Prof. Jamaluddin Jompa Kembali Pimpin Unhas, Tegaskan Pentingnya Kolaborasi untuk Kemajuan Pendidikan dan Dunia Usaha

Prof. Jamaluddin Jompa Kembali Pimpin Unhas, Tegaskan Pentingnya Kolaborasi untuk Kemajuan Pendidikan dan Dunia Usaha

Jakarta – Anggota Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) Pusat, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., kembali dipercaya memimpin Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai rektor untuk periode 2026–2030. Kepercayaan tersebut menjadi bukti atas kepemimpinan dan kontribusinya dalam membawa Unhas terus berkembang, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sosok yang akrab disapa Prof JJ ini kembali terpilih setelah memperoleh dukungan mayoritas dalam pemungutan suara Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Hasanuddin pada 14 Januari 2026. Dalam proses pemilihan tersebut, Prof JJ meraih 23 suara dari total 24 anggota MWA, unggul atas dua kandidat lainnya. Hasil tersebut menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan terhadap kepemimpinannya untuk melanjutkan transformasi Universitas Hasanuddin selama lima tahun ke depan.

Bagi ASPRINDO, terpilihnya kembali Prof JJ bukan hanya menjadi kebanggaan bagi dunia pendidikan, tetapi juga menjadi inspirasi bahwa kepemimpinan yang mengedepankan kolaborasi, inovasi, dan semangat membangun mampu menghasilkan prestasi yang berkelanjutan.

Kepemimpinan Adalah Amanah Besar

Dalam sambutannya setelah resmi kembali menjabat sebagai Rektor Universitas Hasanuddin, Prof JJ menyampaikan bahwa amanah yang diberikan kepadanya merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab yang sangat besar.

Ia mengibaratkan tugas seorang rektor seperti menjadi nakhoda sebuah kapal besar yang sedang mengarungi lautan luas dengan kondisi yang tidak selalu mudah.

“Saya mengibaratkan amanah sebagai rektor seperti menjadi nakhoda sebuah kapal besar yang sedang mengarungi lautan luas dengan cuaca yang tidak selalu bersahabat,” ujar Prof JJ pada Selasa, 28 April 2026.

Analogi tersebut menggambarkan bahwa memimpin sebuah perguruan tinggi besar memerlukan visi yang jelas, kemampuan mengambil keputusan, serta keberanian menghadapi berbagai tantangan yang terus berubah.

Filosofi Pelaut Bugis Makassar Menjadi Pegangan

Sebagai putra Bugis Makassar, Prof JJ mengaku memiliki semangat yang lahir dari budaya maritim yang kuat.

Menurutnya, perjalanan memimpin Universitas Hasanuddin tidak lepas dari filosofi pelaut Bugis yang mengajarkan keberanian untuk terus melangkah meski menghadapi tantangan.

Ia mengutip pepatah Bugis:

“Kualleangi tallanga nah toalia.”

Pepatah tersebut memiliki makna bahwa ketika layar telah terkembang dan kemudi telah terpasang, maka pantang surut kembali ke pantai.

Filosofi ini menjadi simbol komitmen untuk terus bergerak maju, tetap teguh menghadapi tantangan, serta tidak mudah menyerah dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Nilai tersebut juga sejalan dengan semangat pembangunan bangsa yang membutuhkan keberanian, konsistensi, dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat.

Berhasil Membawa Unhas Melewati Masa Sulit Pandemi

Prof JJ juga mengenang perjalanan kepemimpinannya pada periode pertama yang dimulai di tengah pandemi COVID-19. Saat itu, Universitas Hasanuddin menghadapi tantangan besar akibat perubahan sistem pembelajaran, penyesuaian kebijakan, hingga kebutuhan untuk mengembangkan cara kerja yang lebih adaptif.

Meski demikian, menurutnya, seluruh civitas akademika Universitas Hasanuddin mampu menunjukkan ketangguhan luar biasa.

Dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga seluruh unit kerja berhasil beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan, sekaligus terus menghadirkan inovasi dalam proses pembelajaran maupun pengembangan institusi.

Prof JJ menyebut bahwa kemampuan adaptasi tersebut menjadi human capital yang sangat berharga bagi Universitas Hasanuddin.

Berkat semangat bersama tersebut, Unhas mampu terus menorehkan berbagai prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional setelah melewati masa pandemi.

Prestasi Tidak Pernah Dibangun oleh Satu Orang

Dalam pidatonya, Prof JJ menegaskan bahwa berbagai pencapaian Universitas Hasanuddin bukanlah hasil kerja individu. Menurutnya, keberhasilan sebuah organisasi hanya dapat dicapai apabila seluruh unsur di dalamnya memiliki tujuan yang sama dan mampu bekerja secara kolaboratif.

“Tidak ada pemain tunggal di Unhas. Unhas bisa mencapai berbagai prestasi karena semua unit melepaskan ego sektoral, saling menopang dan bergerak secara serentak,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan fondasi utama dalam membangun organisasi yang kuat dan berdaya saing. Prinsip tersebut tidak hanya relevan bagi dunia pendidikan, tetapi juga menjadi nilai penting dalam pengembangan dunia usaha.

Kolaborasi Menjadi Semangat ASPRINDO

Selain mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Hasanuddin, Prof JJ juga merupakan Anggota Dewan Pembina ASPRINDO Pusat.

Dalam kesempatan terpisah, ia menyampaikan harapannya agar ASPRINDO terus berkembang menjadi forum yang mampu mempertemukan para pengusaha Bumiputera untuk saling bermitra dan tumbuh bersama.

Menurutnya, kehadiran ASPRINDO bukanlah untuk menciptakan persaingan antar pengusaha, melainkan membangun kolaborasi yang memberikan manfaat bagi seluruh anggota.

“Bersatunya para pengusaha Pribumi (BumiPutera) di ASPRINDO bukan untuk bersaing tapi berkolaborasi dan bersinergi untuk tumbuh bersama,” ungkapnya.

Semangat tersebut sejalan dengan visi ASPRINDO dalam membangun ekosistem usaha yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Mendorong Pengusaha Indonesia Berdaya Saing Internasional

Prof JJ juga berharap agar seluruh jajaran DPP maupun DPW ASPRINDO dapat terus berkembang menjadi kekuatan nasional yang mampu melahirkan lebih banyak pengusaha Indonesia dengan daya saing global.

Ia menilai bahwa pengusaha Indonesia perlu membangun kemitraan yang kuat, baik dengan pelaku usaha lokal maupun mitra internasional, agar mampu memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.

Kolaborasi lintas daerah, pertukaran pengalaman, inovasi, serta penguatan jaringan bisnis menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan ekonomi yang semakin terbuka.

Dengan semakin kuatnya ekosistem pengusaha Bumiputera, diharapkan akan lahir lebih banyak pelaku usaha yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Inspirasi Kepemimpinan untuk Indonesia

Kepercayaan yang kembali diberikan kepada Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. sebagai Rektor Universitas Hasanuddin periode 2026–2030 menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang berlandaskan integritas, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi mampu menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Bagi ASPRINDO, nilai-nilai tersebut juga menjadi landasan dalam membangun organisasi dan memperkuat jaringan pengusaha Bumiputera di seluruh Indonesia.

Melalui semangat untuk terus berkolaborasi, saling mendukung, dan membangun daya saing hingga tingkat internasional, ASPRINDO optimistis dapat menjadi wadah yang mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha Indonesia yang tangguh dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

ASPRINDO Ajak Pengusaha Membangun Bisnis Melalui Kolaborasi dan Ekosistem yang Kuat

ASPRINDO Ajak Pengusaha Membangun Bisnis Melalui Kolaborasi dan Ekosistem yang Kuat

Membangun bisnis bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak pelaku usaha menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan produk, meningkatkan kualitas layanan, hingga mencari pelanggan baru. Namun, tidak sedikit yang merasa usahanya berjalan di tempat meskipun telah bekerja keras setiap hari.

Sering kali, penyebab sebuah bisnis sulit berkembang bukan karena produknya kurang baik atau kualitas jasanya rendah. Justru, tantangan terbesar yang dihadapi banyak pengusaha adalah kurangnya relasi bisnis, terbatasnya akses pasar, dan belum memiliki ekosistem yang mampu mendukung pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.

Inilah yang menjadi perhatian ASPRINDO (Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia). Sebagai organisasi yang menghimpun para pengusaha bumiputera dari berbagai sektor usaha, ASPRINDO hadir untuk membangun ekosistem bisnis yang kolaboratif sehingga para pelaku usaha tidak lagi harus berjuang sendirian.

Mengapa Banyak Bisnis Sulit Berkembang?

Tidak sedikit pengusaha yang memiliki produk berkualitas, tetapi kesulitan meningkatkan penjualan. Ada pula yang telah memiliki pelanggan tetap, namun belum mampu memperluas pasar ke daerah lain.

Kondisi tersebut umumnya bukan disebabkan oleh kualitas produk, melainkan karena terbatasnya jaringan bisnis yang dimiliki.

Tanpa relasi yang kuat, seorang pengusaha akan lebih sulit menemukan mitra usaha, memperoleh informasi peluang bisnis, hingga menjangkau pasar yang lebih luas. Akibatnya, perkembangan usaha menjadi lebih lambat dibandingkan bisnis yang tumbuh di dalam lingkungan kolaboratif.

Selain itu, banyak pelaku usaha juga mengalami kendala dalam memperoleh akses terhadap pelatihan, pendampingan, pembiayaan, maupun informasi mengenai peluang investasi yang dapat mempercepat perkembangan bisnis mereka.

Bisnis Tidak Dibangun Sendirian

Di dunia usaha modern, keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kekuatan jaringan yang dimiliki.

Perusahaan-perusahaan besar pun berkembang karena mampu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemasok, distributor, komunitas bisnis, pemerintah, hingga investor.

Prinsip yang sama juga berlaku bagi UMKM maupun pengusaha yang baru memulai usaha.

Semakin luas jaringan yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan pelanggan baru, memperluas pasar, menemukan mitra strategis, hingga membuka kesempatan kerja sama yang saling menguntungkan.

Karena itu, membangun bisnis bersama komunitas yang tepat menjadi salah satu strategi penting untuk mempercepat pertumbuhan usaha.

ASPRINDO Hadir Membangun Ekosistem Bisnis yang Kolaboratif

Sebagai organisasi pengusaha, ASPRINDO hadir bukan hanya sebagai tempat berkumpulnya pelaku usaha, tetapi sebagai wadah untuk membangun ekosistem bisnis yang saling mendukung.

Melalui berbagai program yang dijalankan, ASPRINDO mendorong anggotanya untuk saling terhubung, berbagi pengalaman, dan membuka peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat bersama.

Dengan bergabung dalam komunitas yang memiliki visi yang sama, setiap anggota memiliki kesempatan untuk berkembang lebih cepat dibandingkan apabila harus menjalankan bisnis secara sendiri-sendiri.

Ekosistem inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama ASPRINDO dalam membantu para pengusaha meningkatkan daya saing usahanya.

Manfaat Bergabung Bersama ASPRINDO

Bergabung dengan ASPRINDO memberikan berbagai manfaat yang dapat mendukung pertumbuhan usaha dalam jangka panjang.

1. Memperluas Networking

Jaringan bisnis merupakan aset yang sangat berharga bagi setiap pengusaha.

Melalui ASPRINDO, anggota dapat bertemu dengan pelaku usaha dari berbagai bidang industri sehingga membuka peluang untuk saling bertukar pengalaman, memperluas koneksi, hingga membangun kerja sama bisnis baru.

Semakin luas jaringan yang dimiliki, semakin besar pula kesempatan untuk menemukan peluang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

2. Membuka Peluang Kolaborasi

Kolaborasi sering kali menjadi kunci lahirnya peluang usaha baru.

Di ASPRINDO, para anggota dapat menjalin kemitraan dalam berbagai bentuk, mulai dari kerja sama pemasaran, distribusi produk, pengadaan barang dan jasa, hingga pengembangan proyek bersama.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat bagi seluruh anggota sekaligus memperkuat daya saing dunia usaha nasional.

3. Meningkatkan Kapasitas Usaha

ASPRINDO juga mendorong peningkatan kompetensi para anggotanya melalui berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, seminar, diskusi bisnis, serta pendampingan usaha.

Program-program tersebut dirancang agar para pengusaha mampu mengikuti perkembangan dunia bisnis yang terus berubah, termasuk dalam bidang digitalisasi, pemasaran, manajemen usaha, hingga pengembangan strategi bisnis.

Dengan kapasitas yang terus meningkat, pelaku usaha akan lebih siap menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia.

4. Mendapatkan Edukasi dan Exposure Bisnis

Selain membangun jaringan, anggota ASPRINDO juga memperoleh kesempatan untuk meningkatkan eksposur usahanya.

Melalui berbagai kegiatan organisasi, produk maupun jasa anggota memiliki peluang untuk lebih dikenal oleh komunitas bisnis yang lebih luas.

Eksposur tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap bisnis yang dijalankan.

Siapa Saja yang Bisa Bergabung?

ASPRINDO terbuka bagi siapa saja yang memiliki semangat untuk bertumbuh dan berkolaborasi.

Keanggotaan tidak terbatas pada pelaku usaha yang sudah besar, tetapi juga mencakup berbagai kalangan, antara lain:

  • UMKM yang ingin mengembangkan usahanya.
  • Pebisnis pemula yang baru memulai perjalanan bisnis.
  • Owner perusahaan, baik skala kecil, menengah, maupun besar.
  • Profesional dan entrepreneur yang ingin memperluas jaringan sekaligus meningkatkan kapasitas bisnis.

Dengan keberagaman latar belakang tersebut, ASPRINDO menjadi ruang yang tepat untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan membangun sinergi antaranggota.

Saatnya Naik Level Bersama ASPRINDO

Di tengah persaingan dunia usaha yang semakin dinamis, pengusaha tidak cukup hanya memiliki produk yang berkualitas. Dibutuhkan jaringan yang kuat, akses terhadap peluang, serta komunitas yang mampu mendorong pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

ASPRINDO hadir sebagai mitra bagi para pengusaha untuk membangun ekosistem bisnis yang lebih kuat, kolaboratif, dan berdaya saing.

Karena bisnis yang besar tidak dibangun sendirian, melainkan tumbuh bersama komunitas yang tepat.

Saatnya naik level bersama ASPRINDO. Perluas networking, buka peluang kolaborasi, tingkatkan kapasitas usaha, dan jadilah bagian dari komunitas pengusaha yang terus bergerak membangun ekonomi Indonesia.

Kampung Industri vs Desa Biasa : Mengapa Ekosistem Menjadi Kunci Kemajuan Ekonomi Desa?

Kampung Industri vs Desa Biasa : Mengapa Ekosistem Menjadi Kunci Kemajuan Ekonomi Desa?

Indonesia dikenal sebagai negara dengan ribuan desa yang memiliki sumber daya alam melimpah, hasil pertanian yang beragam, perikanan yang kaya, serta masyarakat yang kreatif dan produktif. Hampir setiap desa memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan masyarakat. Namun, pada kenyataannya, tidak semua desa mampu mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

Pertanyaannya, mengapa ada desa yang berkembang pesat menjadi pusat kegiatan ekonomi, sementara desa lain masih kesulitan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya?

Menurut Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO), perbedaannya bukan semata-mata terletak pada besarnya potensi yang dimiliki, melainkan pada ekosistem usaha yang dibangun. Inilah konsep yang menjadi dasar pengembangan Kampung Industri, yaitu membangun seluruh rantai ekonomi desa secara terintegrasi agar mampu menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat.

Potensi Desa Tidak Akan Berkembang Tanpa Pengelolaan yang Tepat

Hampir seluruh desa di Indonesia memiliki keunggulan masing-masing. Ada desa yang terkenal sebagai sentra pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan tangan, hingga industri makanan.

Namun sering kali potensi tersebut hanya berhenti pada tahap produksi bahan mentah. Akibatnya, masyarakat memperoleh keuntungan yang relatif kecil karena nilai tambah produk dinikmati oleh pihak lain yang melakukan proses pengolahan maupun pemasaran.

Sebagai contoh, petani hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah dengan harga yang relatif rendah. Nelayan menjual hasil tangkapan langsung tanpa proses pengolahan sehingga harga sangat bergantung pada kondisi pasar. Begitu pula pelaku UMKM yang memproduksi barang sendiri, tetapi masih kesulitan menemukan pasar yang lebih luas.

Situasi seperti ini menyebabkan aktivitas ekonomi berjalan sendiri-sendiri dan belum mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang optimal.

Desa Biasa: Usaha Berjalan Sendiri-Sendiri

Pada desa yang belum memiliki ekosistem usaha yang terintegrasi, setiap pelaku usaha bekerja secara mandiri.

Petani fokus memproduksi hasil panen tanpa memiliki akses terhadap industri pengolahan. Nelayan menjual hasil tangkapan dalam bentuk segar tanpa proses hilirisasi. Pelaku UMKM memasarkan produknya secara terbatas dengan jangkauan pasar yang masih kecil.

Akibatnya, muncul berbagai tantangan seperti:

  • Nilai jual produk masih rendah.
  • Harga komoditas sering tidak stabil.
  • Pasar yang terbatas.
  • Pendapatan masyarakat relatif kecil.
  • Rantai ekonomi desa belum berkembang secara berkelanjutan.

Padahal desa sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang apabila seluruh pelaku usaha saling terhubung dalam satu sistem yang saling mendukung.

Kampung Industri Menghubungkan Seluruh Rantai Ekonomi

Berbeda dengan desa biasa, Kampung Industri mengembangkan seluruh aktivitas ekonomi dalam satu ekosistem yang saling terintegrasi.

Mulai dari proses produksi (hulu), kemudian dilanjutkan dengan pengolahan, distribusi, hingga pemasaran (hilir) dilakukan secara terencana sehingga setiap tahapan mampu memberikan nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan.

Melalui sistem tersebut, hasil pertanian tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk siap konsumsi. Hasil perikanan dapat diproses menjadi berbagai produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Produk UMKM juga memiliki peluang lebih besar untuk dipasarkan hingga tingkat nasional bahkan ekspor.

Dengan adanya integrasi tersebut, manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh satu pelaku usaha, tetapi tersebar kepada masyarakat secara lebih luas.

Nilai Tambah Menjadi Kunci Peningkatan Pendapatan

Salah satu perbedaan paling penting antara desa biasa dan Kampung Industri adalah kemampuan menciptakan nilai tambah (value added).

Produk yang telah melalui proses pengolahan memiliki harga jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.

Selain itu, kualitas produk menjadi lebih terjaga karena proses produksi dilakukan dengan standar yang lebih baik. Produk juga memiliki daya saing yang lebih tinggi sehingga mampu memasuki pasar modern maupun pasar ekspor.

Ketika nilai tambah meningkat, maka pendapatan masyarakat juga ikut meningkat. Inilah yang menjadi dasar terciptanya pertumbuhan ekonomi desa yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Ekosistem Terintegrasi Membuka Pasar yang Lebih Luas

Dalam konsep Kampung Industri, pemasaran tidak lagi dilakukan secara individu.

Pelaku usaha memperoleh dukungan dalam membangun branding, memperluas jaringan distribusi, serta memasarkan produk ke berbagai wilayah.

Dengan demikian, produk desa tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar, tetapi juga memiliki peluang masuk ke pasar nasional hingga internasional.

Ekosistem yang saling terhubung juga membuat proses produksi menjadi lebih efisien karena setiap pelaku usaha memiliki peran masing-masing dalam rantai ekonomi.

Kondisi inilah yang mendorong pertumbuhan ekonomi desa berlangsung secara berkelanjutan.

Peran ASPRINDO dalam Membangun Kampung Industri

Sebagai organisasi yang berkomitmen terhadap pemberdayaan pengusaha bumiputera, ASPRINDO turut berperan dalam mendorong lahirnya Kampung Industri di berbagai daerah.

Peran tersebut diwujudkan melalui berbagai program, antara lain:

  • Membuka akses pasar bagi produk lokal.
  • Memberikan pendampingan usaha kepada pelaku UMKM.
  • Memfasilitasi akses terhadap kebijakan, pembiayaan, dan investasi.
  • Mengukur serta menjaga keberhasilan ekosistem usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan ini, ASPRINDO ingin memastikan bahwa potensi desa tidak berhenti sebagai sumber daya semata, tetapi benar-benar menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Potensi Harus Diubah Menjadi Kekuatan Ekonomi

Keberhasilan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hasil produksi, tetapi oleh kemampuan mengelola potensi tersebut menjadi sistem ekonomi yang saling mendukung.

Potensi yang besar tidak akan memberikan dampak maksimal apabila setiap pelaku usaha berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, ketika seluruh proses mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran diintegrasikan dalam satu ekosistem, desa akan memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat.

Konsep Kampung Industri menunjukkan bahwa pembangunan desa bukan hanya tentang menghasilkan lebih banyak produk, tetapi juga tentang menciptakan nilai tambah, memperluas pasar, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Karena itu, potensi saja tidak cukup. Potensi harus dikelola, dikembangkan, dan diintegrasikan agar menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.

Bersama ASPRINDO, mari terus membangun desa yang produktif, mandiri, dan berdaya saing. Dengan semangat kolaborasi, setiap potensi lokal dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Kita harus tetap bergerak, jangan berhenti. ASPRINDO Jaya, Indonesia Kaya.

Arah Ekonomi Prabowo Dinilai Mengarah ke Konsep Soemitronomics

Arah Ekonomi Prabowo Dinilai Mengarah ke Konsep Soemitronomics

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Didin S Damanhuri, menilai kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam lebih dari satu tahun terakhir mulai menunjukkan kecenderungan mengarah pada pendekatan Soemitronomics.

Hal tersebut disampaikan Didin dalam keterangan tertulis pada Kamis, 26 Maret 2026.

Konsep Soemitronomics sendiri merujuk pada pemikiran Soemitro Djojohadikusumo, yang menitikberatkan pada penerapan prinsip Pasal 33 UUD 1945. Dalam kerangka ini, perekonomian nasional dijalankan dengan keseimbangan antara peran negara, koperasi, dan sektor swasta.

Didin menjelaskan bahwa model tersebut memiliki kemiripan dengan sistem sosial demokrasi di negara-negara Skandinavia seperti Swedia, Finlandia, Denmark, dan Norwegia. Di negara-negara ini, sektor swasta tetap berkembang, tetapi berada dalam pengawasan dan regulasi negara yang ketat, termasuk penerapan pajak progresif, jaminan sosial, serta aturan anti-monopoli.

“Swasta tidak berjalan dalam free fight liberalism, tetapi tetap tunduk pada regulasi negara,” ujar Didin.

Dalam sistem tersebut, koperasi dan sektor swasta dapat tumbuh berdampingan dalam mekanisme pasar yang sehat, tanpa dominasi berlebihan dari kekuatan modal.

Meski demikian, Didin menilai kondisi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait praktik perburuan rente (rent seeking). Praktik ini merujuk pada upaya meraih keuntungan melalui kedekatan dengan kekuasaan, bukan melalui inovasi atau efisiensi usaha.

Ia juga mengutip pemikiran Mohammad Hatta yang menegaskan bahwa sistem ekonomi Pancasila terdiri dari tiga pilar utama, yaitu koperasi, BUMN, dan sektor swasta. Dalam konteks ini, sektor swasta tetap memiliki ruang berkembang selama tidak terlibat dalam praktik rente.

Selain itu, Didin menekankan pentingnya peran UMKM yang saat ini mendominasi lebih dari 99 persen pelaku usaha di Indonesia. Menurutnya, pemerintah perlu mendorong UMKM agar dapat naik kelas, baik menjadi koperasi yang efisien maupun berkembang menjadi perusahaan swasta yang inovatif.

“Kita harus dorong UMKM naik kelas, sebagian menjadi koperasi efisien dan sebagian lagi menjadi swasta inovatif,” katanya.

Didin juga menyoroti bahwa kolusi antara pengusaha dan elite politik masih menjadi salah satu hambatan utama dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi rakyat. Ia menilai berbagai kebijakan ekonomi di masa lalu belum sepenuhnya berhasil mencapai tujuan tersebut.

Ke depan, ia berharap pemerintahan Prabowo mampu menjalankan ekonomi Pancasila secara konsisten dengan menekan praktik rente. “Ekonomi harus menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan, bukan kapital,” tegasnya.

Kampung Industri: Strategi Membangun Ekonomi Desa Berbasis Potensi Lokal yang Berkelanjutan

Kampung Industri: Strategi Membangun Ekonomi Desa Berbasis Potensi Lokal yang Berkelanjutan

Indonesia memiliki ribuan desa dengan kekayaan sumber daya alam, budaya, dan kreativitas masyarakat yang sangat beragam. Mulai dari hasil pertanian, peternakan, perikanan, hingga potensi pariwisata dan ekonomi kreatif, setiap daerah memiliki keunggulan yang dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi. Namun, potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila hanya dijual sebagai bahan mentah atau dikelola secara terpisah tanpa adanya sistem yang terintegrasi.

Melalui konsep Kampung Industri, Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) mendorong pembangunan ekonomi desa berbasis potensi lokal yang dikelola secara terpadu. Konsep ini bertujuan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat UMKM, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Kampung Industri Mengubah Potensi Menjadi Kekuatan Ekonomi

Kampung Industri merupakan model pengembangan ekonomi yang berfokus pada sektor unggulan di setiap daerah. Berbeda dengan pola ekonomi desa yang hanya menghasilkan bahan mentah, Kampung Industri menghubungkan seluruh rantai usaha mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran.

Dengan sistem yang terintegrasi, hasil pertanian, perikanan, peternakan, maupun produk kreatif masyarakat tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Pendekatan ini memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat yang lebih besar karena nilai tambah produk tetap berada di desa dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi lokal.

Menciptakan Lapangan Kerja Baru di Daerah

Salah satu tujuan utama Kampung Industri adalah membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat desa.

Ketika sektor unggulan berkembang menjadi sebuah kawasan industri berbasis potensi lokal, kebutuhan tenaga kerja juga akan meningkat. Tidak hanya pada proses produksi, tetapi juga pada pengolahan, pengemasan, distribusi, pemasaran, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.

Semakin banyak aktivitas ekonomi yang berkembang di desa, semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh pekerjaan tanpa harus meninggalkan daerah asalnya.

Dengan demikian, Kampung Industri dapat membantu mengurangi urbanisasi sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di wilayah pedesaan.

Meningkatkan Nilai Tambah Produk Lokal

Selama ini banyak hasil pertanian, peternakan, maupun perikanan dijual dalam bentuk bahan mentah dengan harga yang relatif rendah.

Melalui Kampung Industri, komoditas tersebut didorong untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.

Sebagai contoh, hasil pertanian dapat dikembangkan menjadi industri bahan pangan (food ingredient industry), tepung, produk olahan, maupun berbagai produk siap konsumsi.

Pada sektor peternakan, pengembangan dapat dilakukan melalui pembibitan, penggemukan sapi, hingga pengolahan hasil peternakan menjadi produk bernilai tinggi.

Dengan meningkatnya nilai tambah, daya saing produk lokal ikut meningkat sehingga mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional.

Memperkuat UMKM sebagai Penggerak Ekonomi Desa

Keberhasilan Kampung Industri tidak terlepas dari peran UMKM.

Dalam konsep ini, UMKM menjadi bagian penting dari rantai industri desa. Pelaku usaha tidak lagi bekerja sendiri-sendiri, melainkan terhubung dalam sebuah ekosistem yang saling mendukung.

Mulai dari penyedia bahan baku, pengolahan, pengemasan, distribusi hingga pemasaran dilakukan secara kolaboratif sehingga menciptakan efisiensi sekaligus memperluas peluang usaha.

Dengan dukungan ekosistem tersebut, UMKM memiliki kesempatan berkembang lebih cepat serta mampu menghasilkan produk yang memiliki daya saing lebih tinggi.

Tiga Sektor Prioritas Kampung Industri

Pada tahap awal pengembangan, Kampung Industri difokuskan pada tiga sektor utama yang memiliki potensi besar di berbagai daerah Indonesia.

1. Pertanian dan Peternakan

Indonesia memiliki sumber daya pertanian dan peternakan yang sangat melimpah.

Melalui Kampung Industri, hasil panen maupun hasil peternakan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi.

Pengembangan industri pangan, pembibitan, hingga penggemukan sapi menjadi contoh bagaimana sektor ini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Tujuan utamanya adalah menciptakan nilai tambah produk pertanian, mengurangi ketergantungan impor bahan pangan, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

2. Kelautan dan Perikanan

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi kelautan yang sangat besar.

Kampung Industri mendorong pengelolaan hasil laut secara terintegrasi mulai dari proses penangkapan, pengolahan, distribusi hingga pemasaran.

Pendekatan ini bertujuan meningkatkan nilai ekonomi hasil laut melalui inovasi produk, memperkuat kesejahteraan nelayan, membangun industri pesisir yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir.

Dengan sistem tersebut, potensi kelautan Indonesia dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pesisir.

3. Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Selain sektor pangan dan kelautan, Kampung Industri juga mengembangkan potensi pariwisata serta ekonomi kreatif.

Keindahan alam, budaya lokal, kerajinan tangan, kuliner, hingga berbagai karya kreatif masyarakat merupakan aset yang memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dikelola secara profesional.

Melalui pengembangan desa wisata dan industri ekonomi kreatif, masyarakat didorong menciptakan produk maupun jasa yang memiliki nilai tambah sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.

Selain membuka lapangan kerja baru, sektor ini juga meningkatkan pendapatan masyarakat serta mendorong inovasi dan kreativitas desa.

Kampung Industri Mewujudkan Ekonomi Desa yang Mandiri

Konsep Kampung Industri bukan sekadar membangun kawasan produksi, tetapi menciptakan ekosistem ekonomi desa yang terintegrasi.

Melalui kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan, setiap potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

ASPRINDO meyakini bahwa pembangunan ekonomi desa harus dimulai dari potensi yang dimiliki setiap daerah. Dengan pengelolaan yang tepat, desa tidak hanya menjadi penghasil bahan baku, tetapi juga menjadi pusat industri yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat UMKM, dan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Kampung Industri adalah wujud nyata pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berkeadilan. Melalui kolaborasi, inovasi, dan pengelolaan yang terintegrasi, desa dapat menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

Bersama Wujudkan Kampung Industri di Indonesia

Potensi desa akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika dikelola melalui kolaborasi dan ekosistem yang terintegrasi. ASPRINDO mengajak pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun Kampung Industri sebagai penggerak ekonomi daerah yang mandiri dan berkelanjutan.

Mari bergabung bersama ASPRINDO dan menjadi bagian dari gerakan membangun ekonomi desa Indonesia.

Asprindo dan Desa Emas Perkuat Kolaborasi Bangun Ekonomi Desa Berbasis Industri Lokal

Asprindo dan Desa Emas Perkuat Kolaborasi Bangun Ekonomi Desa Berbasis Industri Lokal

Jakarta, 20 Februari 2026 – Upaya memperkuat perekonomian berbasis desa terus menjadi perhatian berbagai pihak di Indonesia. Salah satu langkah nyata dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) yang memperkuat kerja sama dengan gerakan pembangunan desa yang dikenal dengan Desa Emas. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dari tingkat akar rumput sekaligus menciptakan multiplier effect bagi perekonomian nasional.

Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal, menyampaikan bahwa hubungan antara Asprindo dan Desa Emas sebenarnya telah terjalin cukup lama. Namun, pada tahun 2026 ini kedua pihak sepakat untuk memperkuat kerja sama agar dampaknya terhadap masyarakat desa semakin nyata.

“Cara kita sama, yaitu menggerakkan perekonomian dari bawah, ya dari desa itu. Kita membina, mendampingi, memberikan pelatihan pada masyarakat pedesaan, agar bisa membangun dan mengembangkan potensi yang ada di daerah mereka. Kita pun akan membuka akses pasar bagi produk-produk unggulan tersebut,” kata Jose dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 20 Februari 2026.

Ekonomi Kuat Dimulai dari Desa

Menurut Jose Rizal, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus dimulai dari tingkat paling dasar, yaitu desa. Desa memiliki potensi sumber daya alam, budaya, serta tenaga kerja yang besar. Namun, potensi tersebut sering kali belum dioptimalkan karena keterbatasan akses pasar, teknologi, dan pendampingan usaha.

Melalui kolaborasi antara Asprindo dan Desa Emas, masyarakat desa didorong untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang dimiliki. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi yang produktif.

Jose menjelaskan bahwa ketika perekonomian desa bergerak, maka akan tercipta efek berantai atau multiplier effect yang mendorong pertumbuhan ekonomi secara lebih luas.

“Dengan menggerakkan perekonomian daerah, maka akan terbentuk multiplier effect yang akan mendorong roda perekonomian, tak hanya lokal tapi juga nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa ekonomi akan menjadi lebih kuat jika dibangun dari bawah, karena masyarakat menjadi aktor utama dalam proses pembangunan ekonomi.

“Perekonomian akan kuat, karena ekonominya dibangun dari bawah. Masyarakat juga menjadi sejahtera karena usaha dijalankan secara profesional dan berbasis teknologi, namun tetap mengikuti nilai-nilai adat yang ada di daerah tersebut,” tambahnya.

Kolaborasi Program Kampung Industri dan Desa Emas

Ketua Dewan Pembina Desa Emas, Aries Muftie, menjelaskan bahwa pertemuan antara kedua pihak dilakukan untuk menyelaraskan berbagai program yang dimiliki masing-masing organisasi. Dengan penyelarasan ini, diharapkan kolaborasi dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa.

Menurut Aries, visi dan misi antara Asprindo dan Desa Emas memiliki kesamaan yang kuat, terutama dalam mendorong lahirnya industri berbasis desa.

“Visi dan misi kita ini sama, yaitu satu desa, satu industri. Sehingga, kami memutuskan lebih berkolaborasi. Asprindo punya Kampung Industri, Desa Emas punya program Patriot Desa dan Permata,” kata Aries.

Program Kampung Industri yang digagas Asprindo bertujuan menciptakan ekosistem usaha berbasis masyarakat di suatu wilayah desa. Sementara itu, gerakan Desa Emas melalui program Patriot Desa dan Permata fokus pada penguatan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pengembangan potensi lokal desa.

Dengan kolaborasi ini, kedua program tersebut diharapkan dapat saling melengkapi dan mempercepat proses pembangunan ekonomi desa.

Sejalan dengan Asta Cita Presiden

Aries Muftie juga menilai bahwa kerja sama antara Asprindo dan Desa Emas sejalan dengan visi pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Dalam konsep pembangunan tersebut, sebagian besar program diarahkan pada penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan berbasis desa.

Salah satu program yang dinilai memiliki keterkaitan dengan gerakan ekonomi desa adalah rencana pembentukan 88 ribu koperasi desa dan kelurahan.

“Salah satunya yang betul-betul berelasi walaupun agak ambisius, adalah program 88 ribu koperasi desa dan kelurahan,” ujar Aries yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Pokja Industri Pedesaan di Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) pada periode 2016–2019.

Program tersebut dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ekonomi desa, terutama jika didukung dengan pengembangan industri lokal dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Menjawab Tantangan Sumber Daya Manusia

Selain aspek ekonomi, kolaborasi antara Asprindo dan Desa Emas juga diharapkan mampu menjawab salah satu tantangan besar yang dihadapi Indonesia, yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Aries menilai bahwa pembangunan desa tidak hanya berbicara tentang infrastruktur atau investasi ekonomi, tetapi juga tentang peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha, memanfaatkan teknologi, dan mengembangkan potensi lokal.

Melalui program pelatihan, pendampingan usaha, serta akses jaringan pasar yang dimiliki Asprindo, masyarakat desa diharapkan dapat meningkatkan kapasitasnya sebagai pelaku usaha yang mandiri dan kompetitif.

Kolaborasi ini juga diharapkan mampu membuka peluang bagi lahirnya wirausahawan baru dari desa yang mampu membawa produk-produk lokal menembus pasar nasional bahkan internasional.

Dengan sinergi yang kuat antara organisasi pengusaha dan gerakan pembangunan desa, Asprindo dan Desa Emas optimistis bahwa ekonomi desa dapat menjadi fondasi utama dalam memperkuat perekonomian nasional di masa depan.

Bangun Ekonomi Lokal, ASPRINDO Siapkan Kampung Industri Kedua di Sukoharjo Berbasis Pertanian

Bangun Ekonomi Lokal, ASPRINDO Siapkan Kampung Industri Kedua di Sukoharjo Berbasis Pertanian

Sukoharjo, 18 Februari 2026 – Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekonomi lokal melalui program Kampung Industri. Setelah proyek pertama berfokus pada sektor perikanan, kini ASPRINDO mempersiapkan kampung industri kedua yang menyasar sektor pertanian di Kabupaten Sukoharjo.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang ASPRINDO dalam membangun kemandirian ekonomi desa berbasis potensi sumber daya lokal.

Empat Desa Jadi Embrio Kampung Industri Pertanian

Ketua Umum ASPRINDO, Jose Rizal, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan penandatanganan kerja sama dengan empat desa di Sukoharjo. Desa-desa tersebut akan menjadi embrio pengembangan Kampung Industri bidang pertanian.

“Baru kemarin, kami melakukan penandatanganan kerja sama dengan 4 desa di Sukoharjo yang akan menjadi embrio kampung industri bidang pertanian, masing-masing Desa Melur, Beluk, Kedungwaru, dan Banjarsari,” ujar Jose, Rabu (18/2/2026).

Dalam acara penandatanganan tersebut, turut hadir Kepala Dinas Pengembangan Masyarakat Desa Kabupaten Sukoharjo, Sigit Nugroho, yang mewakili Bupati Sukoharjo. Kehadiran pemerintah daerah menunjukkan dukungan terhadap program pemberdayaan ekonomi desa ini.

Empat desa tersebut dipilih karena dinilai memiliki potensi pertanian yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan terintegrasi.

 

Dimulai dari Desa Melur dengan Beras Organik

Sebagai langkah awal, pengembangan akan dimulai dari Desa Melur. Desa ini telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mengembangkan beras organik.

“Kami akan mulai dari Desa Melur dimana Bumdesnya sudah mengembangkan beras organik, yaitu beras yang tidak mengandung residu bahan kimia selama proses penanamannya. Kami menyebutnya beras sehat,” kata Jose.

Beras organik atau beras sehat ini diproduksi tanpa penggunaan residu bahan kimia dalam proses penanaman, sehingga memiliki nilai tambah dari sisi kesehatan dan kualitas. Produk ini diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas, baik regional maupun nasional.

Pengembangan pertanian berbasis organik juga sejalan dengan tren konsumen yang semakin sadar akan pentingnya pangan sehat dan ramah lingkungan.

Peran Strategis Pertanian bagi Kemandirian Pangan

Jose menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran yang sangat besar dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa. Tidak hanya itu, pertanian juga menjadi kunci dalam memastikan kemandirian dan swasembada pangan nasional.

“Indonesia ini memiliki sumber daya pangan, baik dari darat maupun laut yang berlimpah. Tapi, sayangnya hingga saat ini, Indonesia masih harus mengimpor beberapa produk pangan. Ini lah yang ingin diubah oleh Asprindo dalam proyeksi jangka panjang,” ujarnya.

Menurutnya, dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, desa-desa di Indonesia mampu menjadi pusat produksi pangan yang kuat dan berdaya saing.

Pendampingan Menyeluruh: Dari Produksi hingga Pemasaran

Dalam pengembangan Kampung Industri pertanian di Sukoharjo, ASPRINDO tidak hanya hadir sebagai mitra simbolis, tetapi akan memberikan pendampingan menyeluruh.

Pendampingan tersebut mencakup upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian, manajemen usaha, akses pemodalan, hingga pemasaran produk.

“Yang Asprindo inginkan adalah produk pertanian itu berkualitas, terserap oleh pasar, mampu menjangkau pasar yang lebih luas, dan yang paling penting, mampu menggerakkan perekonomian lokal. Artinya, kesejahteraan petani itu bisa terwujud,” jelas Jose.

Melalui jaringan pengusaha yang tergabung dalam ASPRINDO, produk pertanian desa diharapkan memiliki akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan. Dengan demikian, petani tidak lagi kesulitan dalam memasarkan hasil panennya.

Dampak pada Ekonomi Lokal

Program Kampung Industri dirancang untuk menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi ekonomi desa. Ketika hasil pertanian meningkat dan terserap pasar, maka pendapatan petani naik. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong aktivitas ekonomi lainnya di desa, seperti perdagangan, jasa, hingga usaha kecil.

Ekonomi desa yang bergerak aktif akan memperkuat struktur ekonomi lokal dari akar rumput. Hal ini juga membantu mengurangi ketergantungan masyarakat desa terhadap pekerjaan di luar daerah.

Rencana Jangka Panjang: Berbasis Potensi Wilayah

Jose menambahkan bahwa ke depan, ASPRINDO akan terus mengembangkan Kampung Industri di berbagai sektor lainnya, seperti peternakan, kelautan, dan ekonomi kreatif.

“Rencana jangka panjang Asprindo adalah membangun kampung industri di banyak wilayah Indonesia, yang berbasis pada potensi sumber daya masing-masing wilayah. Jadi setiap daerah nanti akan ada produk unggulannya. Jika membutuhkan produk dari wilayah lain, bisa dilakukan pertukaran produk atau transaksi ekonomi,” ujarnya.

Konsep ini menempatkan setiap daerah sebagai pusat keunggulan tertentu sesuai potensi lokalnya. Dengan demikian, antarwilayah dapat saling mendukung melalui pertukaran produk dan kerja sama ekonomi.

Mewujudkan Kesejahteraan dari Desa

Program Kampung Industri ASPRINDO di Sukoharjo menjadi langkah konkret dalam membangun ekonomi dari desa. Dengan fokus pada sektor pertanian, pendampingan yang komprehensif, serta dukungan pemerintah daerah, diharapkan program ini mampu menciptakan kesejahteraan nyata bagi petani dan masyarakat sekitar.

Melalui pendekatan berbasis potensi lokal dan jaringan pengusaha nasional, ASPRINDO berupaya mendorong desa-desa Indonesia menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.

ASPRINDO dan PBI Gerbang Massa Teken Kerja Sama, Perkuat Ekonomi Desa Lewat Program Kampung Industri

ASPRINDO dan PBI Gerbang Massa Teken Kerja Sama, Perkuat Ekonomi Desa Lewat Program Kampung Industri

Gunungkidul, Yogyakarta, 14 Februari 2026, Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan ekonomi nasional melalui langkah konkret di tingkat desa. Organisasi pengusaha ini resmi menandatangani kerja sama dengan Paguyuban BUMDES Indonesia (PBI), Gerakan Pembangunan Masyarakat Desa (Gerbang Massa).

Penandatanganan kerja sama dilakukan langsung oleh Ketua Umum ASPRINDO Jose Rizal bersama Ketua Umum PBI Gerbang Massa, Sariyanta, S.Pd., M.Pd., di Gunungkidul, Yogyakarta, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini turut dihadiri oleh pengurus PBI Gerbang Massa se-Jawa Tengah dan Yogyakarta, menandai dimulainya kolaborasi strategis antara sektor swasta dan entitas desa.

ASPRINDO menandatangani kerjasama dengan Paguyuban BUMDES Indonesia (PBI)- Gerakan Pembangunan Masyarakat Desa (Gerbang Massa) di Yogyakarta, Sabtu (14/2/2026) | Foto: Asprindo

Kolaborasi Nyata untuk Menggerakkan Ekonomi dari Desa

Ketua Umum ASPRINDO Jose Rizal menegaskan bahwa kerja sama ini akan memberikan dampak positif, khususnya bagi pelaku usaha desa. Menurutnya, kemitraan ini membuka peluang kolaborasi antara pelaku usaha desa dengan jaringan pengusaha ASPRINDO yang relatif lebih berpengalaman.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menggeliatkan dan memperkuat ekonomi masyarakat desa secara bertahap dan berkelanjutan.

“Hal tersebutlah yang ingin kami wujudkan dengan program Kampung Industri. Kami ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dimulai dari bawah ke atas. Pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada masyarakat sekitar dan para pelaku usaha lokal,” kata Jose kepada awak media, Senin (16/2/2026).

Program Kampung Industri menjadi salah satu strategi utama dalam membangun fondasi ekonomi dari akar rumput. Konsep ini menekankan bahwa desa bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek utama dalam menciptakan nilai tambah ekonomi.

BUMDes dan Pengusaha Jadi Motor Penggerak

Dalam kerja sama ini, kolaborasi antara ASPRINDO dan BUMDes memegang peran penting sebagai motor penggerak ekonomi desa. Sektor swasta dan entitas desa akan bekerja bersama untuk memperkuat struktur ekonomi dari akar rumput.

“Di mana sektor swasta/pengusaha dan entitas desa berkolaborasi untuk memperkuat struktur ekonomi dari akar rumput,” ujar Jose.

Sinergi ini penting karena BUMDes memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat desa dan memahami potensi lokal, sementara pengusaha dalam jaringan ASPRINDO memiliki pengalaman, akses pasar, serta jejaring industri yang lebih luas. Kombinasi keduanya diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi desa yang lebih kokoh dan kompetitif.

Fokus pada Transfer Knowledge dan Tata Kelola Profesional

Dalam kemitraan tersebut, terdapat beberapa poin penting yang telah disepakati. Salah satunya adalah mewujudkan transfer knowledge dan alih teknologi melalui pendampingan manajerial.

Pendampingan ini bertujuan agar pengelolaan BUMDes menjadi lebih profesional, kompetitif, dan memiliki tata kelola (governance) yang baik. Dengan manajemen yang lebih tertata, BUMDes diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, transparansi, serta daya saing usaha desa.

Langkah ini menjadi krusial karena penguatan kapasitas sumber daya manusia dan tata kelola adalah fondasi utama dalam membangun usaha yang berkelanjutan.

Pemberdayaan UMKM dan Integrasi ke Rantai Pasok Industri

Selain penguatan manajerial, kerja sama ini juga menitikberatkan pada pemberdayaan UMKM desa. ASPRINDO berkomitmen untuk menyerap produk unggulan desa (produk lokal) ke dalam rantai pasok industri yang tergabung dalam jaringannya.

“Kita akan fokus pada pemberdayaan UMKM dan penyerapan produk unggulan Desa (produk lokal) ke dalam rantai pasok industri yang tergabung dalam jaringan ASPRINDO sehingga dapat memberikan nilai tambah ekonomi masyarakat di Desa,” ujar Jose.

Integrasi ke dalam rantai pasok industri akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi produk desa. Produk yang sebelumnya hanya beredar di pasar lokal berpeluang masuk ke pasar yang lebih luas dengan standar kualitas yang lebih baik.

ASPRINDO menandatangani kerjasama dengan Paguyuban BUMDES Indonesia (PBI)- Gerakan Pembangunan Masyarakat Desa (Gerbang Massa) di Yogyakarta, Sabtu (14/2/2026) | Foto: Asprindo

Akses Pasar, Digitalisasi, dan Off taker

Kerja sama ini juga mencakup perluasan akses pasar dan digitalisasi. Melalui jejaring pengusaha ASPRINDO, layanan dan pemasaran BUMDes diharapkan mampu menjangkau pasar nasional bahkan global atau ekspor.

ASPRINDO juga akan menghadirkan offtaker sebagai jembatan antara produk desa dengan pasar modern. Kehadiran offtaker ini penting untuk memastikan keberlanjutan penyerapan produk serta terciptanya pasar yang kompetitif.

Dengan digitalisasi, BUMDes dan UMKM desa dapat memanfaatkan platform pemasaran modern, memperluas jangkauan konsumen, serta meningkatkan efisiensi distribusi.

Investasi Inklusif untuk Desa

Tidak hanya fokus pada produksi dan pemasaran, ASPRINDO juga membuka peluang investasi inklusif di desa. Investasi ini diarahkan pada proyek yang berkelanjutan dan berorientasi pada penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

“Kami juga membuka investasi inklusif, yaitu peluang investasi di desa yang berkelanjutan dan berorientasi pada penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat,” kata Jose.

Pendekatan investasi inklusif memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi desa tidak hanya dinikmati oleh investor, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar melalui penciptaan pekerjaan dan peningkatan pendapatan.

Membangun Ekosistem Ekonomi Kerakyatan

Jose berharap penandatanganan kerja sama ini bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi titik awal kerja nyata dalam membangun ekonomi dari pinggiran sesuai visi ASPRINDO untuk mewujudkan Indonesia kaya.

“Dengan membangun ekonomi desa, akan terbangun juga ekosistem ekonomi yang kuat, yang berbasis kerakyatan dan pengusaha lokal,” pungkasnya.

Kolaborasi antara ASPRINDO dan PBI Gerbang Massa ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekonomi desa melalui kemitraan, pemberdayaan, dan investasi. Dengan sinergi yang terstruktur dan berkelanjutan, desa diharapkan mampu menjadi fondasi kokoh bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berbasis kerakyatan.

Awal 2026, Program Kampung Industri Asprindo Terus Berkembang dan Buka Peluang Pengusaha Mikro Go Internasional

Awal 2026, Program Kampung Industri Asprindo Terus Berkembang dan Buka Peluang Pengusaha Mikro Go Internasional

Jakarta – Memasuki awal tahun 2026, Program Kampung Industri yang digagas Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) bukan lagi sekadar wacana. Kini telah menunjukkan geliat nyata di berbagai daerah dan terus dikembangkan sebagai model pemberdayaan ekonomi berbasis akar rumput.

Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal, sebelumnya menyampaikan bahwa Kampung Industri diharapkan dapat menjadi program nasional yang mendukung pemerintah dalam membangun ketahanan pangan dan memperkuat ekonomi daerah.

“Harapan kami, ke depan, Kampung Industri bisa menjadi program nasional yang mendukung pemerintah dalam upaya membangun ketahanan pangan,” ujar Jose dalam keterangan tertulisnya pada 26 Januari 2025.

Memasuki 2026, komitmen tersebut terus dijalankan melalui sinergi aktif antara Asprindo, pemerintah pusat dan daerah, serta kalangan akademisi.

Sinergi dengan Pemerintah dan Kementerian Teknis

Sejak tahap awal, Asprindo telah melakukan audiensi dengan berbagai kementerian di tingkat pusat guna memperoleh dukungan kebijakan dan koordinasi program. Di antaranya dengan Menteri PPN/Bappenas, Menteri Kelautan dan Perikanan, serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT).

Langkah ini menunjukkan bahwa Kampung Industri dirancang selaras dengan agenda pembangunan nasional, terutama dalam hal ketahanan pangan, penguatan ekonomi desa, dan pengentasan kemiskinan.

Tidak berhenti di situ, Asprindo juga terus mengupayakan dukungan dari kementerian teknis lainnya serta pemerintah daerah agar implementasi program dapat berjalan sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing wilayah.

Dengan dukungan lintas sektor, Kampung Industri tidak hanya menjadi program internal organisasi, tetapi menjadi gerakan kolaboratif yang membuka ruang partisipasi luas bagi pelaku usaha lokal.

Dukungan Akademisi dan Tenaga Ahli

Untuk memastikan program berjalan profesional dan berbasis kajian ilmiah, Asprindo juga menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi. Ketua Dewan Pakar Asprindo, Prof. Didin S. Damanhuri, yang juga Guru Besar IPB, telah menyiapkan tim pakar dari IPB untuk mengawal dan memberikan pendampingan dalam pelaksanaan Kampung Industri.

Kolaborasi ini menjadi salah satu kekuatan utama program, karena tidak hanya mengandalkan semangat kewirausahaan, tetapi juga dukungan tenaga ahli, riset, serta pendekatan manajerial yang terukur.

Dengan demikian, Kampung Industri tidak dijalankan secara sporadis, melainkan dirancang sebagai ekosistem usaha yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Berbasis Akar Rumput dan UMKM

Jose menegaskan bahwa Kampung Industri merupakan alternatif solusi berbasis akar rumput. Program ini diarahkan untuk memperkuat bisnis rumahan dan UMKM yang dikelola mayoritas masyarakat setempat.

“Karena berbasis akar rumput, Kampung Industri merupakan alternatif solusi bagi pemerintah, baik untuk ketahanan pangan maupun untuk pengentasan kemiskinan. Kami harus menjalankan ini kalau mau besar dan kompetitif. Karena selama ini pengusaha pribumi umumnya pengusaha kecil,” papar Jose.

 

Kampung Industri dirancang sebagai kawasan perkampungan yang menjadikan usaha rumahan dan UMKM sebagai fondasi utama. Melalui pendekatan ini, pengusaha kecil tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi berada dalam ekosistem usaha yang saling terhubung.

Setiap wilayah diarahkan untuk mengembangkan produk unggulan sesuai potensi lokalnya, sehingga memiliki identitas ekonomi yang jelas dan berdaya saing.

Konsep Ekosistem dan Gotong Royong

Kunci dari Kampung Industri, menurut Jose, terletak pada penguatan produk unggulan daerah, semangat gotong royong dalam pengadaan sumber daya, serta pengelolaan usaha secara profesional.

“Kunci Kampung Industri adalah produk unggulan setiap wilayah, gotong royong dalam pengadaan sumber daya, dioperasikan secara profesional, dengan kemanfaatan win-win di antara seluruh elemen yang terlibat,” ungkapnya.

Artinya, Kampung Industri bukan hanya tentang produksi, tetapi tentang membangun rantai nilai yang terintegrasi mulai dari bahan baku, proses produksi, manajemen, hingga pemasaran.

Melalui jaringan anggota Asprindo di berbagai wilayah, pelaku usaha mikro dan kecil juga memiliki peluang memperluas akses pasar, termasuk membuka jalan menuju pasar nasional bahkan internasional.

Bukan Program Baru, Tapi Gerakan Berkelanjutan

Memasuki 2026, Kampung Industri bukan lagi sekadar konsep yang baru digembor-gemborkan. Program ini telah berjalan dan terus diperluas melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

Asprindo membuka kesempatan bagi pengusaha mikro, kecil, dan menengah di seluruh Indonesia untuk bergabung dan menjadi bagian dari ekosistem Kampung Industri. Dengan bergabung, pelaku usaha dapat memperoleh pendampingan, akses jejaring, serta peluang kolaborasi lintas daerah.

Bagi pengusaha yang ingin meningkatkan kapasitas usaha dan membawa produk lokal menembus pasar yang lebih luas, termasuk internasional, Kampung Industri menjadi salah satu jalur strategis.

Ayo Bergabung dan Majukan Daerah Bersama Asprindo

Asprindo mengajak para pengusaha Bumiputera, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil, untuk bergabung melalui cabang atau DPW terdekat di wilayah masing-masing.

Dengan semangat kolaborasi, profesionalisme, dan gotong royong, Kampung Industri diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, mengurangi kemiskinan, serta mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha lokal yang mampu bersaing di tingkat global.

Bersama Asprindo, saatnya pengusaha mikro tidak hanya bertahan, tetapi naik kelas dan membawa produk daerah menuju panggung nasional dan internasional.

Prof. Didin S. Damanhuri: Strategi Ekonomi Nasional Harus Diuji di Tengah Tantangan Serius

Prof. Didin S. Damanhuri: Strategi Ekonomi Nasional Harus Diuji di Tengah Tantangan Serius

Jakarta, 24 Januari 2026 – Paparan strategi ekonomi yang disampaikan Presiden Prabowo di ajang World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss, dinilai sebagai sebuah tesis besar untuk memperbaiki arah ekonomi Indonesia. Namun, menurut Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) sekaligus Guru Besar IPB Bogor, Prof. Didin S. Damanhuri, tesis tersebut tetap perlu diuji secara konseptual dan faktual agar benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Prof. Didin menyampaikan pandangan tersebut pada Sabtu, 24 Januari 2026. Ia menilai publik patut memberikan apresiasi atas keberanian Presiden berbicara di hadapan forum ekonomi global yang dihadiri puluhan kepala negara, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta ribuan CEO perusahaan internasional. Kehadiran Indonesia di panggung global tersebut merupakan kebanggaan tersendiri dalam diplomasi ekonomi.

Tesis Ekonomi di Panggung Dunia

Menurut Prof. Didin, inti pidato Presiden di Davos adalah pemaparan platform pembangunan ekonomi nasional yang kerap disebut sebagai “Prabowonomics”. Platform ini mengedepankan stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan pemerataan sebagai satu kesatuan.

Namun, ia menegaskan bahwa stabilitas dan persatuan saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kemajuan ekonomi yang nyata dan merata. Tantangan terbesar justru terletak pada delivery mechanism atau mekanisme implementasi di lapangan.

Sejumlah program unggulan, menurutnya, menyedot anggaran dalam jumlah besar. Dampaknya, terjadi pemotongan pada berbagai pos penting seperti anggaran pendidikan, anggaran daerah, dana desa, hingga dana yang tersimpan di bank-bank Himbara. Pemerintah dan lembaga negara pun dipaksa melakukan efisiensi besar-besaran.

Minim Pelibatan UMKM dan Koperasi

Prof. Didin menyoroti bahwa program-program strategis tersebut belum melibatkan usaha rakyat secara luas, terutama UMKM dan koperasi yang seharusnya menjadi tulang punggung pemerataan ekonomi.

Dalam praktiknya, yang lebih dominan dilibatkan adalah yayasan-yayasan tertentu, aparat negara seperti Polri dan TNI, serta partai-partai politik. Bahkan, ia mencatat bahwa partai Presiden memperoleh porsi terbesar dalam berbagai inisiatif tersebut.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, dinilai lebih banyak menyentuh wilayah perkotaan. Sementara wilayah pedesaan yang mencakup sebagian besar wilayah nasional masih belum terjangkau secara optimal. Akibatnya, program tersebut belum memberikan efek pertumbuhan ekonomi yang menyeluruh dan signifikan.

Hal serupa terjadi pada program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang menggunakan dana desa dan dana perbankan Himbara. Prof. Didin menilai program ini dijalankan tanpa persiapan memadai agar benar-benar berfungsi sebagai entitas bisnis yang sehat dan berjiwa koperasi. Bahkan dalam upaya swasembada pangan, peran petani sebagai aktor utama justru kurang dilibatkan.

Trilogi Ekonomi dan Peran Danantara

Dalam paparannya, Prof. Didin menyebut bahwa apa yang disampaikan Presiden di Davos bercampur antara fakta dan cita-cita. Trilogi ekonomi yang ditawarkan masih menghadapi persoalan besar pada tahap aplikasi.

Salah satu pilar utama trilogi tersebut adalah peran Danantara sebagai pengelola dana investasi nasional senilai sekitar Rp 16.000 triliun. Lembaga ini dirancang menyerupai Temasek di Singapura. Namun, Prof. Didin mempertanyakan kelayakan perbandingan tersebut, mengingat Danantara baru berjalan sekitar satu tahun, sedangkan Temasek telah beroperasi selama puluhan tahun.

Trilogi ekonomi ini juga bertumpu pada stabilitas nasional melalui peran TNI dan Polri, serta ambisi pertumbuhan ekonomi tinggi yang disertai pemerataan. Konsep tersebut diharapkan mampu membawa Indonesia menjadi negara maju, demokratis, dan berkeadilan.

Namun, menurut Prof. Didin, dalam satu tahun pemerintahan, platform ideal tersebut belum sepenuhnya didukung program unggulan yang konkret, terutama dalam hal pemerataan pertumbuhan ekonomi.

Beban Utang dan Tantangan Fiskal

Masalah implementasi diperparah oleh keterbatasan fiskal. Program-program besar seperti MBG dan KDMP kembali menghadapi kendala pelaksanaan akibat tekanan anggaran.

Di sisi lain, pembiayaan program dilakukan dengan peningkatan utang luar negeri. Pada tahun berjalan, pemerintah mencairkan utang sekitar Rp 826 triliun. Pertumbuhan ekonomi yang diklaim di atas 6 persen dalam kenyataannya mendekati 5 persen.

Utang luar negeri pemerintah mendekati Rp 10.000 triliun. Jika ditambah dengan utang swasta sekitar Rp 3.250 triliun dan utang BUMN sekitar Rp 9.000 triliun, total beban utang nasional menembus lebih dari Rp 22 kuadriliun. Kondisi ini tentu memberi tekanan berat pada APBN.

Situasi semakin kompleks dengan ketegangan geopolitik global, konflik internasional, dan perang dagang berkepanjangan. Nilai tukar rupiah sempat menembus Rp 17.000 per dolar AS. Data yang disebut Prof. Didin menunjukkan bahwa kredit untuk UMKM justru menurun, sementara kredit untuk korporasi besar meningkat signifikan.

Jika kondisi ini berlanjut, ia mengingatkan potensi krisis keuangan yang menyerupai BLBI jilid dua.

Tantangan Membuktikan Implementasi

Menurut Prof. Didin, tantangan utama bagi Presiden Prabowo adalah membuktikan bahwa strategi ekonomi yang dipaparkan di Forum Ekonomi Dunia bukan sekadar retorika. Ia menyarankan agar dilakukan penyusunan kerangka akademik yang kuat dan dapat diimplementasikan secara konsisten.

Tanpa perbaikan nyata pada mekanisme pelaksanaan, Prabowonomics dan trilogi ekonomi yang ditawarkan berisiko menghadapi persoalan serius ke depan.

Bagi ASPRINDO, kajian kritis seperti ini penting sebagai bagian dari kontribusi intelektual dalam menjaga arah pembangunan ekonomi nasional tetap berpihak pada kesejahteraan rakyat dan pemerataan yang berkeadilan.

ASPRINDO

Follow Sosial Media ASPRINDO

Design Website by Lafasy Digital