Asprindo Dorong Generasi Muda Jadi Wirausaha melalui Pendidikan Kewirausahaan di SMK

Asprindo Dorong Generasi Muda Jadi Wirausaha melalui Pendidikan Kewirausahaan di SMK

Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) terus mendorong penguatan jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pendidikan kewirausahaan sejak bangku sekolah, dengan membekali siswa keterampilan yang dapat menjadi modal untuk membangun usaha setelah menyelesaikan pendidikan.

Gagasan tersebut dijalankan oleh Wakil Ketua Departemen Pengembangan UMKM, Koperasi dan Wirausaha Asprindo, Risma Sitorus, saat masih memimpin SMK Citra Nusantara. Keprihatinan terhadap banyaknya lulusan SMK yang mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan menjadi salah satu alasan Risma memasukkan mata pelajaran kewirausahaan ke dalam kurikulum sekolah.

Menurut Risma, pendidikan kewirausahaan tidak hanya bertujuan mengajarkan siswa membuat sebuah produk. Lebih dari itu, para siswa diarahkan agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sumber penghasilan secara mandiri, bahkan membuka kesempatan kerja bagi orang lain.

Membekali Siswa dengan Keterampilan Selama Tiga Tahun

Dalam proses pembelajaran, siswa mendapatkan pengajaran dan pendampingan selama tiga tahun masa pendidikan. Materi praktik memanfaatkan berbagai bahan baku yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti kayu, bambu, rotan, dan purun.

Pendekatan tersebut membuat kegiatan belajar kewirausahaan tidak berhenti pada teori. Siswa dapat mengenal secara langsung bagaimana bahan yang tersedia di daerah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

“Kami memberikan pengajaran dan pendampingan sejak mereka bersekolah selama 3 tahun. Harapanya, begitu mereka lulus, mereka bisa menggunakan keahlian itu, bukan hanya untuk mereka sendiri, tapi bisa membuka peluang kerja bagi orang lain,” kata Risma pada Senin, 3 Agustus 2026.

Selain keterampilan teknis, Risma juga menilai pentingnya membangun kepercayaan diri siswa. Mereka perlu diyakinkan bahwa keterampilan yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.

Menumbuhkan Keyakinan bahwa UMKM Punya Masa Depan

Menurut Risma, salah satu tantangan terbesar dalam membangun generasi wirausaha bukan hanya mengajarkan cara membuat produk, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa dunia usaha memiliki prospek untuk masa depan.

Karena itu, siswa didorong untuk mengenali jenis usaha yang sesuai dengan minat generasi muda. Pendekatan ini penting agar kewirausahaan tidak dianggap sebagai pilihan ketika seseorang gagal memperoleh pekerjaan, tetapi sebagai salah satu pilihan karier yang dapat dikembangkan secara serius.

Wakil Ketua Departemen Pengembangan UMKM Koperasi dan Wirausaha Asprindo, Risma Sitorus memasukkan mata pelajaran kewirausahaan ke kurikulum sekolah.(doc: ist)

“Kami selalu memupuk keyakinan anak-anak, bahwa UMKM atau wirausaha itu punya masa depan,” ungkap Risma.

Harapannya, lulusan sekolah tidak hanya bergantung pada kesempatan kerja yang tersedia, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang ekonomi sendiri.

Produk Siswa Tidak Hanya Kerajinan Tangan

Program kewirausahaan yang dikembangkan Risma juga mencakup berbagai jenis produk. Selain kerajinan tangan, siswa turut diarahkan untuk mengembangkan produk kuliner.

Pendampingan dilakukan secara lebih menyeluruh, mulai dari pengembangan produk hingga desain kemasan dan pemasaran. Kemasan menjadi salah satu bagian penting karena dapat memengaruhi daya tarik sebuah produk ketika ditawarkan kepada konsumen.

“Produk yang dihasilkan itu tidak hanya kerajinan tangan. Ada juga kuliner. Jadi, kami bukan hanya bicara mengenai model produk, tapi juga membantu dalam proses desain kemasan. Yang menarik, unik, dan diminati pasar,” jelas Risma.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya belajar menghasilkan barang, tetapi juga mulai memahami bagaimana sebuah produk dapat memiliki nilai jual dan diterima pasar.

Asprindo Berikan Pendampingan dan Akses Promosi

Dalam perjalanan mengembangkan kegiatan kewirausahaan tersebut, Risma menyebut Asprindo turut memberikan dukungan melalui berbagai bentuk pendampingan. Salah satunya berupa pelatihan pengolahan mangrove di daerah Keronjo.

Mangrove kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku kuliner. Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal, juga disebut beberapa kali mengunjungi galeri yang dikembangkan Risma.

Dukungan Asprindo juga dilakukan dengan memberikan informasi dan peluang bagi produk untuk mengikuti berbagai pameran. Pameran menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan karya para pelaku usaha kepada pasar yang lebih luas.

Bahkan ketika Risma berkunjung ke Belanda, Jose Rizal memberikan rekomendasi untuk bertemu dengan perwakilan Asprindo Belanda. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya membuka jaringan dan peluang pemasaran yang lebih luas.

Koperasi Citra Nusantara Maju Punya 198 Anggota

Untuk mendukung pemasaran produk, Risma juga membangun Koperasi Citra Nusantara Maju pada 2011. Hingga saat ini, koperasi tersebut telah memiliki 198 anggota dan sebagian besar di antaranya memiliki karya atau produk yang dapat dikembangkan.

Keberadaan koperasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun wadah bersama bagi pelaku usaha agar produk yang dihasilkan tidak berhenti pada skala individu, tetapi dapat dikembangkan melalui jaringan yang lebih terorganisasi.

Risma berharap masyarakat Indonesia semakin terbiasa memilih, membeli, dan menggunakan produk UMKM karya anak bangsa. Menurutnya, dukungan terhadap produk lokal dapat dimulai dari keputusan masyarakat sendiri sebagai konsumen.

Ia juga berharap Asprindo terus berkembang dalam memberikan dukungan kepada pelaku UMKM lokal agar mampu naik kelas dan memiliki daya saing hingga skala global.

Melalui pendidikan kewirausahaan, pendampingan, pengembangan produk, hingga pembukaan akses pasar, upaya tersebut diharapkan dapat membantu mencetak generasi muda yang tidak hanya siap mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru.

Prof Didin Sebut Presiden Prabowo Sedang Membangun Fondasi Ekonomi Rakyat

Prof Didin Sebut Presiden Prabowo Sedang Membangun Fondasi Ekonomi Rakyat

JAKARTA – Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Pribumi Nusantara Indonesia (ASPRINDO), Prof. Didin S. Damanhuri, menilai masyarakat, khususnya kalangan pengusaha, tidak perlu alergi terhadap istilah “pribumi”. Menurutnya, pembahasan mengenai pengusaha pribumi perlu ditempatkan dalam konteks penguatan kemampuan usaha agar mampu berkembang dan memiliki daya saing.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Didin pada Kamis (30/7/2026). Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya membawa kembali perhatian terhadap ekonomi kerakyatan, termasuk penguatan pengusaha kecil dan lokal.

Menurut Prof. Didin, istilah “pribumi” memiliki sejarah dalam perjalanan kebijakan Indonesia. Ia menyebut adanya regulasi pada 1998 yang menghentikan penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Secara resmi, hal tersebut memang dituangkan dalam Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non Pribumi. 

“Ada sejarahnya terkait kata pribumi. Mungkin waktu itu, ada perbedaan pandangan antara Presiden Soeharto dengan Benny Moerdani, yang saat itu adalah Panglima ABRI, yang tidak terlalu suka dengan istilah itu. Ada semacam regulasi, untuk tidak lagi dibolehkan memakai istilah pribumi. Pelarangan istilah ini secara resmi pada tahun 1998, ditujukan untuk penyelenggaraan layanan pemerintah,” kata Prof. Didin.

Pengusaha Pribumi Perlu Membangun Daya Saing

Prof. Didin mengatakan, tantangan pengusaha saat ini bukan sekadar mengenai istilah, melainkan bagaimana pelaku usaha Indonesia mampu meningkatkan kapasitas bisnisnya.

Ia mendorong para pengusaha untuk mendobrak anggapan lama mengenai keterbatasan pengusaha pribumi dan berupaya membangun usaha yang memiliki kemampuan bersaing dengan perusahaan asing.

Menurutnya, penguatan kapasitas pengusaha menjadi semakin relevan ketika arah pembangunan ekonomi memberikan perhatian terhadap masyarakat dan pelaku ekonomi di tingkat lokal.

Ketua Dewan Pakar Asprindo Prof Didin Damanhuri menyebut Presiden Prabowo Subianto tengah membangun fondasi ekonomi rakyat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASPRINDO sendiri, kata Prof. Didin, menjadi salah satu organisasi yang menggunakan istilah tersebut dan saat ini telah memiliki jaringan di hampir seluruh Indonesia.

“Seperti Asprindo, yang mengusung kata pribumi, sekarang sudah memiliki jaringan di hampir seluruh Indonesia. Sudah beberapa tahun ini bergerak, cabang-cabangnya ada di hampir semua provinsi. Bahkan, kemarin ada acara di Sulawesi Selatan, meresmikan pengurus baru. Saya ikut juga di sana,” ungkapnya.

Ekonomi Kerakyatan dalam Kerangka Pembangunan

Prof. Didin menilai kebijakan Presiden Prabowo tidak secara eksplisit menggunakan istilah “pribumi”. Namun, menurut dia, terdapat kerangka people-centered development atau pembangunan yang berorientasi pada masyarakat.

Ia mengaitkan pendekatan tersebut dengan sejumlah program yang masuk dalam kerangka Asta Cita, antara lain Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa, swasembada pangan dan energi, Sekolah Rakyat, serta program perumahan rakyat 3,5 juta.

“Kerangka ekonomi rakyat itu diterjemahkan dalam Asta Cita. Salah satunya MBG. Modelnya, perbaikan gizi masyarakat bawah,” ujarnya.

Sejumlah program tersebut memang menjadi bagian dari agenda pemerintah. Pemerintah, misalnya, secara resmi menyebut penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai bagian dari upaya menghidupkan perekonomian rakyat, memberdayakan UMKM, serta menumbuhkan ekonomi lokal

Presiden Prabowo juga menyampaikan bahwa pembangunan manusia dan ekonomi kerakyatan menjadi bagian penting dari arah pemerintahannya. Pada Agustus 2026, pemerintah menyebut Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih diarahkan menjadi pusat ekonomi rakyat, termasuk untuk memperkuat daya tawar petani dan nelayan. 

Dari Pembangunan Infrastruktur ke Penguatan Ekonomi Rakyat

Menurut Prof. Didin, terdapat perubahan paradigma pembangunan yang perlu diperhatikan oleh dunia usaha.

Ia membandingkan pendekatan pembangunan sejak awal Reformasi hingga akhir era Presiden Joko Widodo yang menurutnya lebih banyak menggunakan pola big push, terutama melalui pembangunan infrastruktur dalam skala besar.

Sementara pada era Presiden Prabowo, Prof. Didin melihat adanya pergeseran menuju pendekatan people-centered development.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan sejumlah kebijakan pemerintah yang menempatkan pembangunan manusia, ekonomi desa, UMKM, dan koperasi sebagai bagian dari agenda pembangunan. Pemerintah menyebut ekonomi desa dan UMKM sebagai salah satu kekuatan ekonomi masyarakat yang perlu terus diperkuat. 

Pengusaha Perlu Memanfaatkan Peluang di Tingkat Lokal

Perubahan arah pembangunan tersebut, menurut Prof. Didin, seharusnya dapat menjadi peluang bagi para pengusaha Indonesia.

Ia mendorong pelaku usaha untuk tidak hanya menunggu kebijakan, tetapi aktif membangun kekuatan ekonomi di daerah melalui kolaborasi dan pengembangan sentra-sentra ekonomi lokal.

“Dengan perubahan pembangunan ekonomi ini, seharusnya para pengusaha bisa memanfaatkan momen. Berkolaborasi dan membangun sentra ekonomi di skala lokal. Membangun kekuatan ekonomi daerah, agar bisa maju bersama,” tegas Prof. Didin.

Bagi ASPRINDO, penguatan pengusaha di daerah menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang lebih luas. Pengusaha lokal memiliki peran dalam mengolah potensi daerah, menciptakan kegiatan ekonomi, membuka lapangan usaha, serta meningkatkan nilai tambah berbagai produk dan sumber daya yang tersedia.

Dengan demikian, kolaborasi menjadi salah satu unsur penting agar pengusaha tidak berjalan sendiri. Penguatan jaringan antarpengusaha, pengembangan sentra ekonomi, serta pemanfaatan potensi lokal dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi daerah.

Pandangan Prof. Didin tersebut menempatkan pengusaha sebagai salah satu bagian dari masyarakat yang dapat mengambil peran dalam perubahan arah pembangunan ekonomi. Bukan hanya dengan mengejar pertumbuhan usaha masing-masing, tetapi juga dengan membangun kekuatan ekonomi lokal yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Kolaborasi Strategis ASPRINDO dan PT Hartandy Putra Dorong Pengembangan Ekonomi Bangka Belitung

Kolaborasi Strategis ASPRINDO dan PT Hartandy Putra Dorong Pengembangan Ekonomi Bangka Belitung

Bangka Belitung, 24 Juli 2026, Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) terus mendorong penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk membuka peluang investasi dan pengembangan ekonomi daerah. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Hartandy Putra Bangka.

Kerja sama tersebut melibatkan PT Bumi Bangka Belitung Sejahtera sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk menjajaki sekaligus mengembangkan sejumlah sektor strategis yang dinilai memiliki potensi bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Adapun sektor yang masuk dalam ruang lingkup kerja sama meliputi infrastruktur dermaga, properti, pertanian, pertambangan, hingga pengembangan Kampung Industri.

Kolaborasi Jadi Langkah Awal Pengembangan Investasi

Penandatanganan MoU antara ASPRINDO dan PT Hartandy Putra Bangka menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antara dunia usaha dan potensi ekonomi daerah. Keterlibatan PT Bumi Bangka Belitung Sejahtera sebagai BUMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan berbagai sektor strategis.

Kerja sama semacam ini menjadi penting karena pengembangan ekonomi daerah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah daerah memiliki peran dalam membuka ruang dan mendukung ekosistem investasi, sementara dunia usaha dapat membawa modal, jaringan, pengalaman, serta kemampuan dalam mengembangkan kegiatan ekonomi.

Dengan adanya sinergi tersebut, berbagai potensi yang dimiliki Bangka Belitung diharapkan dapat dikembangkan secara lebih terarah dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Pengembangan Sektor Strategis Bangka Belitung

Beberapa sektor yang menjadi bagian dari kerja sama memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan pembangunan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Salah satunya adalah infrastruktur dermaga. Pengembangan infrastruktur ini dapat menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas transportasi dan distribusi, terutama bagi wilayah yang memiliki aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan perdagangan dan berbagai komoditas.

Selain itu, sektor properti juga menjadi bagian dari ruang lingkup kerja sama. Pengembangan properti yang berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi dapat mendukung kebutuhan kawasan serta menciptakan aktivitas ekonomi baru.

Di sektor pertanian, kerja sama diharapkan dapat membuka peluang pengembangan potensi daerah sekaligus memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat. Begitu pula dengan sektor pertambangan yang menjadi salah satu bidang yang masuk dalam rencana kolaborasi.

Namun, pengembangan ekonomi tidak hanya diarahkan pada sektor berbasis sumber daya. Salah satu agenda yang juga menjadi bagian penting dalam kerja sama ini adalah pengembangan Kampung Industri.

Kampung Industri untuk Mendorong Nilai Tambah Daerah

Kampung Industri dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengembangkan kegiatan produksi berbasis potensi daerah. Konsep tersebut sejalan dengan upaya mendorong masyarakat dan pelaku usaha agar tidak hanya menghasilkan bahan baku, tetapi juga mengembangkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Melalui pengembangan ekosistem industri, potensi lokal dapat dikembangkan menjadi berbagai produk yang memiliki peluang pasar lebih luas. Hal ini juga dapat membuka ruang bagi pelaku UMKM dan pengusaha lokal untuk terlibat dalam rantai ekonomi yang lebih besar.

Bagi ASPRINDO, pengembangan Kampung Industri juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pengusaha daerah. Ketika kegiatan produksi, pengolahan, pemasaran, dan distribusi dapat berkembang dalam satu ekosistem, peluang pertumbuhan usaha lokal juga semakin terbuka.

Mendorong Investasi Berkelanjutan

Kolaborasi ASPRINDO dengan PT Hartandy Putra Bangka dan PT Bumi Bangka Belitung Sejahtera diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan kerja sama. MoU tersebut menjadi langkah awal untuk membangun berbagai peluang pengembangan usaha dan investasi di Bangka Belitung.

Investasi yang berkembang secara berkelanjutan diharapkan mampu memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian daerah. Selain mendorong aktivitas bisnis, pengembangan sektor-sektor tersebut juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Kehadiran investasi yang terhubung dengan pelaku usaha lokal juga dapat memperkuat ekosistem ekonomi daerah. Dengan demikian, manfaat pembangunan tidak hanya berada pada tingkat perusahaan, tetapi juga dapat dirasakan oleh masyarakat dan pelaku usaha di sekitarnya.

Sinergi untuk Bangka Belitung yang Lebih Mandiri

Kerja sama ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara organisasi pengusaha, perusahaan swasta, dan badan usaha milik daerah dalam mengembangkan potensi ekonomi wilayah.

Bangka Belitung memiliki berbagai sektor yang dapat terus dikembangkan. Karena itu, diperlukan sinergi dan langkah bersama agar potensi tersebut dapat menghasilkan kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

ASPRINDO berharap kolaborasi dengan PT Hartandy Putra Bangka dan PT Bumi Bangka Belitung Sejahtera dapat menjadi awal dari berbagai program konkret di masa mendatang. Pengembangan infrastruktur, properti, pertanian, pertambangan, dan Kampung Industri diharapkan dapat berjalan beriringan dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah.

Melalui kerja sama tersebut, ASPRINDO turut mendorong terwujudnya Bangka Belitung yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera dengan melibatkan kekuatan dunia usaha serta potensi ekonomi lokal.

Kita harus tetap bergerak, membangun kolaborasi, dan membuka peluang baru agar potensi daerah dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

ASPRINDO Rombak Kepengurusan DPW Sulsel Periode 2025–2030, Dorong Pengusaha Tembus Pasar Global

ASPRINDO Rombak Kepengurusan DPW Sulsel Periode 2025–2030, Dorong Pengusaha Tembus Pasar Global

Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) terus memperkuat peran pengusaha daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui pelantikan kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) ASPRINDO Sulawesi Selatan periode 2025–2030.

Pelantikan pengurus hasil perombakan dan penggantian Ketua DPW Sulawesi Selatan yang meninggal dunia pada Maret 2026 tersebut berlangsung di Hotel The Rinra Makassar pada Minggu malam, 19 Juli 2026. Kegiatan dihadiri ratusan pengusaha, akademisi, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), termasuk perwakilan dari Gubernur Sulawesi Selatan dan Wali Kota Makassar.

Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal (doc: Asprindo).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelantikan dipimpin langsung Ketua Umum DPP ASPRINDO, Jose Rizal, dengan didampingi Anggota Dewan Pembina DPP ASPRINDO Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc., yang juga merupakan Rektor Universitas Hasanuddin, serta Ketua Dewan Pakar DPP ASPRINDO Prof. Dr. Didin S. Damanhuri.

Sulawesi Selatan Dinilai sebagai Dapur Ekonomi Indonesia

Dalam sambutannya, Jose Rizal menyoroti perkembangan ekonomi Sulawesi Selatan yang dinilai tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi Sulsel sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi di Indonesia.

Namun, menurut Jose, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari angka. Hal yang juga perlu menjadi perhatian adalah seberapa besar manfaat dan hasil pertumbuhan tersebut dapat dirasakan oleh pengusaha lokal, termasuk para anggota ASPRINDO.

“Pertanyaannya, seberapa besar kontribusi dan hasil ekonomi tersebut masuk ke kantong pengusaha ASPRINDO?” ujar Jose.

Karena itu, pelantikan kepengurusan DPW ASPRINDO Sulsel menurutnya bukan sekadar agenda seremonial. Momentum tersebut menjadi titik awal untuk mendorong pengusaha agar lebih aktif mengambil bagian dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor.

Dorong Pengusaha Turun Langsung ke Sektor Produktif

Jose Rizal menyerukan agar pengusaha ASPRINDO tidak hanya beraktivitas di ruang bisnis, tetapi juga hadir langsung di sektor-sektor produktif seperti pertanian, kelautan, dan industri.

Ia menggambarkan langkah tersebut sebagai upaya menghadapi berbagai persoalan ekonomi, termasuk kemiskinan dan mentalitas “cukup”. Pengusaha diharapkan mampu membangun kolaborasi dengan pemerintah untuk mengoptimalkan potensi daerah.

Ana Mustamin (Sekjend DPP Asprindo), Jose Rizal (Ketum Asprindo), Prof. Dr. Jamaluddin Jompa (Dewan Pembina DPP Asprindo), Prof. Dr. Didin S. Damanhuri (Ketua Dewan Pakar DPP Asprindo), dan , Ir. Abu Hasan (Ketua DPW Asprindo Sulsel).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu gagasan yang didorong adalah pembangunan Kampung Industri. Konsep ini diarahkan untuk menyatukan berbagai potensi dan sumber daya yang dimiliki pengusaha sehingga dapat membentuk ekosistem usaha yang lebih kuat.

Menurut Jose, pengembangan kapasitas pengusaha juga harus ditopang oleh tiga aspek penting, yaitu teknologi, modal, dan branding. Ketiganya diperlukan agar produk-produk pengusaha ASPRINDO, termasuk sektor UMKM, tidak hanya mampu bersaing di pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang memasuki pasar internasional.

Akademisi dan Pengusaha Perlu Bersinergi

Anggota Dewan Pembina ASPRINDO, Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, menekankan pentingnya membangun budaya usaha yang mengedepankan pertumbuhan bersama, persaingan sehat, dan profesionalisme.

Menurut Jamaluddin, dunia akademik memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan dunia usaha. Berbagai hasil riset yang dihasilkan perguruan tinggi dapat diimplementasikan untuk menjawab kebutuhan industri dan mengembangkan produk maupun layanan baru.

“Dunia akademik siap bersinergi dan bekerja sama dengan pengusaha. Banyak riset dari kampus yang bisa diimplementasikan di dunia usaha. Di kampus pun digalakkan entrepreneurship,” terangnya.

Kolaborasi antara kampus dan dunia usaha tersebut diharapkan dapat menciptakan inovasi sekaligus memperkuat kapasitas pengusaha daerah dalam menghadapi persaingan yang semakin terbuka.

ASPRINDO sebagai Penggerak Pengusaha Bumiputera

Sementara itu, Ketua Dewan Pakar ASPRINDO Prof. Dr. Didin S. Damanhuri menilai keberadaan ASPRINDO memiliki posisi strategis sebagai vehicle untuk menumbuhkan dan mempercepat perkembangan pengusaha pribumi.

Ia menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan pengusaha berdasarkan identitas, melainkan sebagai bagian dari upaya menjalankan amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945.

“Ini bukan soal dikotomi pribumi dan nonpri, tapi ini harus dilihat sebagai amanat konstitusi, Pasal 33 UUD,” ujar Didin.

Menurutnya, salah satu tujuan gerakan ASPRINDO adalah membantu mengurangi ketimpangan ekonomi sehingga manfaat pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi pada segelintir pihak.

DPW ASPRINDO Sulsel Siapkan Tujuh Klaster Program

Ketua DPW ASPRINDO Sulawesi Selatan, Ir. Abu Hasan, menyatakan kesiapan untuk menjalankan amanah dan arahan yang disampaikan Ketua Umum, Dewan Pembina, serta Dewan Pakar ASPRINDO.

Sebagai langkah awal, DPW ASPRINDO Sulsel telah menyiapkan tujuh klaster program yang akan menjadi bagian dari agenda pengembangan organisasi dan dunia usaha di daerah.

Abu Hasan berharap berbagai program tersebut dapat menjadi pijakan untuk meningkatkan kapasitas pengusaha ASPRINDO di Sulawesi Selatan. Dengan penguatan kolaborasi, pemanfaatan teknologi, akses modal, serta pengembangan branding, pengusaha daerah diharapkan mampu naik kelas dan memiliki daya saing yang semakin kuat.

“Insyaa Allah pengusaha ASPRINDO di daerah ini siap naik kelas dan membangun daya saing,” paparnya.

Penguatan ASPRINDO di Sulawesi Selatan pada akhirnya diharapkan tidak hanya memperbesar kapasitas para anggotanya, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem usaha yang saling menguatkan. Melalui Kampung Industri, sinergi akademisi dan pengusaha, serta pengembangan UMKM, potensi ekonomi Sulawesi Selatan diharapkan dapat semakin terhubung dengan pasar nasional maupun global.

Pengusaha, Jangan Jalan Sendirian! Ini Manfaat Bergabung Bersama ASPRINDO

Pengusaha, Jangan Jalan Sendirian! Ini Manfaat Bergabung Bersama ASPRINDO

Menjalankan bisnis bukan hanya tentang bagaimana menjual produk atau mendapatkan pelanggan. Dalam perjalanan membangun usaha, pengusaha juga membutuhkan jaringan, akses pasar, kolaborasi, informasi, peningkatan kompetensi, serta lingkungan bisnis yang dapat mendukung perkembangan usaha.

Karena itu, pengusaha tidak harus berjalan sendirian.

Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) hadir sebagai wadah yang mempertemukan para pengusaha sekaligus membuka ruang untuk membangun jaringan, mengembangkan potensi usaha, dan menciptakan peluang kolaborasi.

Melalui jaringan dan kegiatan yang dibangun, bergabung bersama ASPRINDO dapat menjadi salah satu ruang bagi pengusaha untuk saling terhubung dan berkembang bersama.

Memperluas Networking Bisnis

Dalam dunia usaha, jaringan memiliki peran penting. Semakin luas relasi yang dimiliki, semakin banyak pula peluang untuk bertemu dengan calon mitra, pelaku usaha lain, maupun pihak yang memiliki kepentingan bisnis yang saling berkaitan.

Melalui ASPRINDO, pengusaha memiliki kesempatan untuk membangun relasi dengan sesama pengusaha, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Networking bukan hanya tentang menambah jumlah kenalan, tetapi juga membangun hubungan yang dapat berkembang menjadi kerja sama, pertukaran informasi, hingga peluang bisnis baru.

Membuka Peluang Kolaborasi

Tidak semua peluang bisnis harus dibangun sendiri. Ada kalanya sebuah usaha dapat berkembang lebih jauh ketika pengusaha menemukan mitra yang memiliki kemampuan atau sumber daya yang saling melengkapi.

Jaringan ASPRINDO menjadi ruang untuk mencari mitra kerja sama usaha dan peluang bisnis lintas sektor.

Kolaborasi dapat membuka kesempatan bagi pengusaha untuk mengembangkan produk, memperluas layanan, membangun kerja sama bisnis, maupun menciptakan peluang baru yang sebelumnya sulit dijangkau secara individual.

Dengan membangun budaya kolaborasi, pengusaha dapat saling memperkuat dan menciptakan manfaat yang lebih luas.

Memperluas Akses Pasar

Pertumbuhan bisnis juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Bergabung bersama ASPRINDO memberikan kesempatan bagi anggota untuk mendapatkan jejaring dan kemitraan, baik di tingkat regional maupun internasional. Selain itu, terdapat peluang untuk mengikuti berbagai expo dan pameran.

Kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang bagi pengusaha untuk memperkenalkan produk dan usaha, bertemu calon mitra, serta melihat peluang pasar yang mungkin dapat dikembangkan.

Dengan jaringan yang semakin luas, kesempatan untuk memperkenalkan bisnis kepada lebih banyak pihak juga semakin terbuka.

Mengembangkan Kapasitas dan Kompetensi

Bisnis terus berkembang dan menghadapi perubahan. Karena itu, pengusaha maupun karyawan perusahaan perlu terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan.

ASPRINDO menyediakan ruang bagi anggota dan karyawan perusahaan untuk mengikuti berbagai kegiatan pelatihan, lokakarya, diskusi, dan seminar yang diselenggarakan atau dikerjasamakan dengan ASPRINDO.

Pengembangan kapasitas menjadi penting agar pelaku usaha tidak hanya mampu mempertahankan bisnis, tetapi juga dapat meningkatkan kompetensi dan produktivitas.

Membuka Peluang Business to Business (B2B)

Salah satu peluang yang dapat diperoleh melalui jaringan ASPRINDO adalah kesempatan mengikuti pertemuan bisnis atau Business to Business (B2B).

Kegiatan B2B dapat mempertemukan pengusaha dengan berbagai delegasi pengusaha dari berbagai negara serta membuka peluang kerja sama dengan kedutaan, kamar dagang asing, maupun mitra ASPRINDO.

Pertemuan seperti ini dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan bisnis sekaligus membangun hubungan dengan calon mitra yang memiliki kepentingan usaha yang sesuai.

Mendapatkan Informasi Kebijakan Dunia Usaha

Perubahan kebijakan pemerintah dapat memberikan pengaruh terhadap dunia usaha dan ketenagakerjaan. Karena itu, pengusaha membutuhkan akses terhadap informasi yang relevan agar dapat memahami perkembangan yang terjadi.

Melalui ASPRINDO, anggota dapat memperoleh informasi terkait kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan dunia usaha dan ketenagakerjaan.

Informasi tersebut dapat membantu pengusaha memahami perkembangan lingkungan bisnis dan menjadi bahan pertimbangan dalam menjalankan usaha.

Menjadi Wadah Aspirasi dan Advokasi

Selain menjadi ruang networking dan bisnis, ASPRINDO juga menjadi wadah aspirasi dan advokasi bagi anggotanya.

Pengusaha dapat menyampaikan pendapat, saran, usulan, maupun keluhan yang berkaitan dengan kebijakan ketenagakerjaan ataupun dunia usaha.

Dengan adanya wadah bersama, berbagai aspirasi pengusaha dapat disampaikan melalui organisasi sehingga kepentingan dan kebutuhan dunia usaha memiliki ruang untuk dikomunikasikan.

Pendampingan dan Pengembangan Usaha

Setiap pengusaha memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pengembangan bisnis juga membutuhkan proses pendampingan yang sesuai dengan potensi usaha.

ASPRINDO membuka ruang untuk pendampingan dan pengembangan usaha, termasuk pengembangan potensi usaha, peningkatan kompetensi, produktivitas, serta perlindungan dan advokasi usaha.

Hal tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang mendukung pengusaha untuk terus berkembang.

Saatnya Pengusaha Saling Terhubung dan Bertumbuh

Membangun usaha memang membutuhkan kemandirian. Namun, mandiri bukan berarti harus berjalan sendirian.

Jaringan, kolaborasi, akses pasar, peningkatan kapasitas, peluang B2B, informasi kebijakan, serta wadah aspirasi dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan pengusaha mengembangkan bisnis.

ASPRINDO hadir sebagai ruang bagi para pengusaha untuk saling terhubung, berkolaborasi, dan membuka peluang yang lebih luas.

Jika Anda adalah pengusaha yang ingin memperluas jaringan, menemukan peluang kerja sama, mengembangkan kapasitas, dan membangun koneksi bisnis yang lebih luas, saatnya bergabung bersama ASPRINDO.

Mari bangun jaringan. Mari buka peluang. Mari tumbuh bersama.

Bergabung bersama ASPRINDO dan menjadi bagian dari gerakan pengusaha yang terus bergerak, berkolaborasi, dan membangun kekuatan ekonomi Indonesia.

ASPRINDO JAYA, INDONESIA KAYA!

Pengusaha Jangan Berjalan Sendirian, Bangun Jaringan dan Kolaborasi Bersama ASPRINDO

Pengusaha Jangan Berjalan Sendirian, Bangun Jaringan dan Kolaborasi Bersama ASPRINDO

Dalam menjalankan bisnis, memiliki produk yang bagus memang penting. Namun, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk. Ada faktor lain yang sering kali tidak kalah penting, yaitu jaringan, relasi, dan kemampuan membangun kolaborasi.

Tidak sedikit pengusaha yang sudah memiliki produk berkualitas, tetapi perkembangan bisnisnya masih terbatas karena terlalu lama berjalan sendiri. Fokus mencari pelanggan memang penting, tetapi pengusaha juga perlu melihat siapa saja yang dapat menjadi mitra, membuka akses baru, atau membantu memperluas peluang usaha.

Karena itu, membangun jaringan bukan sekadar aktivitas untuk menambah kenalan. Bagi pengusaha, relasi dapat menjadi bagian dari strategi untuk mengembangkan bisnis dalam jangka panjang.

Bisnis Bukan Hanya Tentang Mencari Pelanggan

Ketika menjalankan usaha, perhatian sering kali tertuju pada satu pertanyaan: bagaimana mendapatkan lebih banyak pelanggan?

Padahal, pertumbuhan bisnis juga dapat dipengaruhi oleh pertanyaan lain, seperti siapa yang dapat menjadi mitra, dengan siapa usaha dapat berkolaborasi, bagaimana memperluas pasar, dan dari mana informasi mengenai peluang bisnis baru bisa diperoleh.

Misalnya, pengusaha yang bergerak di bidang produksi dapat membutuhkan distributor atau mitra pemasaran. Pengusaha di bidang jasa dapat menemukan perusahaan yang membutuhkan layanan. Sementara pelaku UMKM dapat membuka peluang kerja sama dengan pengusaha lain yang memiliki pasar atau jaringan berbeda.

Artinya, sebuah bisnis tidak selalu harus berkembang melalui penjualan secara langsung. Kolaborasi antar pengusaha juga dapat menciptakan peluang baru.

Relasi Bisa Membuka Pintu yang Tidak Terduga

Salah satu alasan pengusaha perlu memperluas jaringan adalah karena peluang bisnis tidak selalu datang melalui jalur yang sudah kita kenal.

Sebuah perkenalan dapat berkembang menjadi diskusi. Diskusi dapat berkembang menjadi kerja sama. Dari kerja sama tersebut, bisa muncul peluang untuk menjangkau pasar atau memperkenalkan produk kepada jaringan yang lebih luas.

Inilah mengapa membangun relasi perlu dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika bisnis sedang membutuhkan sesuatu.

Pengusaha juga tidak harus menunggu peluang datang dengan sendirinya. Aktif bertemu dengan pelaku usaha lain, bertukar informasi, memperkenalkan bisnis, dan membuka komunikasi dapat menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan.

Risiko Terlalu Lama Berjalan Sendirian

Berjalan sendiri dalam bisnis bukan berarti selalu salah. Namun, ketika pengusaha terlalu fokus pada aktivitas internal dan tidak memperluas jaringan, ada kemungkinan sebagian peluang berada di luar jangkauan.

Pengusaha mungkin memiliki produk yang bagus, tetapi belum banyak orang mengetahuinya. Harga produk mungkin kompetitif, tetapi jaringan pasarnya masih terbatas. Penjualan mungkin sudah berjalan, tetapi belum ada mitra yang dapat membantu memperbesar kapasitas usaha.

Keterbatasan jaringan juga dapat membuat pengusaha hanya melihat bisnis dari sudut pandangnya sendiri. Padahal, bertemu dengan pengusaha lain dapat membuka perspektif baru mengenai pemasaran, kerja sama, pengembangan usaha, maupun peluang yang sebelumnya belum terlihat.

Karena itu, jaringan bukan pengganti kualitas produk atau strategi bisnis, tetapi dapat menjadi pendukung penting untuk membantu usaha berkembang.

ASPRINDO Menjadi Wadah untuk Terhubung dan Berkolaborasi

ASPRINDO hadir sebagai wadah bagi para pengusaha untuk terhubung, berkolaborasi, dan berkembang bersama.

Melalui lingkungan pengusaha, anggota memiliki ruang untuk membangun relasi dengan pelaku usaha lainnya. Hubungan tersebut dapat menjadi awal untuk saling bertukar informasi, mengenal potensi bisnis masing-masing, hingga membuka peluang kerja sama.

ASPRINDO juga membawa gagasan bahwa pengusaha tidak hanya perlu sibuk mencari pelanggan, tetapi juga perlu membangun ekosistem bisnis yang mendukung pertumbuhan.

Networking dapat memperluas relasi. Kolaborasi dapat membuka peluang. Akses informasi dapat membantu pengusaha memahami perkembangan dunia usaha. Sementara hubungan dengan pengusaha dari berbagai daerah dapat membuka kemungkinan jangkauan yang lebih luas.

Dengan demikian, bergabung dalam komunitas pengusaha bukan hanya tentang menjadi bagian dari sebuah organisasi, tetapi juga tentang membangun koneksi yang dapat memberikan ruang untuk berkembang.

Saatnya Pengusaha Memperluas Jaringan

Setiap pengusaha memiliki perjalanan dan tantangan yang berbeda. Namun, satu hal yang dapat dilakukan bersama adalah terus membuka diri terhadap relasi dan kolaborasi.

Jangan sampai energi hanya dihabiskan untuk mencari pelanggan, sementara kesempatan untuk menemukan partner justru terlewat. Jangan pula merasa bahwa bisnis harus dibangun sendirian.

Bisa jadi, peluang besar berikutnya datang dari satu perkenalan, satu percakapan, atau satu relasi yang tepat.

ASPRINDO membuka ruang bagi pengusaha untuk menjadi bagian dari jaringan yang saling terhubung, membangun kolaborasi, dan berkembang bersama.

Sudah siap memperluas jaringan dan membawa bisnis ke level berikutnya?

Bersama ASPRINDO, mari membangun relasi, membuka kolaborasi, dan memperluas peluang usaha.

Kita harus tetap bergerak, jangan berhenti.
ASPRINDO JAYA, INDONESIA KAYA! 

Asprindo Sulsel Jajaki Kolaborasi dengan PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda) untuk Perkuat Pengembangan Usaha Daerah

Asprindo Sulsel Jajaki Kolaborasi dengan PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda) untuk Perkuat Pengembangan Usaha Daerah

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) Sulawesi Selatan terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pembangunan kemitraan strategis dengan berbagai pihak. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjalin komunikasi dan sinergi dengan PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda) sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang memiliki peran penting dalam pengembangan investasi dan usaha di Sulawesi Selatan.

Rombongan Asprindo Sulsel diterima oleh Andi Sahrul, Bagian Operasional dan Pengembangan Usaha PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda). Dalam pertemuan tersebut, pihak Perseroda menyambut baik kehadiran Asprindo dan menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dalam berbagai program yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan audiensi yang dilaksanakan pada 24 Juni 2026. Pertemuan ini menjadi momentum awal bagi kedua belah pihak untuk menjajaki peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi pengusaha lokal sekaligus mendukung pembangunan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Membangun Sinergi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Audiensi yang digelar antara DPW Asprindo Sulawesi Selatan dengan manajemen PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda) bertujuan membangun sinergi dalam berbagai bidang usaha yang memiliki potensi untuk dikembangkan bersama.

Rombongan Asprindo Sulsel diterima langsung oleh Andi Sahrul, Bagian Operasional dan Pengembangan Usaha PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda). Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai peluang kolaborasi yang diharapkan mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal serta memperkuat iklim investasi di Sulawesi Selatan.

PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda) menyambut baik kehadiran Asprindo dan menyatakan kesiapan untuk menjalin kerja sama dalam berbagai sektor yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat maupun dunia usaha.

“Perseroda siap berkolaborasi dengan Asprindo dalam berbagai sektor usaha yang berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha di Sulawesi Selatan,” ujar Andi Sahrul.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya komitmen bersama untuk membangun ekosistem bisnis yang lebih inklusif melalui kolaborasi antara organisasi pengusaha dan perusahaan daerah.

Asprindo Hadir Sebagai Wadah Kolaborasi Pelaku Usaha

Dalam kesempatan tersebut, Penasehat Asprindo Sulsel, Ir. Jamaluddin Nawir, menjelaskan bahwa Asprindo memiliki peran sebagai wadah yang mempertemukan para pelaku usaha dari berbagai sektor agar dapat saling berkolaborasi dan memanfaatkan peluang bisnis yang tersedia.

Menurutnya, pengembangan ekonomi daerah tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, BUMD, organisasi pengusaha, serta sektor swasta agar potensi daerah dapat berkembang secara optimal.

“Kami berharap Asprindo dapat menjadi pintu masuk bagi para pelaku usaha untuk berkolaborasi dan berkembang bersama. Potensi daerah seperti Makassar, Bira, hingga Palopo harus dimaksimalkan melalui sinergi yang kuat,” ujar Jamaluddin Nawir.

Ia menambahkan bahwa Sulawesi Selatan memiliki banyak potensi ekonomi yang dapat dikembangkan, mulai dari sektor perdagangan, jasa, industri, hingga pariwisata. Dengan kolaborasi yang baik, peluang tersebut diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha lokal sekaligus membuka kesempatan investasi baru.

Komitmen Memperkuat Pengusaha Lokal

Audiensi ini juga menjadi bagian dari upaya Asprindo Sulawesi Selatan dalam memperluas jaringan kemitraan bagi anggotanya. Melalui kerja sama dengan PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda), Asprindo berharap para pelaku usaha lokal dapat memperoleh akses yang lebih luas terhadap berbagai peluang bisnis, pendampingan, maupun program pengembangan usaha.

Kolaborasi semacam ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing pengusaha daerah di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang. Selain membuka peluang investasi, kerja sama juga diharapkan mampu memperkuat pemberdayaan pelaku usaha sehingga dapat berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan.

Dengan adanya sinergi antara organisasi pengusaha dan BUMD, pembangunan ekonomi tidak hanya berfokus pada investasi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal sebagai penggerak utama ekonomi daerah.

Persiapan Pelantikan Pengurus DPW Asprindo Sulsel

Dalam audiensi tersebut, Ketua DPW Asprindo Sulawesi Selatan, Abu Hasan, turut menyampaikan perkembangan organisasi, termasuk persiapan pelantikan pengurus DPW Asprindo Sulsel yang akan segera dilaksanakan.

Pelantikan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 18 Juli 2026 pukul 13.00 WITA di Hotel The Rinra Makassar.

Agenda tersebut direncanakan akan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Andi Amran Sulaiman, Zulkifli Hasan, serta Ketua Umum Asprindo Pusat, Jose Rizal.

Kehadiran para tokoh nasional tersebut diharapkan menjadi momentum penting bagi penguatan organisasi sekaligus memperluas jejaring kolaborasi antara Asprindo dengan berbagai pemangku kepentingan di tingkat nasional maupun daerah.

Panitia Pelantikan Telah Dibentuk

Sebagai bagian dari persiapan kegiatan, Asprindo Sulawesi Selatan telah membentuk susunan panitia pelantikan.

Ketua Pelaksana dipercayakan kepada Uya Mustamin, didampingi Rasmi Ridjang Sikati sebagai sekretaris dan Vilda Yanti Lalawi sebagai bendahara.

Sementara itu, jajaran Steering Committee diisi oleh sejumlah tokoh Asprindo, termasuk Ir. Jamaluddin Nawir, yang akan memberikan arahan strategis dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Pembentukan panitia ini menunjukkan keseriusan Asprindo Sulsel dalam mempersiapkan pelantikan sebagai langkah penting untuk memperkuat organisasi dan memperluas kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi daerah.

Kolaborasi Menjadi Kunci Kemajuan Ekonomi Sulawesi Selatan

Audiensi antara DPW Asprindo Sulawesi Selatan dan PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda) diharapkan menjadi awal dari terbangunnya kerja sama yang produktif dan berkelanjutan.

Melalui sinergi yang kuat, kedua pihak optimistis dapat menciptakan berbagai program yang mendukung peningkatan investasi, pengembangan dunia usaha, serta pemberdayaan pengusaha lokal di Sulawesi Selatan.

Asprindo meyakini bahwa kolaborasi merupakan salah satu kunci dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, potensi yang dimiliki Sulawesi Selatan dapat dikembangkan secara lebih optimal sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, dunia usaha, dan pembangunan daerah secara keseluruhan.

Abu Hasan Pimpin DPW Asprindo Sulsel, Pelantikan Pengurus Jadi Momentum Perkuat Sinergi Pengusaha dan Pemerintah

Abu Hasan Pimpin DPW Asprindo Sulsel, Pelantikan Pengurus Jadi Momentum Perkuat Sinergi Pengusaha dan Pemerintah

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) Sulawesi Selatan memasuki babak baru setelah Abu Hasan resmi terpilih sebagai Ketua DPW Asprindo Sulawesi Selatan. Kepemimpinan baru ini diharapkan mampu memperkuat peran organisasi sebagai wadah kolaborasi para pengusaha bumiputera sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah maupun nasional.

Sebagai langkah awal kepengurusan, DPW Asprindo Sulawesi Selatan akan menggelar pelantikan pengurus pada Sabtu, 18 Juli 2026 pukul 13.00 WITA di Hotel The Rinra Makassar. Kegiatan tersebut diproyeksikan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum konsolidasi organisasi dan lahirnya berbagai gagasan strategis untuk memperkuat dunia usaha di Sulawesi Selatan.

Kepemimpinan Baru untuk Memperkuat Organisasi

Terpilihnya Abu Hasan sebagai Ketua DPW Asprindo Sulawesi Selatan menjadi awal dari upaya memperkuat peran organisasi dalam membangun ekosistem usaha yang lebih kolaboratif dan berdaya saing.

Di bawah kepemimpinannya, Asprindo Sulsel menargetkan peningkatan sinergi antaranggota, perluasan jaringan bisnis, serta penguatan hubungan dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Abu Hasan menegaskan bahwa Asprindo memiliki komitmen untuk menjadi organisasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi, khususnya melalui pemberdayaan pengusaha bumiputera di Sulawesi Selatan.

Menurutnya, pelantikan pengurus nantinya diharapkan menjadi awal dari lahirnya berbagai program kerja yang memberikan manfaat langsung bagi dunia usaha maupun masyarakat.

Pelantikan Digelar 18 Juli 2026 di Hotel The Rinra Makassar

Pelantikan pengurus DPW Asprindo Sulawesi Selatan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 18 Juli 2026 pukul 13.00 WITA di Hotel The Rinra Makassar.

Kegiatan tersebut dirancang sebagai forum penting untuk memperkenalkan kepengurusan baru sekaligus memperkuat koordinasi organisasi dalam menjalankan berbagai program ke depan.

Selain prosesi pelantikan, kegiatan ini juga diharapkan menjadi ruang komunikasi antara pengusaha, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan guna membahas peluang kerja sama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Melalui forum tersebut, Asprindo Sulsel ingin mempertegas komitmennya sebagai organisasi yang aktif membangun kolaborasi serta mendorong terciptanya iklim usaha yang semakin kondusif.

Sejumlah Tokoh Nasional Direncanakan Hadir

Pelantikan DPW Asprindo Sulawesi Selatan direncanakan akan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional.

Beberapa nama yang telah diundang antara lain Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, serta Ketua Umum Asprindo Pusat, Jose Rizal. Hingga saat ini, kehadiran para tokoh tersebut masih dalam tahap konfirmasi dari panitia.

Apabila seluruh undangan dapat hadir, kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat hubungan antara Asprindo dengan pemerintah pusat dalam mendukung berbagai program pembangunan, khususnya pada sektor ekonomi, investasi, pangan, dan pemberdayaan pelaku usaha.

Kehadiran para tokoh nasional juga diharapkan memberikan motivasi bagi para pengusaha daerah untuk terus meningkatkan daya saing dan memperluas kolaborasi lintas sektor.

Persiapan Pelantikan Terus Dimatangkan

Menjelang pelaksanaan acara, panitia dan steering committee terus melakukan berbagai persiapan teknis agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan tertib dan lancar.

Rapat koordinasi telah dilaksanakan di Cafe Hotel Myco Makassar untuk membahas berbagai kebutuhan pelaksanaan acara, mulai dari susunan kegiatan, teknis penyelenggaraan, hingga koordinasi antarbidang kepanitiaan.

Dalam struktur kepanitiaan, Steering Committee dipimpin oleh Ir. A. Tobo Hairuddin, MBA sebagai ketua dan Ir. Jamaluddin Nawir sebagai sekretaris.

Sementara itu, panitia pelaksana diketuai oleh Uya Mustamin, didampingi Rasmi Ridjang Sikati, SE sebagai sekretaris dan Vilda Yanti Lalawi sebagai bendahara bersama sejumlah pengurus lainnya.

Persiapan yang matang diharapkan mampu mendukung terselenggaranya pelantikan yang profesional sekaligus mencerminkan semangat kebersamaan seluruh keluarga besar Asprindo Sulawesi Selatan.

Momentum Melahirkan Rekomendasi Strategis

Menurut Abu Hasan, pelantikan pengurus tidak hanya bertujuan mengukuhkan kepengurusan baru, tetapi juga menjadi momentum untuk menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang dapat mendukung pembangunan.

“Melalui pelantikan ini, kami berharap dapat menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang menjadi dasar kerja sama dan sinergi antara Asprindo dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta pemerintah kabupaten dan kota dalam mendukung program-program pembangunan demi kemajuan bangsa,” ujar Abu Hasan.

Pernyataan tersebut menunjukkan komitmen Asprindo Sulsel untuk tidak hanya berfokus pada pengembangan organisasi, tetapi juga berkontribusi dalam penyusunan gagasan yang dapat memperkuat pembangunan ekonomi secara berkelanjutan.

Ajang Konsolidasi Pengusaha Bumiputera

Selain menjadi agenda organisasi, pelantikan ini juga diharapkan menjadi ajang konsolidasi para pengusaha bumiputera di Sulawesi Selatan.

Melalui konsolidasi tersebut, Asprindo ingin memperkuat jaringan usaha, meningkatkan kolaborasi antaranggota, serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai sektor, baik pemerintah maupun swasta.

Sinergi yang kuat antarpelaku usaha diyakini akan memperbesar peluang investasi, memperluas akses pasar, dan meningkatkan daya saing dunia usaha di Sulawesi Selatan.

Dengan jaringan yang semakin solid, para pengusaha diharapkan mampu berkontribusi lebih besar terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, serta pertumbuhan ekonomi daerah.

Komitmen Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Di bawah kepemimpinan Abu Hasan, DPW Asprindo Sulawesi Selatan menargetkan peningkatan kontribusi organisasi dalam mendukung pembangunan ekonomi yang inklusif.

Asprindo ingin menjadi jembatan yang menghubungkan dunia usaha dengan pemerintah melalui berbagai bentuk kerja sama, dialog, dan penyusunan rekomendasi kebijakan yang mendukung kemajuan daerah.

Pelantikan pengurus pada 18 Juli 2026 menjadi langkah awal untuk memperkuat peran tersebut sekaligus mempertegas komitmen Asprindo Sulsel dalam membangun organisasi yang profesional, kolaboratif, dan berorientasi pada kemajuan ekonomi masyarakat.

Melalui kepengurusan baru, Asprindo Sulawesi Selatan optimistis dapat menghadirkan program-program yang mampu memperkuat pengusaha bumiputera, meningkatkan investasi, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi di Sulawesi Selatan maupun Indonesia.

Asprindo Usulkan Skema Hybrid untuk Pengelolaan Blok Andaman Demi Investasi dan Kemajuan Ekonomi Aceh

Asprindo Usulkan Skema Hybrid untuk Pengelolaan Blok Andaman Demi Investasi dan Kemajuan Ekonomi Aceh

Pengembangan Blok South Andaman menjadi salah satu proyek strategis sektor energi yang saat ini mendapat perhatian besar dari berbagai pihak. Selain memiliki potensi cadangan gas yang sangat besar, proyek ini juga diperkirakan mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia, khususnya Provinsi Aceh. Namun, di balik besarnya peluang tersebut, masih terdapat perbedaan pandangan mengenai konsep pengelolaan yang paling tepat.

Melihat kondisi tersebut, Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) mengusulkan penerapan skema hybrid sebagai solusi yang dinilai mampu mengakomodasi kepentingan investor, pemerintah pusat, serta masyarakat Aceh secara seimbang. Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat realisasi investasi tanpa mengurangi manfaat ekonomi yang dapat dirasakan oleh daerah penghasil.

Perbedaan Pandangan dalam Pengembangan South Andaman

Hingga pertengahan Juni 2026, Plan of Development (POD) South Andaman masih menunggu keputusan pemerintah. Dalam proses pembahasannya, terdapat dua usulan utama mengenai lokasi pengolahan gas yang memiliki karakteristik dan konsekuensi berbeda.

Pilihan pertama adalah seluruh gas diproses di laut menggunakan fasilitas Floating Production Storage Offloading (FPSO) sebagaimana diusulkan oleh operator proyek. Sementara itu, Pemerintah Aceh menginginkan seluruh proses pengolahan dilakukan di darat melalui Onshore Processing Facility (OPF).

Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal, menjelaskan bahwa kedua pilihan tersebut sama-sama memiliki kelebihan sekaligus tantangan sehingga diperlukan solusi yang mampu menjembatani kepentingan seluruh pihak.

“Investor dipermudah, pemerintah pusat tidak dirugikan, dan masyarakat Aceh juga tetap mendapatkan benefit jangka panjang,” ujar Jose Rizal.

Keunggulan dan Tantangan Skema FPSO

FPSO merupakan fasilitas pengolahan gas terapung yang memungkinkan seluruh proses dilakukan langsung di laut sebelum hasilnya dikirim ke pasar. Dari sisi investasi, sistem ini dianggap lebih efisien karena tidak membutuhkan pembangunan infrastruktur besar di daratan.

Dengan biaya investasi yang lebih ringan, proses Final Investment Decision (FID) juga berpotensi lebih cepat sehingga proyek dapat segera direalisasikan.

Namun demikian, pengolahan penuh di laut memiliki konsekuensi terhadap manfaat ekonomi daerah. Aktivitas industri yang terjadi di daratan menjadi relatif terbatas sehingga peluang penyerapan tenaga kerja lokal tidak sebesar apabila fasilitas pengolahan dibangun di Aceh.

OPF Memberikan Dampak Ekonomi Lebih Besar

Berbeda dengan FPSO, konsep Onshore Processing Facility (OPF) mengharuskan gas dialirkan terlebih dahulu ke daratan untuk diproses. Infrastruktur yang dibutuhkan memang jauh lebih besar sehingga nilai investasi maupun waktu pembangunan menjadi lebih panjang.

Meskipun demikian, manfaat jangka panjang yang dihasilkan dinilai jauh lebih luas.

Pembangunan fasilitas pengolahan di darat diperkirakan mampu menciptakan hingga 10.000 lapangan kerja, sekaligus menyediakan pasokan gas untuk kebutuhan pembangkit listrik dan industri pupuk di Aceh. Kehadiran fasilitas tersebut juga akan meningkatkan aktivitas ekonomi daerah melalui tumbuhnya berbagai sektor pendukung.

Dengan demikian, proyek tidak hanya berfungsi sebagai penghasil devisa negara, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan kawasan industri di Aceh.

Skema Hybrid Menjadi Jalan Tengah yang Realistis

Melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing konsep, Asprindo mengusulkan penerapan skema hybrid sebagai solusi kompromi yang dinilai paling realistis.

Dalam skema ini, sekitar 60 persen produksi gas diproses melalui fasilitas FPSO agar proyek tetap ekonomis dan memberikan kepastian investasi bagi operator. Sementara 40 persen sisanya dialirkan menuju fasilitas pengolahan di darat yang dibangun di Lhokseumawe.

Menurut Jose Rizal, pembagian tersebut mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan investasi dan pemerataan manfaat ekonomi.

“Jangan semua di laut. Jangan semua di darat. Bagi dua, 60 persen gas diproses di FPSO agar investor yakin dan FID 2026 berjalan. Selebihnya, 40 persen gas dipipa ke OPF mini di Lhokseumawe untuk memasok kebutuhan listrik dan industri di Aceh.”

Melalui konsep tersebut, proyek tetap menarik bagi investor sekaligus membuka peluang tumbuhnya industri hilir di Aceh.

Membuka Ribuan Lapangan Kerja untuk Masyarakat Aceh

Asprindo menilai bahwa manfaat terbesar dari skema hybrid bukan hanya berasal dari penerimaan negara, tetapi juga dari dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dengan adanya fasilitas pengolahan di darat, diperkirakan akan tercipta sekitar 3.000 hingga 5.000 lapangan kerja permanen bagi masyarakat Aceh. Selain itu, pasokan gas dari OPF dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasional pembangkit listrik PLN maupun industri pupuk seperti Pupuk Iskandar Muda, sehingga mampu mendorong pertumbuhan sektor industri daerah.

Menurut Jose Rizal, manfaat jangka panjang tersebut jauh lebih bernilai dibandingkan apabila seluruh gas hanya diproses di laut tanpa memberikan efek ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar.

Menjaga Kepastian Investasi Sekaligus Kepentingan Daerah

Asprindo menegaskan bahwa usulan skema hybrid bukan dimaksudkan untuk memenangkan salah satu pihak. Sebaliknya, pendekatan tersebut dirancang agar semua pemangku kepentingan memperoleh manfaat yang proporsional.

Pemerintah pusat tetap mendapatkan penerimaan negara, investor memperoleh kepastian dalam menjalankan investasi, sementara masyarakat Aceh mendapatkan kesempatan kerja serta akses energi yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan industri lokal.

Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan daerah secara berkelanjutan.

Mendorong Pemerintah Aceh Mengajukan Opsi Hybrid

Asprindo juga mendorong Pemerintah Aceh agar segera mengajukan skema hybrid kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai alternatif penyelesaian dalam pembahasan Plan of Development (POD) South Andaman.

Menurut Jose Rizal, proyek yang diperkirakan bernilai sekitar USD 7 miliar tersebut tidak boleh mengalami penundaan berkepanjangan karena dapat menghambat masuknya investasi strategis ke Indonesia.

Ia berharap keputusan yang diambil nantinya tidak hanya mempertimbangkan aspek keekonomian proyek, tetapi juga manfaat sosial dan ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat Aceh dalam jangka panjang.

Potensi gas South Andaman merupakan aset strategis yang dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus membuka peluang pembangunan industri baru di Aceh. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang mampu menyeimbangkan kepentingan seluruh pihak.

Melalui usulan skema hybrid, Asprindo menawarkan solusi yang memadukan efisiensi investasi dengan pemerataan manfaat ekonomi. Dengan komposisi 60 persen pengolahan melalui FPSO dan 40 persen melalui OPF di Lhokseumawe, proyek dinilai tetap menarik bagi investor sekaligus mampu menciptakan ribuan lapangan kerja, memperkuat pasokan energi daerah, dan mendorong pertumbuhan industri Aceh secara berkelanjutan.

Asprindo Dorong Kemitraan KDMP dan Ritel Modern untuk Perkuat Ekonomi Desa Secara Berkelanjutan

Asprindo Dorong Kemitraan KDMP dan Ritel Modern untuk Perkuat Ekonomi Desa Secara Berkelanjutan

Jakarta, 3 Juni 2026 – Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat perekonomian desa melalui pengembangan koperasi sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Inisiatif ini mendapat apresiasi dari Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) karena dinilai memiliki tujuan yang baik dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Namun demikian, Asprindo menilai pelaksanaan program tersebut perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pelaku usaha, tenaga kerja, maupun masyarakat yang selama ini telah bergantung pada keberadaan ritel modern. Oleh karena itu, Asprindo mengusulkan pendekatan kolaboratif melalui skema kemitraan antara KDMP dan ritel modern yang telah beroperasi, sehingga tujuan penguatan ekonomi desa dapat tercapai tanpa mengorbankan ekosistem usaha yang sudah berjalan.

Asprindo Apresiasi Tujuan Program KDMP

Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal, menyampaikan bahwa organisasi yang dipimpinnya mendukung visi pemerintah dalam memperkuat ekonomi desa melalui pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Meski demikian, ia meminta pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan penutupan sejumlah gerai ritel modern yang terjadi di beberapa wilayah bersamaan dengan pelaksanaan program KDMP.

Menurut Jose Rizal, apabila penutupan tersebut memang disebabkan oleh pelanggaran perizinan atau aturan zonasi, maka pemerintah perlu memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat.

“Meskipun ada bantahan bahwa penutupan gerai ini bersifat lokal dan dipicu oleh pelanggaran aturan perizinan daerah, kami sulit untuk menyatakan hal ini tidak memiliki keterkaitan dengan ekspansi KDMP. Karena tokh yang memberikan izin ke ritel modern, pemerintah daerah juga ‘kan? Mengapa baru sekarang ditutup setelah mereka beroperasi sekian lama? Atau mengapa mereka bisa mendapatkan izin beroperasi kalau memang melanggar aturan tentang zonasi?” ujar Jose Rizal.

Menurutnya, transparansi menjadi hal penting agar masyarakat memahami dasar kebijakan yang diambil dan tidak menimbulkan berbagai spekulasi di tengah proses pengembangan KDMP.

Penutupan Gerai Berpotensi Berdampak pada Masyarakat

Asprindo menilai keberadaan ritel modern selama ini telah menjadi bagian dari rantai distribusi kebutuhan pokok masyarakat, khususnya di wilayah desa dan kecamatan.

Apabila sejumlah gerai ditutup, masyarakat dikhawatirkan akan mengalami kesulitan memperoleh kebutuhan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah akses terhadap LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram yang selama ini banyak tersedia di gerai ritel modern.

Menurut Jose Rizal, warga di beberapa desa berpotensi harus kembali menempuh perjalanan berkilo-kilometer menuju kota kecamatan hanya untuk membeli kebutuhan pokok setelah gerai di daerahnya berhenti beroperasi.

Kondisi tersebut tentu dapat mengurangi kemudahan akses layanan yang selama ini telah dirasakan masyarakat.

Nasib Tenaga Kerja Lokal Juga Perlu Menjadi Perhatian

Selain berdampak terhadap konsumen, Asprindo juga menyoroti potensi dampak sosial yang dirasakan oleh para pekerja.

Jose Rizal menjelaskan bahwa satu gerai ritel modern rata-rata mempekerjakan sekitar 6 hingga 10 orang tenaga kerja lokal. Sebagian besar merupakan pemuda desa yang telah bekerja selama bertahun-tahun.

Apabila puluhan gerai harus ditutup, maka ratusan pekerja berpotensi kehilangan kepastian pekerjaan.

Sebagai contoh, Jose Rizal menyinggung informasi mengenai penutupan 25 gerai di Lombok Tengah. Jika setiap gerai mempekerjakan 6 hingga 10 orang, maka jumlah tenaga kerja yang terdampak tentu tidak sedikit.

Karena itu, Asprindo menilai kebijakan yang diambil perlu mempertimbangkan keberlangsungan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Kemitraan Menjadi Solusi yang Lebih Efektif

Untuk mendukung keberhasilan KDMP tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap pelaku usaha yang telah ada, Asprindo mengusulkan agar pemerintah mengedepankan skema kemitraan dibandingkan persaingan secara langsung.

Menurut Jose Rizal, gerai ritel modern yang ada saat ini bukanlah bisnis yang dibangun dalam waktu singkat. Sistem operasional yang mereka miliki merupakan hasil pengembangan selama lebih dari dua dekade.

Di dalamnya terdapat investasi besar pada berbagai aspek, mulai dari teknologi, sumber daya manusia, sistem operasional (Standard Operating Procedure/SOP), hingga jaringan pemasok yang telah terbentuk dengan baik.

Oleh sebab itu, Asprindo menilai akan sulit apabila gerai KDMP harus langsung bersaing secara head to head dengan ritel modern yang telah memiliki pengalaman panjang.

Sebaliknya, pola kemitraan justru dinilai mampu mempercepat penguatan kapasitas koperasi melalui proses pendampingan dan transfer pengetahuan.

Dalam skema tersebut, peritel modern dapat berperan sebagai mentor maupun saluran distribusi, sementara anggota KDMP dibina untuk menjadi pemasok produk lokal yang berkualitas.

Empat Usulan Asprindo untuk Pemerintah

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberhasilan program KDMP, Asprindo menyampaikan empat usulan kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Pertama, melakukan moratorium penutupan gerai ritel modern yang telah beroperasi hingga dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap dampaknya bagi masyarakat, tenaga kerja, dan rantai pasok usaha.

Kedua, melakukan kajian mendalam mengenai kelayakan bisnis KDMP, khususnya pada sektor ritel, agar tidak terjadi tumpang tindih dengan gerai yang sudah ada.

Ketiga, memprioritaskan kemitraan antara KDMP dan ritel modern sebagai strategi pengembangan koperasi. Pendekatan ini diyakini lebih efektif karena koperasi dapat belajar dari sistem yang telah terbukti berjalan baik.

Keempat, pemerintah didorong untuk lebih dahulu membenahi koperasi yang telah ada. Berdasarkan data yang disampaikan Asprindo, 51 persen koperasi di Indonesia masih tergolong kurang aktif, sehingga penguatan tata kelola dan kapasitas koperasi eksisting dinilai menjadi langkah yang sangat penting sebelum membentuk koperasi baru dalam jumlah besar.

Kolaborasi untuk Mewujudkan Ekonomi Desa yang Inklusif

Asprindo menegaskan bahwa seluruh usulan tersebut bertujuan untuk mendukung keberhasilan program pemerintah, bukan menghambatnya.

Menurut Jose Rizal, koperasi akan tumbuh kuat apabila dibangun di atas sistem yang matang serta mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

“KDMP akan kuat jika didukung sistem yang matang dan tidak terburu-buru,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Asprindo siap berdialog dengan seluruh pemangku kepentingan guna mencari solusi terbaik bagi pengembangan ekonomi desa.

Pada akhirnya, tujuan pemerintah dan Asprindo memiliki arah yang sama, yaitu menciptakan desa yang lebih maju, memperkuat koperasi sebagai penggerak ekonomi rakyat, sekaligus menjaga keberlangsungan lapangan kerja, pelaku usaha, dan akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok.

Dengan mengedepankan kolaborasi melalui kemitraan antara KDMP dan ritel modern, pembangunan ekonomi desa diharapkan dapat berlangsung secara inklusif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

ASPRINDO

Follow Sosial Media ASPRINDO

Design Website by Lafasy Digital