat Malaka. Kawasan ini dilalui ribuan kapal dari berbagai negara setiap tahunnya.

Menurutnya, Sabang bahkan memiliki keunggulan alamiah yang tidak dimiliki Singapura. Salah satunya adalah kedalaman perairan pelabuhan yang mencapai 20 hingga 40 meter. Kondisi ini memungkinkan kapal-kapal besar dengan kapasitas hingga 300 ribu DWT bersandar tanpa memerlukan pengerukan rutin. Sementara itu, kedalaman pelabuhan Singapura rata-rata hanya sekitar 15 meter.

Posisi Strategis Sabang di Jalur Perdagangan Dunia

Secara geografis, Sabang berada langsung di pintu masuk Samudra Hindia dan dekat dengan jalur perdagangan internasional. Lokasi ini menjadikan Sabang sangat potensial sebagai pusat distribusi barang, logistik kapal, hingga industri maritim.

Namun, Jose Rizal menegaskan bahwa keunggulan geografis saja belum cukup untuk menjadikan Sabang sebagai pusat ekonomi baru. Keberhasilan Singapura tidak hanya ditentukan oleh lokasi, tetapi juga karena adanya kepastian hukum, infrastruktur modern, serta ekosistem bisnis yang stabil dan terintegrasi.

Ia menilai bahwa Sabang masih perlu memperkuat berbagai aspek pendukung agar mampu menarik investasi besar dan bersaing di tingkat regional.

Faktor Penting untuk Pengembangan Sabang

Terdapat beberapa faktor utama yang dinilai menjadi kunci keberhasilan pengembangan Sabang sebagai kawasan industri dan logistik internasional.

1. Kepastian Hukum dan Regulasi

Investor membutuhkan jaminan aturan yang jelas dan stabil dalam jangka panjang. Karena itu, pemerintah dinilai perlu menyiapkan regulasi khusus yang mampu memberikan kepastian investasi hingga puluhan tahun ke depan.

Model seperti Badan Pengusahaan Kawasan Strategis (BPKS) di Batam dianggap dapat menjadi contoh untuk diterapkan secara lebih optimal di Sabang. Regulasi yang konsisten akan meningkatkan kepercayaan investor asing maupun domestik.

2. Infrastruktur dan Pasokan Energi

Pelabuhan modern membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai, termasuk listrik besar dan internet berkecepatan tinggi. Tanpa dukungan tersebut, operasional industri dan logistik modern akan sulit berkembang.

Sabang juga dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan energi terbarukan, terutama energi geotermal. Potensi vulkanik di kawasan sekitar dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi bersih untuk mendukung kawasan industri di masa depan.

3. Pengembangan SDM dan Ekosistem Bisnis

Selain infrastruktur fisik, pengembangan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting. Pemerintah perlu membangun kerja sama dengan lembaga pendidikan dan pelatihan agar tersedia tenaga kerja yang siap menghadapi kebutuhan industri, logistik, hingga teknologi maritim.

Tanpa SDM yang kompeten dan ekosistem bisnis yang sehat, pembangunan pelabuhan dan kawasan industri dikhawatirkan tidak akan berjalan maksimal.

Sabang Tidak Harus Menjadi “Singapura Baru”

Jose Rizal menilai bahwa Sabang tidak perlu meniru Singapura secara keseluruhan. Menurutnya, yang lebih penting adalah membangun spesialisasi industri yang belum banyak digarap oleh negara lain.

Dengan strategi tersebut, Sabang dapat menjadi pelengkap dalam rantai perdagangan internasional, bukan sekadar pesaing langsung Singapura. Pendekatan ini dianggap lebih realistis dan memiliki peluang keberhasilan lebih besar.

Peluang Bisnis yang Dinilai Potensial di Sabang

Terdapat sejumlah sektor usaha yang dinilai sangat potensial untuk dikembangkan di Sabang, di antaranya:

  • Bunker dan logistik kapal perikanan
    Ribuan kapal ikan asing melintasi Selat Malaka setiap tahun. Sabang berpeluang menjadi lokasi pengisian bahan bakar dan logistik dengan biaya lebih kompetitif dibanding Singapura.
  • Hub kapal pesiar halal
    Wisata halal terus berkembang secara global. Sabang dinilai memiliki peluang menjadi pusat layanan kapal pesiar berbasis wisata muslim.
  • Transshipment komoditas curah
    Komoditas seperti semen, batu bara, dan CPO dapat dipindahkan melalui Sabang menuju berbagai negara seperti India, Bangladesh, hingga kawasan Afrika.
  • Pangkalan militer dan SAR
    Posisi strategis Sabang memungkinkan kawasan ini menjadi basis keamanan maritim dan operasi pencarian serta penyelamatan internasional.
  • Industri energi terbarukan
    Potensi geotermal di sekitar Sabang dapat menjadi kekuatan baru dalam pengembangan industri energi bersih.

Kolaborasi Pemerintah Jadi Penentu

Dalam pengembangan Sabang, pemerintah pusat dan daerah dinilai harus memiliki visi yang sama. Koordinasi antara BPKS, Pemerintah Kota Sabang, Kementerian Perhubungan, hingga Pelindo menjadi hal penting agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan.

Selain itu, pembangunan infrastruktur dasar seperti jaringan internet cepat dan pasokan listrik stabil harus diprioritaskan untuk mendukung operasional pelabuhan modern berbasis teknologi.

Tantangan Pengembangan Sabang

Meski memiliki potensi besar, pengembangan Sabang masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah belum optimalnya realisasi proyek energi terbarukan di kawasan Aceh.

Padahal, sejak sekitar 15 tahun lalu, Pertamina telah mendapat mandat untuk mengembangkan energi geotermal di kawasan Seulawah. Namun hingga kini, pengembangannya dinilai belum menunjukkan hasil signifikan.

Jose Rizal menggambarkan potensi Sabang dengan analogi sederhana. Menurutnya, Sabang ibarat tanah strategis di pinggir jalan tol paling ramai di dunia. Namun tanpa fasilitas pendukung, investor dan pelaku usaha akan memilih tempat lain yang lebih siap.

Dengan pengembangan yang serius, Sabang dinilai mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus membantu mengurangi ketergantungan impor minyak mentah dari Singapura.

Disclaimer:
Data dan informasi dalam artikel ini berlaku hingga April 2026. Perkembangan kebijakan, regulasi, maupun pembangunan infrastruktur di Sabang dapat berubah sesuai kebijakan pemerintah pusat dan daerah.

Hari Buruh 2026 Jadi Momentum Pengusaha dan Pekerja Perkuat Kolaborasi Ekonomi Nasional

Hari Buruh 2026 Jadi Momentum Pengusaha dan Pekerja Perkuat Kolaborasi Ekonomi Nasional

Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei tidak hanya menjadi simbol perjuangan para pekerja, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pengusaha dan tenaga kerja dalam membangun ekonomi nasional yang lebih kuat dan berdaya saing.

Di tengah tantangan ekonomi global yang terus berkembang, hubungan harmonis antara pelaku usaha dan pekerja dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas dunia industri dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia menilai bahwa pekerja dan pengusaha bukanlah dua pihak yang harus saling berhadapan, melainkan mitra strategis yang memiliki tujuan bersama dalam memperkuat perekonomian Indonesia.

Kolaborasi Jadi Kunci Menghadapi Tantangan Ekonomi

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia usaha menghadapi berbagai tantangan mulai dari perlambatan ekonomi global, perubahan pola industri akibat digitalisasi, hingga meningkatnya persaingan tenaga kerja internasional. Kondisi ini menuntut dunia usaha dan tenaga kerja untuk mampu beradaptasi dengan cepat.

Pengusaha membutuhkan tenaga kerja yang produktif, terampil, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Di sisi lain, pekerja juga membutuhkan perusahaan yang sehat dan mampu berkembang agar lapangan pekerjaan tetap tersedia dan kesejahteraan dapat meningkat.

Karena itu, semangat kolaborasi dinilai lebih relevan dibandingkan konflik berkepanjangan antara pengusaha dan pekerja. Hubungan industrial yang sehat akan menciptakan lingkungan kerja yang produktif sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Peningkatan SDM Jadi Tantangan Bersama

Salah satu tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di tingkat global. Perkembangan teknologi dan transformasi industri membuat kebutuhan dunia kerja terus berubah.

Banyak sektor usaha kini membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan digital, manajemen modern, hingga keterampilan teknis yang lebih spesifik. Karena itu, peningkatan kompetensi pekerja menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku usaha.

Asprindo memandang bahwa investasi terhadap kualitas SDM merupakan langkah penting untuk menciptakan ekonomi nasional yang kuat dalam jangka panjang. Pelatihan kerja, pendidikan vokasi, hingga sertifikasi profesi dinilai perlu diperluas agar tenaga kerja Indonesia semakin kompetitif.

Selain itu, pengusaha juga didorong untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pengembangan kemampuan karyawan sehingga produktivitas perusahaan dapat meningkat secara berkelanjutan.

UMKM Memiliki Peran Besar dalam Penyerapan Tenaga Kerja

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Selain berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, sektor ini juga menyerap sebagian besar tenaga kerja di Indonesia.

Karena itu, penguatan UMKM dinilai sangat penting dalam menciptakan lapangan kerja baru dan menjaga stabilitas ekonomi masyarakat. Dukungan terhadap pengusaha daerah, akses pembiayaan, hingga pendampingan usaha perlu terus diperkuat agar UMKM mampu berkembang dan naik kelas.

Dalam konteks Hari Buruh, perhatian terhadap kesejahteraan pekerja tidak hanya berlaku di perusahaan besar, tetapi juga di sektor UMKM yang jumlahnya sangat dominan di Indonesia.

Dengan ekosistem usaha yang sehat, UMKM dapat berkembang menjadi sektor yang lebih produktif sekaligus memberikan perlindungan dan kesejahteraan yang lebih baik bagi tenaga kerja.

Dunia Usaha dan Pekerja Harus Adaptif

Transformasi industri yang terjadi saat ini membuat dunia usaha dan pekerja harus lebih adaptif terhadap perubahan. Digitalisasi, otomatisasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan mulai mengubah berbagai sektor pekerjaan.

Situasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Jika mampu mempersiapkan SDM yang unggul, Indonesia berpotensi memiliki daya saing besar di tingkat internasional.

Sebaliknya, jika tidak mampu mengikuti perubahan, maka banyak sektor usaha maupun tenaga kerja yang berisiko tertinggal dalam persaingan global.

Karena itu, kolaborasi antara pengusaha dan pekerja menjadi semakin penting. Dunia usaha membutuhkan dukungan tenaga kerja yang kompeten, sementara pekerja membutuhkan perusahaan yang terus berkembang dan mampu membuka peluang ekonomi baru.

Hari Buruh Jadi Momentum Persatuan Ekonomi Nasional

Peringatan Hari Buruh seharusnya tidak hanya dipandang sebagai agenda tahunan semata, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dalam membangun ekonomi nasional.

Asprindo menilai Indonesia membutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan dunia usaha dan kesejahteraan tenaga kerja. Pengusaha yang kuat akan membuka lebih banyak lapangan kerja, sementara pekerja yang berkualitas akan meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional.

Semangat gotong royong dan kolaborasi dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan ekonomi masa depan. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja, Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang lebih mandiri dan kompetitif di tingkat global.

Momentum Hari Buruh 2026 diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan ekonomi nasional hanya dapat tercapai ketika seluruh elemen bangsa bergerak bersama, saling mendukung, dan memiliki visi yang sama untuk masa depan Indonesia yang lebih sejahtera.

Arah Ekonomi Prabowo Dinilai Mengarah ke Konsep Soemitronomics

Arah Ekonomi Prabowo Dinilai Mengarah ke Konsep Soemitronomics

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Didin S Damanhuri, menilai kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam lebih dari satu tahun terakhir mulai menunjukkan kecenderungan mengarah pada pendekatan Soemitronomics.

Hal tersebut disampaikan Didin dalam keterangan tertulis pada Kamis, 26 Maret 2026.

Konsep Soemitronomics sendiri merujuk pada pemikiran Soemitro Djojohadikusumo, yang menitikberatkan pada penerapan prinsip Pasal 33 UUD 1945. Dalam kerangka ini, perekonomian nasional dijalankan dengan keseimbangan antara peran negara, koperasi, dan sektor swasta.

Didin menjelaskan bahwa model tersebut memiliki kemiripan dengan sistem sosial demokrasi di negara-negara Skandinavia seperti Swedia, Finlandia, Denmark, dan Norwegia. Di negara-negara ini, sektor swasta tetap berkembang, tetapi berada dalam pengawasan dan regulasi negara yang ketat, termasuk penerapan pajak progresif, jaminan sosial, serta aturan anti-monopoli.

“Swasta tidak berjalan dalam free fight liberalism, tetapi tetap tunduk pada regulasi negara,” ujar Didin.

Dalam sistem tersebut, koperasi dan sektor swasta dapat tumbuh berdampingan dalam mekanisme pasar yang sehat, tanpa dominasi berlebihan dari kekuatan modal.

Meski demikian, Didin menilai kondisi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait praktik perburuan rente (rent seeking). Praktik ini merujuk pada upaya meraih keuntungan melalui kedekatan dengan kekuasaan, bukan melalui inovasi atau efisiensi usaha.

Ia juga mengutip pemikiran Mohammad Hatta yang menegaskan bahwa sistem ekonomi Pancasila terdiri dari tiga pilar utama, yaitu koperasi, BUMN, dan sektor swasta. Dalam konteks ini, sektor swasta tetap memiliki ruang berkembang selama tidak terlibat dalam praktik rente.

Selain itu, Didin menekankan pentingnya peran UMKM yang saat ini mendominasi lebih dari 99 persen pelaku usaha di Indonesia. Menurutnya, pemerintah perlu mendorong UMKM agar dapat naik kelas, baik menjadi koperasi yang efisien maupun berkembang menjadi perusahaan swasta yang inovatif.

“Kita harus dorong UMKM naik kelas, sebagian menjadi koperasi efisien dan sebagian lagi menjadi swasta inovatif,” katanya.

Didin juga menyoroti bahwa kolusi antara pengusaha dan elite politik masih menjadi salah satu hambatan utama dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi rakyat. Ia menilai berbagai kebijakan ekonomi di masa lalu belum sepenuhnya berhasil mencapai tujuan tersebut.

Ke depan, ia berharap pemerintahan Prabowo mampu menjalankan ekonomi Pancasila secara konsisten dengan menekan praktik rente. “Ekonomi harus menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan, bukan kapital,” tegasnya.

Asprindo dan Desa Emas Perkuat Kolaborasi Bangun Ekonomi Desa Berbasis Industri Lokal

Asprindo dan Desa Emas Perkuat Kolaborasi Bangun Ekonomi Desa Berbasis Industri Lokal

Jakarta, 20 Februari 2026 – Upaya memperkuat perekonomian berbasis desa terus menjadi perhatian berbagai pihak di Indonesia. Salah satu langkah nyata dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) yang memperkuat kerja sama dengan gerakan pembangunan desa yang dikenal dengan Desa Emas. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dari tingkat akar rumput sekaligus menciptakan multiplier effect bagi perekonomian nasional.

Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal, menyampaikan bahwa hubungan antara Asprindo dan Desa Emas sebenarnya telah terjalin cukup lama. Namun, pada tahun 2026 ini kedua pihak sepakat untuk memperkuat kerja sama agar dampaknya terhadap masyarakat desa semakin nyata.

“Cara kita sama, yaitu menggerakkan perekonomian dari bawah, ya dari desa itu. Kita membina, mendampingi, memberikan pelatihan pada masyarakat pedesaan, agar bisa membangun dan mengembangkan potensi yang ada di daerah mereka. Kita pun akan membuka akses pasar bagi produk-produk unggulan tersebut,” kata Jose dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 20 Februari 2026.

Ekonomi Kuat Dimulai dari Desa

Menurut Jose Rizal, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus dimulai dari tingkat paling dasar, yaitu desa. Desa memiliki potensi sumber daya alam, budaya, serta tenaga kerja yang besar. Namun, potensi tersebut sering kali belum dioptimalkan karena keterbatasan akses pasar, teknologi, dan pendampingan usaha.

Melalui kolaborasi antara Asprindo dan Desa Emas, masyarakat desa didorong untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang dimiliki. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi yang produktif.

Jose menjelaskan bahwa ketika perekonomian desa bergerak, maka akan tercipta efek berantai atau multiplier effect yang mendorong pertumbuhan ekonomi secara lebih luas.

“Dengan menggerakkan perekonomian daerah, maka akan terbentuk multiplier effect yang akan mendorong roda perekonomian, tak hanya lokal tapi juga nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa ekonomi akan menjadi lebih kuat jika dibangun dari bawah, karena masyarakat menjadi aktor utama dalam proses pembangunan ekonomi.

“Perekonomian akan kuat, karena ekonominya dibangun dari bawah. Masyarakat juga menjadi sejahtera karena usaha dijalankan secara profesional dan berbasis teknologi, namun tetap mengikuti nilai-nilai adat yang ada di daerah tersebut,” tambahnya.

Kolaborasi Program Kampung Industri dan Desa Emas

Ketua Dewan Pembina Desa Emas, Aries Muftie, menjelaskan bahwa pertemuan antara kedua pihak dilakukan untuk menyelaraskan berbagai program yang dimiliki masing-masing organisasi. Dengan penyelarasan ini, diharapkan kolaborasi dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa.

Menurut Aries, visi dan misi antara Asprindo dan Desa Emas memiliki kesamaan yang kuat, terutama dalam mendorong lahirnya industri berbasis desa.

“Visi dan misi kita ini sama, yaitu satu desa, satu industri. Sehingga, kami memutuskan lebih berkolaborasi. Asprindo punya Kampung Industri, Desa Emas punya program Patriot Desa dan Permata,” kata Aries.

Program Kampung Industri yang digagas Asprindo bertujuan menciptakan ekosistem usaha berbasis masyarakat di suatu wilayah desa. Sementara itu, gerakan Desa Emas melalui program Patriot Desa dan Permata fokus pada penguatan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pengembangan potensi lokal desa.

Dengan kolaborasi ini, kedua program tersebut diharapkan dapat saling melengkapi dan mempercepat proses pembangunan ekonomi desa.

Sejalan dengan Asta Cita Presiden

Aries Muftie juga menilai bahwa kerja sama antara Asprindo dan Desa Emas sejalan dengan visi pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Dalam konsep pembangunan tersebut, sebagian besar program diarahkan pada penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan berbasis desa.

Salah satu program yang dinilai memiliki keterkaitan dengan gerakan ekonomi desa adalah rencana pembentukan 88 ribu koperasi desa dan kelurahan.

“Salah satunya yang betul-betul berelasi walaupun agak ambisius, adalah program 88 ribu koperasi desa dan kelurahan,” ujar Aries yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Pokja Industri Pedesaan di Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) pada periode 2016–2019.

Program tersebut dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ekonomi desa, terutama jika didukung dengan pengembangan industri lokal dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Menjawab Tantangan Sumber Daya Manusia

Selain aspek ekonomi, kolaborasi antara Asprindo dan Desa Emas juga diharapkan mampu menjawab salah satu tantangan besar yang dihadapi Indonesia, yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Aries menilai bahwa pembangunan desa tidak hanya berbicara tentang infrastruktur atau investasi ekonomi, tetapi juga tentang peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha, memanfaatkan teknologi, dan mengembangkan potensi lokal.

Melalui program pelatihan, pendampingan usaha, serta akses jaringan pasar yang dimiliki Asprindo, masyarakat desa diharapkan dapat meningkatkan kapasitasnya sebagai pelaku usaha yang mandiri dan kompetitif.

Kolaborasi ini juga diharapkan mampu membuka peluang bagi lahirnya wirausahawan baru dari desa yang mampu membawa produk-produk lokal menembus pasar nasional bahkan internasional.

Dengan sinergi yang kuat antara organisasi pengusaha dan gerakan pembangunan desa, Asprindo dan Desa Emas optimistis bahwa ekonomi desa dapat menjadi fondasi utama dalam memperkuat perekonomian nasional di masa depan.

Bangun Ekonomi Lokal, ASPRINDO Siapkan Kampung Industri Kedua di Sukoharjo Berbasis Pertanian

Bangun Ekonomi Lokal, ASPRINDO Siapkan Kampung Industri Kedua di Sukoharjo Berbasis Pertanian

Sukoharjo, 18 Februari 2026 – Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekonomi lokal melalui program Kampung Industri. Setelah proyek pertama berfokus pada sektor perikanan, kini ASPRINDO mempersiapkan kampung industri kedua yang menyasar sektor pertanian di Kabupaten Sukoharjo.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang ASPRINDO dalam membangun kemandirian ekonomi desa berbasis potensi sumber daya lokal.

Empat Desa Jadi Embrio Kampung Industri Pertanian

Ketua Umum ASPRINDO, Jose Rizal, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan penandatanganan kerja sama dengan empat desa di Sukoharjo. Desa-desa tersebut akan menjadi embrio pengembangan Kampung Industri bidang pertanian.

“Baru kemarin, kami melakukan penandatanganan kerja sama dengan 4 desa di Sukoharjo yang akan menjadi embrio kampung industri bidang pertanian, masing-masing Desa Melur, Beluk, Kedungwaru, dan Banjarsari,” ujar Jose, Rabu (18/2/2026).

Dalam acara penandatanganan tersebut, turut hadir Kepala Dinas Pengembangan Masyarakat Desa Kabupaten Sukoharjo, Sigit Nugroho, yang mewakili Bupati Sukoharjo. Kehadiran pemerintah daerah menunjukkan dukungan terhadap program pemberdayaan ekonomi desa ini.

Empat desa tersebut dipilih karena dinilai memiliki potensi pertanian yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan terintegrasi.

 

Dimulai dari Desa Melur dengan Beras Organik

Sebagai langkah awal, pengembangan akan dimulai dari Desa Melur. Desa ini telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mengembangkan beras organik.

“Kami akan mulai dari Desa Melur dimana Bumdesnya sudah mengembangkan beras organik, yaitu beras yang tidak mengandung residu bahan kimia selama proses penanamannya. Kami menyebutnya beras sehat,” kata Jose.

Beras organik atau beras sehat ini diproduksi tanpa penggunaan residu bahan kimia dalam proses penanaman, sehingga memiliki nilai tambah dari sisi kesehatan dan kualitas. Produk ini diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas, baik regional maupun nasional.

Pengembangan pertanian berbasis organik juga sejalan dengan tren konsumen yang semakin sadar akan pentingnya pangan sehat dan ramah lingkungan.

Peran Strategis Pertanian bagi Kemandirian Pangan

Jose menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran yang sangat besar dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa. Tidak hanya itu, pertanian juga menjadi kunci dalam memastikan kemandirian dan swasembada pangan nasional.

“Indonesia ini memiliki sumber daya pangan, baik dari darat maupun laut yang berlimpah. Tapi, sayangnya hingga saat ini, Indonesia masih harus mengimpor beberapa produk pangan. Ini lah yang ingin diubah oleh Asprindo dalam proyeksi jangka panjang,” ujarnya.

Menurutnya, dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, desa-desa di Indonesia mampu menjadi pusat produksi pangan yang kuat dan berdaya saing.

Pendampingan Menyeluruh: Dari Produksi hingga Pemasaran

Dalam pengembangan Kampung Industri pertanian di Sukoharjo, ASPRINDO tidak hanya hadir sebagai mitra simbolis, tetapi akan memberikan pendampingan menyeluruh.

Pendampingan tersebut mencakup upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian, manajemen usaha, akses pemodalan, hingga pemasaran produk.

“Yang Asprindo inginkan adalah produk pertanian itu berkualitas, terserap oleh pasar, mampu menjangkau pasar yang lebih luas, dan yang paling penting, mampu menggerakkan perekonomian lokal. Artinya, kesejahteraan petani itu bisa terwujud,” jelas Jose.

Melalui jaringan pengusaha yang tergabung dalam ASPRINDO, produk pertanian desa diharapkan memiliki akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan. Dengan demikian, petani tidak lagi kesulitan dalam memasarkan hasil panennya.

Dampak pada Ekonomi Lokal

Program Kampung Industri dirancang untuk menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi ekonomi desa. Ketika hasil pertanian meningkat dan terserap pasar, maka pendapatan petani naik. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong aktivitas ekonomi lainnya di desa, seperti perdagangan, jasa, hingga usaha kecil.

Ekonomi desa yang bergerak aktif akan memperkuat struktur ekonomi lokal dari akar rumput. Hal ini juga membantu mengurangi ketergantungan masyarakat desa terhadap pekerjaan di luar daerah.

Rencana Jangka Panjang: Berbasis Potensi Wilayah

Jose menambahkan bahwa ke depan, ASPRINDO akan terus mengembangkan Kampung Industri di berbagai sektor lainnya, seperti peternakan, kelautan, dan ekonomi kreatif.

“Rencana jangka panjang Asprindo adalah membangun kampung industri di banyak wilayah Indonesia, yang berbasis pada potensi sumber daya masing-masing wilayah. Jadi setiap daerah nanti akan ada produk unggulannya. Jika membutuhkan produk dari wilayah lain, bisa dilakukan pertukaran produk atau transaksi ekonomi,” ujarnya.

Konsep ini menempatkan setiap daerah sebagai pusat keunggulan tertentu sesuai potensi lokalnya. Dengan demikian, antarwilayah dapat saling mendukung melalui pertukaran produk dan kerja sama ekonomi.

Mewujudkan Kesejahteraan dari Desa

Program Kampung Industri ASPRINDO di Sukoharjo menjadi langkah konkret dalam membangun ekonomi dari desa. Dengan fokus pada sektor pertanian, pendampingan yang komprehensif, serta dukungan pemerintah daerah, diharapkan program ini mampu menciptakan kesejahteraan nyata bagi petani dan masyarakat sekitar.

Melalui pendekatan berbasis potensi lokal dan jaringan pengusaha nasional, ASPRINDO berupaya mendorong desa-desa Indonesia menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.

ASPRINDO dan PBI Gerbang Massa Teken Kerja Sama, Perkuat Ekonomi Desa Lewat Program Kampung Industri

ASPRINDO dan PBI Gerbang Massa Teken Kerja Sama, Perkuat Ekonomi Desa Lewat Program Kampung Industri

Gunungkidul, Yogyakarta, 14 Februari 2026, Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan ekonomi nasional melalui langkah konkret di tingkat desa. Organisasi pengusaha ini resmi menandatangani kerja sama dengan Paguyuban BUMDES Indonesia (PBI), Gerakan Pembangunan Masyarakat Desa (Gerbang Massa).

Penandatanganan kerja sama dilakukan langsung oleh Ketua Umum ASPRINDO Jose Rizal bersama Ketua Umum PBI Gerbang Massa, Sariyanta, S.Pd., M.Pd., di Gunungkidul, Yogyakarta, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini turut dihadiri oleh pengurus PBI Gerbang Massa se-Jawa Tengah dan Yogyakarta, menandai dimulainya kolaborasi strategis antara sektor swasta dan entitas desa.

ASPRINDO menandatangani kerjasama dengan Paguyuban BUMDES Indonesia (PBI)- Gerakan Pembangunan Masyarakat Desa (Gerbang Massa) di Yogyakarta, Sabtu (14/2/2026) | Foto: Asprindo

Kolaborasi Nyata untuk Menggerakkan Ekonomi dari Desa

Ketua Umum ASPRINDO Jose Rizal menegaskan bahwa kerja sama ini akan memberikan dampak positif, khususnya bagi pelaku usaha desa. Menurutnya, kemitraan ini membuka peluang kolaborasi antara pelaku usaha desa dengan jaringan pengusaha ASPRINDO yang relatif lebih berpengalaman.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menggeliatkan dan memperkuat ekonomi masyarakat desa secara bertahap dan berkelanjutan.

“Hal tersebutlah yang ingin kami wujudkan dengan program Kampung Industri. Kami ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dimulai dari bawah ke atas. Pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada masyarakat sekitar dan para pelaku usaha lokal,” kata Jose kepada awak media, Senin (16/2/2026).

Program Kampung Industri menjadi salah satu strategi utama dalam membangun fondasi ekonomi dari akar rumput. Konsep ini menekankan bahwa desa bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek utama dalam menciptakan nilai tambah ekonomi.

BUMDes dan Pengusaha Jadi Motor Penggerak

Dalam kerja sama ini, kolaborasi antara ASPRINDO dan BUMDes memegang peran penting sebagai motor penggerak ekonomi desa. Sektor swasta dan entitas desa akan bekerja bersama untuk memperkuat struktur ekonomi dari akar rumput.

“Di mana sektor swasta/pengusaha dan entitas desa berkolaborasi untuk memperkuat struktur ekonomi dari akar rumput,” ujar Jose.

Sinergi ini penting karena BUMDes memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat desa dan memahami potensi lokal, sementara pengusaha dalam jaringan ASPRINDO memiliki pengalaman, akses pasar, serta jejaring industri yang lebih luas. Kombinasi keduanya diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi desa yang lebih kokoh dan kompetitif.

Fokus pada Transfer Knowledge dan Tata Kelola Profesional

Dalam kemitraan tersebut, terdapat beberapa poin penting yang telah disepakati. Salah satunya adalah mewujudkan transfer knowledge dan alih teknologi melalui pendampingan manajerial.

Pendampingan ini bertujuan agar pengelolaan BUMDes menjadi lebih profesional, kompetitif, dan memiliki tata kelola (governance) yang baik. Dengan manajemen yang lebih tertata, BUMDes diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, transparansi, serta daya saing usaha desa.

Langkah ini menjadi krusial karena penguatan kapasitas sumber daya manusia dan tata kelola adalah fondasi utama dalam membangun usaha yang berkelanjutan.

Pemberdayaan UMKM dan Integrasi ke Rantai Pasok Industri

Selain penguatan manajerial, kerja sama ini juga menitikberatkan pada pemberdayaan UMKM desa. ASPRINDO berkomitmen untuk menyerap produk unggulan desa (produk lokal) ke dalam rantai pasok industri yang tergabung dalam jaringannya.

“Kita akan fokus pada pemberdayaan UMKM dan penyerapan produk unggulan Desa (produk lokal) ke dalam rantai pasok industri yang tergabung dalam jaringan ASPRINDO sehingga dapat memberikan nilai tambah ekonomi masyarakat di Desa,” ujar Jose.

Integrasi ke dalam rantai pasok industri akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi produk desa. Produk yang sebelumnya hanya beredar di pasar lokal berpeluang masuk ke pasar yang lebih luas dengan standar kualitas yang lebih baik.

ASPRINDO menandatangani kerjasama dengan Paguyuban BUMDES Indonesia (PBI)- Gerakan Pembangunan Masyarakat Desa (Gerbang Massa) di Yogyakarta, Sabtu (14/2/2026) | Foto: Asprindo

Akses Pasar, Digitalisasi, dan Off taker

Kerja sama ini juga mencakup perluasan akses pasar dan digitalisasi. Melalui jejaring pengusaha ASPRINDO, layanan dan pemasaran BUMDes diharapkan mampu menjangkau pasar nasional bahkan global atau ekspor.

ASPRINDO juga akan menghadirkan offtaker sebagai jembatan antara produk desa dengan pasar modern. Kehadiran offtaker ini penting untuk memastikan keberlanjutan penyerapan produk serta terciptanya pasar yang kompetitif.

Dengan digitalisasi, BUMDes dan UMKM desa dapat memanfaatkan platform pemasaran modern, memperluas jangkauan konsumen, serta meningkatkan efisiensi distribusi.

Investasi Inklusif untuk Desa

Tidak hanya fokus pada produksi dan pemasaran, ASPRINDO juga membuka peluang investasi inklusif di desa. Investasi ini diarahkan pada proyek yang berkelanjutan dan berorientasi pada penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

“Kami juga membuka investasi inklusif, yaitu peluang investasi di desa yang berkelanjutan dan berorientasi pada penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat,” kata Jose.

Pendekatan investasi inklusif memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi desa tidak hanya dinikmati oleh investor, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar melalui penciptaan pekerjaan dan peningkatan pendapatan.

Membangun Ekosistem Ekonomi Kerakyatan

Jose berharap penandatanganan kerja sama ini bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi titik awal kerja nyata dalam membangun ekonomi dari pinggiran sesuai visi ASPRINDO untuk mewujudkan Indonesia kaya.

“Dengan membangun ekonomi desa, akan terbangun juga ekosistem ekonomi yang kuat, yang berbasis kerakyatan dan pengusaha lokal,” pungkasnya.

Kolaborasi antara ASPRINDO dan PBI Gerbang Massa ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekonomi desa melalui kemitraan, pemberdayaan, dan investasi. Dengan sinergi yang terstruktur dan berkelanjutan, desa diharapkan mampu menjadi fondasi kokoh bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berbasis kerakyatan.

Awal 2026, Program Kampung Industri Asprindo Terus Berkembang dan Buka Peluang Pengusaha Mikro Go Internasional

Awal 2026, Program Kampung Industri Asprindo Terus Berkembang dan Buka Peluang Pengusaha Mikro Go Internasional

Jakarta – Memasuki awal tahun 2026, Program Kampung Industri yang digagas Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) bukan lagi sekadar wacana. Kini telah menunjukkan geliat nyata di berbagai daerah dan terus dikembangkan sebagai model pemberdayaan ekonomi berbasis akar rumput.

Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal, sebelumnya menyampaikan bahwa Kampung Industri diharapkan dapat menjadi program nasional yang mendukung pemerintah dalam membangun ketahanan pangan dan memperkuat ekonomi daerah.

“Harapan kami, ke depan, Kampung Industri bisa menjadi program nasional yang mendukung pemerintah dalam upaya membangun ketahanan pangan,” ujar Jose dalam keterangan tertulisnya pada 26 Januari 2025.

Memasuki 2026, komitmen tersebut terus dijalankan melalui sinergi aktif antara Asprindo, pemerintah pusat dan daerah, serta kalangan akademisi.

Sinergi dengan Pemerintah dan Kementerian Teknis

Sejak tahap awal, Asprindo telah melakukan audiensi dengan berbagai kementerian di tingkat pusat guna memperoleh dukungan kebijakan dan koordinasi program. Di antaranya dengan Menteri PPN/Bappenas, Menteri Kelautan dan Perikanan, serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT).

Langkah ini menunjukkan bahwa Kampung Industri dirancang selaras dengan agenda pembangunan nasional, terutama dalam hal ketahanan pangan, penguatan ekonomi desa, dan pengentasan kemiskinan.

Tidak berhenti di situ, Asprindo juga terus mengupayakan dukungan dari kementerian teknis lainnya serta pemerintah daerah agar implementasi program dapat berjalan sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing wilayah.

Dengan dukungan lintas sektor, Kampung Industri tidak hanya menjadi program internal organisasi, tetapi menjadi gerakan kolaboratif yang membuka ruang partisipasi luas bagi pelaku usaha lokal.

Dukungan Akademisi dan Tenaga Ahli

Untuk memastikan program berjalan profesional dan berbasis kajian ilmiah, Asprindo juga menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi. Ketua Dewan Pakar Asprindo, Prof. Didin S. Damanhuri, yang juga Guru Besar IPB, telah menyiapkan tim pakar dari IPB untuk mengawal dan memberikan pendampingan dalam pelaksanaan Kampung Industri.

Kolaborasi ini menjadi salah satu kekuatan utama program, karena tidak hanya mengandalkan semangat kewirausahaan, tetapi juga dukungan tenaga ahli, riset, serta pendekatan manajerial yang terukur.

Dengan demikian, Kampung Industri tidak dijalankan secara sporadis, melainkan dirancang sebagai ekosistem usaha yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Berbasis Akar Rumput dan UMKM

Jose menegaskan bahwa Kampung Industri merupakan alternatif solusi berbasis akar rumput. Program ini diarahkan untuk memperkuat bisnis rumahan dan UMKM yang dikelola mayoritas masyarakat setempat.

“Karena berbasis akar rumput, Kampung Industri merupakan alternatif solusi bagi pemerintah, baik untuk ketahanan pangan maupun untuk pengentasan kemiskinan. Kami harus menjalankan ini kalau mau besar dan kompetitif. Karena selama ini pengusaha pribumi umumnya pengusaha kecil,” papar Jose.

 

Kampung Industri dirancang sebagai kawasan perkampungan yang menjadikan usaha rumahan dan UMKM sebagai fondasi utama. Melalui pendekatan ini, pengusaha kecil tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi berada dalam ekosistem usaha yang saling terhubung.

Setiap wilayah diarahkan untuk mengembangkan produk unggulan sesuai potensi lokalnya, sehingga memiliki identitas ekonomi yang jelas dan berdaya saing.

Konsep Ekosistem dan Gotong Royong

Kunci dari Kampung Industri, menurut Jose, terletak pada penguatan produk unggulan daerah, semangat gotong royong dalam pengadaan sumber daya, serta pengelolaan usaha secara profesional.

“Kunci Kampung Industri adalah produk unggulan setiap wilayah, gotong royong dalam pengadaan sumber daya, dioperasikan secara profesional, dengan kemanfaatan win-win di antara seluruh elemen yang terlibat,” ungkapnya.

Artinya, Kampung Industri bukan hanya tentang produksi, tetapi tentang membangun rantai nilai yang terintegrasi mulai dari bahan baku, proses produksi, manajemen, hingga pemasaran.

Melalui jaringan anggota Asprindo di berbagai wilayah, pelaku usaha mikro dan kecil juga memiliki peluang memperluas akses pasar, termasuk membuka jalan menuju pasar nasional bahkan internasional.

Bukan Program Baru, Tapi Gerakan Berkelanjutan

Memasuki 2026, Kampung Industri bukan lagi sekadar konsep yang baru digembor-gemborkan. Program ini telah berjalan dan terus diperluas melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

Asprindo membuka kesempatan bagi pengusaha mikro, kecil, dan menengah di seluruh Indonesia untuk bergabung dan menjadi bagian dari ekosistem Kampung Industri. Dengan bergabung, pelaku usaha dapat memperoleh pendampingan, akses jejaring, serta peluang kolaborasi lintas daerah.

Bagi pengusaha yang ingin meningkatkan kapasitas usaha dan membawa produk lokal menembus pasar yang lebih luas, termasuk internasional, Kampung Industri menjadi salah satu jalur strategis.

Ayo Bergabung dan Majukan Daerah Bersama Asprindo

Asprindo mengajak para pengusaha Bumiputera, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil, untuk bergabung melalui cabang atau DPW terdekat di wilayah masing-masing.

Dengan semangat kolaborasi, profesionalisme, dan gotong royong, Kampung Industri diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, mengurangi kemiskinan, serta mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha lokal yang mampu bersaing di tingkat global.

Bersama Asprindo, saatnya pengusaha mikro tidak hanya bertahan, tetapi naik kelas dan membawa produk daerah menuju panggung nasional dan internasional.

Prof. Didin S. Damanhuri: Strategi Ekonomi Nasional Harus Diuji di Tengah Tantangan Serius

Prof. Didin S. Damanhuri: Strategi Ekonomi Nasional Harus Diuji di Tengah Tantangan Serius

Jakarta, 24 Januari 2026 – Paparan strategi ekonomi yang disampaikan Presiden Prabowo di ajang World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss, dinilai sebagai sebuah tesis besar untuk memperbaiki arah ekonomi Indonesia. Namun, menurut Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) sekaligus Guru Besar IPB Bogor, Prof. Didin S. Damanhuri, tesis tersebut tetap perlu diuji secara konseptual dan faktual agar benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Prof. Didin menyampaikan pandangan tersebut pada Sabtu, 24 Januari 2026. Ia menilai publik patut memberikan apresiasi atas keberanian Presiden berbicara di hadapan forum ekonomi global yang dihadiri puluhan kepala negara, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta ribuan CEO perusahaan internasional. Kehadiran Indonesia di panggung global tersebut merupakan kebanggaan tersendiri dalam diplomasi ekonomi.

Tesis Ekonomi di Panggung Dunia

Menurut Prof. Didin, inti pidato Presiden di Davos adalah pemaparan platform pembangunan ekonomi nasional yang kerap disebut sebagai “Prabowonomics”. Platform ini mengedepankan stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan pemerataan sebagai satu kesatuan.

Namun, ia menegaskan bahwa stabilitas dan persatuan saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kemajuan ekonomi yang nyata dan merata. Tantangan terbesar justru terletak pada delivery mechanism atau mekanisme implementasi di lapangan.

Sejumlah program unggulan, menurutnya, menyedot anggaran dalam jumlah besar. Dampaknya, terjadi pemotongan pada berbagai pos penting seperti anggaran pendidikan, anggaran daerah, dana desa, hingga dana yang tersimpan di bank-bank Himbara. Pemerintah dan lembaga negara pun dipaksa melakukan efisiensi besar-besaran.

Minim Pelibatan UMKM dan Koperasi

Prof. Didin menyoroti bahwa program-program strategis tersebut belum melibatkan usaha rakyat secara luas, terutama UMKM dan koperasi yang seharusnya menjadi tulang punggung pemerataan ekonomi.

Dalam praktiknya, yang lebih dominan dilibatkan adalah yayasan-yayasan tertentu, aparat negara seperti Polri dan TNI, serta partai-partai politik. Bahkan, ia mencatat bahwa partai Presiden memperoleh porsi terbesar dalam berbagai inisiatif tersebut.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, dinilai lebih banyak menyentuh wilayah perkotaan. Sementara wilayah pedesaan yang mencakup sebagian besar wilayah nasional masih belum terjangkau secara optimal. Akibatnya, program tersebut belum memberikan efek pertumbuhan ekonomi yang menyeluruh dan signifikan.

Hal serupa terjadi pada program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang menggunakan dana desa dan dana perbankan Himbara. Prof. Didin menilai program ini dijalankan tanpa persiapan memadai agar benar-benar berfungsi sebagai entitas bisnis yang sehat dan berjiwa koperasi. Bahkan dalam upaya swasembada pangan, peran petani sebagai aktor utama justru kurang dilibatkan.

Trilogi Ekonomi dan Peran Danantara

Dalam paparannya, Prof. Didin menyebut bahwa apa yang disampaikan Presiden di Davos bercampur antara fakta dan cita-cita. Trilogi ekonomi yang ditawarkan masih menghadapi persoalan besar pada tahap aplikasi.

Salah satu pilar utama trilogi tersebut adalah peran Danantara sebagai pengelola dana investasi nasional senilai sekitar Rp 16.000 triliun. Lembaga ini dirancang menyerupai Temasek di Singapura. Namun, Prof. Didin mempertanyakan kelayakan perbandingan tersebut, mengingat Danantara baru berjalan sekitar satu tahun, sedangkan Temasek telah beroperasi selama puluhan tahun.

Trilogi ekonomi ini juga bertumpu pada stabilitas nasional melalui peran TNI dan Polri, serta ambisi pertumbuhan ekonomi tinggi yang disertai pemerataan. Konsep tersebut diharapkan mampu membawa Indonesia menjadi negara maju, demokratis, dan berkeadilan.

Namun, menurut Prof. Didin, dalam satu tahun pemerintahan, platform ideal tersebut belum sepenuhnya didukung program unggulan yang konkret, terutama dalam hal pemerataan pertumbuhan ekonomi.

Beban Utang dan Tantangan Fiskal

Masalah implementasi diperparah oleh keterbatasan fiskal. Program-program besar seperti MBG dan KDMP kembali menghadapi kendala pelaksanaan akibat tekanan anggaran.

Di sisi lain, pembiayaan program dilakukan dengan peningkatan utang luar negeri. Pada tahun berjalan, pemerintah mencairkan utang sekitar Rp 826 triliun. Pertumbuhan ekonomi yang diklaim di atas 6 persen dalam kenyataannya mendekati 5 persen.

Utang luar negeri pemerintah mendekati Rp 10.000 triliun. Jika ditambah dengan utang swasta sekitar Rp 3.250 triliun dan utang BUMN sekitar Rp 9.000 triliun, total beban utang nasional menembus lebih dari Rp 22 kuadriliun. Kondisi ini tentu memberi tekanan berat pada APBN.

Situasi semakin kompleks dengan ketegangan geopolitik global, konflik internasional, dan perang dagang berkepanjangan. Nilai tukar rupiah sempat menembus Rp 17.000 per dolar AS. Data yang disebut Prof. Didin menunjukkan bahwa kredit untuk UMKM justru menurun, sementara kredit untuk korporasi besar meningkat signifikan.

Jika kondisi ini berlanjut, ia mengingatkan potensi krisis keuangan yang menyerupai BLBI jilid dua.

Tantangan Membuktikan Implementasi

Menurut Prof. Didin, tantangan utama bagi Presiden Prabowo adalah membuktikan bahwa strategi ekonomi yang dipaparkan di Forum Ekonomi Dunia bukan sekadar retorika. Ia menyarankan agar dilakukan penyusunan kerangka akademik yang kuat dan dapat diimplementasikan secara konsisten.

Tanpa perbaikan nyata pada mekanisme pelaksanaan, Prabowonomics dan trilogi ekonomi yang ditawarkan berisiko menghadapi persoalan serius ke depan.

Bagi ASPRINDO, kajian kritis seperti ini penting sebagai bagian dari kontribusi intelektual dalam menjaga arah pembangunan ekonomi nasional tetap berpihak pada kesejahteraan rakyat dan pemerataan yang berkeadilan.

Momentum Lima Tahun Penentu Pengusaha Bumiputera, Pesan Ketua Umum ASPRINDO Masih Relevan di 2026

Momentum Lima Tahun Penentu Pengusaha Bumiputera, Pesan Ketua Umum ASPRINDO Masih Relevan di 2026

Jakarta – Memasuki awal tahun 2026, pesan yang disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO), Jose Rizal, saat pelantikan DPW ASPRINDO Sulawesi Tengah pada Juni 2025 lalu, justru semakin terasa relevan.

Kala itu, dalam pelantikan yang digelar di Swiss-Belhotel Palu pada 27 Juni 2025, Jose menegaskan bahwa tahun tersebut hingga lima tahun ke depan merupakan periode yang sangat menentukan bagi kiprah pengusaha Bumiputera di Indonesia. Pernyataan itu bukan sekadar retorika seremonial, melainkan refleksi atas dinamika politik dan ekonomi nasional yang terus berkembang hingga hari ini.

Lima Tahun Penentu bagi Pengusaha Lokal

Menurut Jose Rizal, perubahan dinamika politik yang berkelindan dengan isu hegemoni antara oknum penguasa dan pengusaha membuka peluang baru bagi pengusaha pribumi untuk “merebut panggung”.

Memasuki 2026, dinamika tersebut masih terasa. Isu oligarki yang menguat dalam beberapa tahun terakhir bukan hanya menyoal dugaan persengkokolan antara oknum penguasa dan pengusaha besar, tetapi juga memunculkan berbagai persoalan turunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di akar rumput.

“Soal isu sumber daya alam yang dikeruk oleh pengusaha pendatang, soal ketenagakerjaan, dan hal-hal lainnya yang seluruhnya menempatkan masyarakat setempat sekadar sebagai penonton,” terang Jose saat itu.

Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan yang hingga kini masih menjadi perbincangan publik, khususnya di daerah-daerah kaya sumber daya alam.

Sulawesi Tengah dan Potensi Besarnya

Dalam konteks Sulawesi Tengah, pesan tersebut memiliki bobot yang sangat besar. Provinsi ini dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari tambang nikel, emas, tembaga, hingga bauksit.

Jose menekankan bahwa pengusaha yang terhimpun dalam ASPRINDO, khususnya di Sulawesi Tengah, tidak boleh hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Momentum yang terbuka harus dimanfaatkan secara maksimal.

Ia bahkan menyampaikan bahwa jika dalam lima tahun ke depan pengusaha lokal tidak mampu menjadi bagian dari industri di wilayahnya, maka peluang itu bisa hilang untuk waktu yang sangat lama.

Pesan tersebut kini menjadi pengingat penting di tahun 2026. Di tengah derasnya arus investasi dan ekspansi industri berbasis sumber daya alam, pengusaha lokal dituntut untuk lebih proaktif, terorganisir, dan memiliki keberanian mengambil peran strategis.

Perlunya Dukungan dan Keberpihakan Politik

Namun, Jose juga menyadari bahwa pengusaha lokal pada umumnya tidak memiliki kekuatan untuk berhadapan secara langsung (“head to head”) dengan perusahaan besar atau investor asing.

Karena itu, ia menekankan pentingnya dukungan politik dan keberpihakan pemerintah terhadap pengusaha Bumiputera.

“Pemerintah juga mestinya memanfaatkan momentum ini untuk menciptakan antitesis dari kebijakan ekonomi sebelumnya. Saatnya pemerintah menunjukkan kesungguhan dan keberpihakan pada pengusaha Bumiputera, dan membuktikan bahwa mereka tidak sedang bekerja untuk oligarki,” ungkap Jose.

Pernyataan ini menjadi relevan dalam konteks kebijakan ekonomi nasional yang terus bergerak menuju pemerataan dan penguatan ekonomi lokal. Dukungan regulasi, kemudahan akses permodalan, serta kebijakan afirmatif dinilai menjadi faktor kunci agar pengusaha lokal mampu naik kelas.

Bukan Anti Investor, Tapi Ingin Keadilan

Jose juga menegaskan bahwa ASPRINDO tidak memusuhi pengusaha asing maupun pengusaha besar. Ia memahami bahwa pemerintah daerah tetap membutuhkan investor untuk menggerakkan roda pembangunan.

Namun, yang menjadi harapan adalah agar kehadiran investor tidak mengesampingkan pengusaha lokal.

“Tapi saya ingin mereka tidak meninggalkan pengusaha lokal. Saya memimpikan pemilik tambang di sini bukan hanya perusahaan asing atau pengusaha-pengusaha kakap dari Jakarta. Pengusaha lokal juga harus menjadi pemilik tambang. Atau minimal anggota Asprindo diajak bekerjasama dengan perusahaan pendatang,” tegasnya.

Konsep kolaborasi ini menjadi jalan tengah antara kebutuhan investasi dan pemberdayaan pengusaha daerah. Dengan pola kemitraan yang adil, pengusaha lokal dapat memperoleh transfer pengetahuan, pengalaman, serta peluang kepemilikan yang lebih besar.

Pelantikan DPW Sulteng dan Kepemimpinan Baru

Pada kesempatan pelantikan tersebut, yang turut dihadiri Ketua Dewan Pembina ASPRINDO Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, Jose Rizal secara resmi melantik Shisy Usharnaningsih sebagai Ketua DPW ASPRINDO Sulawesi Tengah periode 2025–2030.

Kepengurusan baru ini diharapkan menjadi motor penggerak penguatan pengusaha Bumiputera di Sulawesi Tengah, terutama dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam secara lebih inklusif.

Relevansi di Tahun 2026

Kini, di awal 2026, pesan yang disampaikan pada Juni 2025 itu masih sangat aktual. Lima tahun yang disebut sebagai periode penentu masih berjalan, dan peluang untuk “merebut panggung” masih terbuka.

Tantangannya adalah bagaimana pengusaha Bumiputera mampu bersatu, memperkuat organisasi, serta membangun jejaring yang solid dengan pemerintah dan investor.

Bagi ASPRINDO, momentum ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal kedaulatan dan keadilan. Pengusaha lokal diharapkan tidak lagi menjadi penonton di wilayahnya sendiri, melainkan menjadi pelaku utama dalam pembangunan daerah.

Dengan semangat tersebut, pesan Ketua Umum ASPRINDO di Palu pada 27 Juni 2025 menjadi pengingat bahwa perjuangan pengusaha Bumiputera bukan sekadar agenda tahunan, melainkan misi jangka panjang yang menentukan masa depan ekonomi bangsa.

Asprindo Gelar Zikir dan Doa Bersama Sambut Tahun 2026, Kirim Doa untuk Korban Bencana di Sumatera

Asprindo Gelar Zikir dan Doa Bersama Sambut Tahun 2026, Kirim Doa untuk Korban Bencana di Sumatera

Jakarta, 1 Januari 2026 – Mengawali tahun baru dengan refleksi dan kepedulian sosial, Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) menggelar zikir dan doa bersama di Graha Jorindo, Jalan Poltangan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (1/1). Kegiatan ini tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga momentum spiritual untuk mendoakan korban bencana di Sumatera, khususnya Aceh, yang dilaporkan telah merenggut lebih dari seribu nyawa akibat banjir bandang.

Doa yang dipanjatkan tidak hanya untuk keselamatan dan pemulihan masyarakat terdampak, tetapi juga untuk kebangkitan ekonomi daerah yang mengalami kerusakan akibat bencana ekologis tersebut.

Agenda Tahunan Penuh Makna

Sekretaris Jenderal Asprindo, Ana Mustamin, menjelaskan bahwa kegiatan zikir dan doa bersama merupakan agenda rutin yang digagas oleh Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal. Tradisi ini menjadi bagian dari komitmen organisasi dalam memadukan nilai spiritual dan tanggung jawab sosial di tengah dinamika ekonomi nasional.

“Acara utamanya memang doa dan zikir. Hiburan digelar agar keluarga besar Jorindo Group, relasi, sahabat, dan masyarakat sekitar bisa bersilaturahmi dan bergembira bersama,” ujar Ana.

Selain doa bersama, kegiatan ini juga diisi dengan hiburan sederhana sebagai wadah silaturahmi antara pekerja Jorindo Group, keluarga besar Asprindo, para anggota, mitra usaha, sahabat organisasi, serta masyarakat sekitar. Kebersamaan ini diharapkan menjadi awal yang positif dalam menyongsong tahun 2026.

Doa untuk Pemulihan Pascabencana

Dalam suasana penuh kekhusyukan, doa khusus dipanjatkan untuk masyarakat Sumatera yang terdampak bencana, terutama di Aceh. Banjir bandang yang terjadi di wilayah tersebut dilaporkan telah menelan lebih dari seribu korban jiwa. Selain kerugian jiwa, kerusakan infrastruktur dan sektor ekonomi lokal juga menjadi tantangan besar bagi proses pemulihan.

Suasana doa dan zikir bersama yang dilaksanakan oleh Asprindo di Graha Jorindo, Jakarta Selatan, Rabu (31/12/2025).

Asprindo menilai bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga kebijakan jangka panjang yang mampu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan UMKM yang terdampak langsung.

Momentum pergantian tahun ini, menurut Ana, harus menjadi titik refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam membangun ekonomi yang tangguh dan berkeadilan.

Harapan terhadap Kebijakan Ekonomi 2026

Ana Mustamin juga menyoroti kondisi perekonomian nasional di awal tahun 2026, terutama setelah dampak bencana ekologis di tiga provinsi di Sumatera. Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah strategis yang benar-benar selaras antara target dan implementasi di lapangan.

“Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen. Namun, saya belum melihat kesesuaian antara yang diucapkan dan yang dilakukan di lapangan. Saya menaruh harapan besar kepada Menteri Keuangan Purbaya agar menyusun kebijakan dan program yang lebih memihak masyarakat kecil serta pelaku UMKM,” katanya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan berarti banyak jika tidak disertai peningkatan daya beli masyarakat dan perluasan kesempatan kerja.

Pembangunan Harus Libatkan Pengusaha Lokal

Ana menegaskan bahwa pembangunan akan berdampak optimal jika dimulai dengan melibatkan masyarakat menengah ke bawah dan pengusaha lokal skala kecil. Hal ini penting untuk membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan sekaligus menciptakan lapangan kerja berkualitas.

“Jika hanya melibatkan pelaku usaha besar atau berdampak pada segelintir orang, ekonomi memang bisa tercatat meningkat, tetapi daya beli masyarakat tetap lemah,” ujarnya.

Asprindo secara konsisten mendorong model pembangunan ekonomi kerakyatan, di mana UMKM dan pengusaha lokal menjadi bagian utama dalam rantai produksi dan distribusi. Dengan pendekatan ini, manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata.

Pentingnya Pembangunan Berbasis Sains dan Lingkungan

Selain aspek ekonomi, Ana juga menekankan pentingnya perencanaan pembangunan yang berbasis kajian ilmiah dan memperhatikan aspek lingkungan. Menurutnya, bencana ekologis yang terjadi menjadi pengingat bahwa pembangunan yang mengabaikan keseimbangan alam dapat menimbulkan dampak serius bagi masyarakat.

“Pengusaha harus berinovasi, namun pemerintah wajib menciptakan ekosistem ekonomi kerakyatan agar manfaat pertumbuhan dirasakan seluruh rakyat secara berkeadilan,” pungkasnya.

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang sehat harus sejalan dengan pelestarian lingkungan, agar tidak memicu kerusakan ekosistem yang berujung pada bencana.

Awal Tahun dengan Refleksi dan Komitmen

Kegiatan zikir dan doa bersama ini menjadi simbol bahwa dunia usaha tidak hanya berbicara tentang angka dan pertumbuhan, tetapi juga tentang empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.

Asprindo berharap tahun 2026 menjadi tahun kebangkitan ekonomi yang lebih inklusif, di mana kebijakan fiskal dan pembangunan benar-benar menyentuh masyarakat kecil, memperkuat UMKM, serta menciptakan lapangan kerja yang luas dan berkualitas.

Dengan semangat kebersamaan di awal tahun, Asprindo menegaskan komitmennya untuk terus mendorong ekonomi kerakyatan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada pengusaha Bumiputera serta masyarakat luas.

ASPRINDO

Follow Sosial Media ASPRINDO

Design Website by Lafasy Digital