Ketua Dewan Pakar ASPRINDO Dorong Pemerintah Ambil Langkah Konkret untuk Memperkuat Stabilitas Ekonomi Nasiona

Ketua Dewan Pakar ASPRINDO Dorong Pemerintah Ambil Langkah Konkret untuk Memperkuat Stabilitas Ekonomi Nasiona

Jakarta – Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO), Prof. Didin S. Damanhuri, mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah konkret dalam memperkuat stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, berbagai tantangan ekonomi yang tercermin dari melemahnya nilai tukar rupiah dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memerlukan kebijakan yang bersifat nyata, terukur, dan berorientasi pada perbaikan tata kelola.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah mantan pejabat pemerintahan era Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Prof. Didin menilai bahwa diskusi dengan tokoh-tokoh yang memiliki pengalaman menghadapi krisis ekonomi merupakan langkah yang positif. Namun demikian, menurutnya, upaya tersebut perlu diikuti dengan kebijakan konkret yang mampu memberikan dampak langsung terhadap kondisi ekonomi nasional.

Tantangan Ekonomi Membutuhkan Solusi Nyata

Dalam pandangannya, kondisi perekonomian tidak dapat dipulihkan hanya melalui diskusi atau pertukaran pengalaman. Pemerintah perlu segera melakukan pembenahan pada berbagai sektor yang memiliki pengaruh terhadap stabilitas ekonomi, termasuk faktor-faktor yang memengaruhi nilai tukar rupiah serta kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

“Kalau menurut saya, pemerintah, dalam hal ini Presiden Prabowo sebagai tonggak kepemimpinan tertinggi, harusnya mulai melakukan pembenahan secara konkret pada aspek-aspek yang memengaruhi nilai tukar Rupiah dan IHSG,” ujar Prof. Didin kepada awak media.

Menurutnya, langkah-langkah strategis tersebut penting agar pasar memperoleh sinyal positif mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintah sekaligus meningkatkan optimisme pelaku usaha dan investor.

Pembenahan Tata Kelola MBG dan KDMP Dinilai Penting

Salah satu usulan yang disampaikan Prof. Didin adalah perlunya pembenahan tata kelola program MBG dan KDMP agar pelaksanaannya semakin tepat sasaran, efisien, dan memberikan manfaat yang optimal. Menurutnya, tata kelola yang baik akan memberikan dampak positif terhadap pengelolaan fiskal negara.

Dengan program yang berjalan lebih efektif, pemerintah memiliki peluang untuk memperluas ruang fiskal sehingga dapat menekan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selain itu, pengelolaan yang lebih efisien juga dinilai dapat membantu mengurangi potensi penumpukan utang luar negeri di masa mendatang.

“Sehingga ruang fiskal makin luas dan defisit APBN turun. Dan pembenahan tata kelola itu akan menghindari tumpukan utang luar negeri,” jelas Prof. Didin.

Menurutnya, efektivitas kebijakan publik sangat bergantung pada tata kelola yang baik, transparan, dan akuntabel.

Pasar Modal Perlu Diperkuat untuk Meningkatkan Kepercayaan Investor

Selain menyoroti kebijakan fiskal, Prof. Didin juga memberikan perhatian terhadap kondisi pasar modal Indonesia.

Ia mendorong pemerintah melakukan pembenahan terhadap tata kelola pasar modal, khususnya dalam mengatasi praktik-praktik yang dinilai dapat mengurangi kepercayaan investor.

Menurutnya, iklim investasi yang sehat hanya dapat tercipta apabila pasar modal berjalan secara transparan, adil, dan memiliki tata kelola yang kuat.

Hal tersebut dinilai penting untuk mengembalikan trust atau kepercayaan investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Kepercayaan tersebut sangat dibutuhkan agar pasar modal mampu menjalankan fungsinya sebagai sumber pembiayaan bagi berbagai sektor usaha, mulai dari korporasi nasional, pelaku UMKM, hingga investor asing yang ingin berinvestasi di Indonesia.

“Hal ini penting dilakukan untuk mendapatkan kembali trust dari dalam maupun luar negeri terhadap pasar modal, sebagai wahana peningkatan modal dan industrial baik korporasi nasional besar maupun UMKM serta asing,” ungkapnya.

Menjaga Iklim Investasi dan Perbankan

Prof. Didin juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas sektor perbankan dan pasar modal agar tetap kondusif.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama dalam menarik capital inflow atau arus masuk investasi portofolio yang sehat ke Indonesia.

Semakin baik iklim investasi yang dibangun, semakin besar pula peluang Indonesia memperoleh dukungan modal untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

Di tengah dinamika geoekonomi dan geopolitik global yang terus berkembang, stabilitas sektor keuangan menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

“Langkah ini akan membantu Indonesia untuk memacu pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian geoekonomi-politik global,” ujar Prof. Didin.

Pertemuan Presiden Prabowo dengan Pejabat Era SBY

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menerima sejumlah mantan pejabat pemerintahan era Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Jumat, 22 Mei 2026.

Beberapa tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Burhanuddin Abdullah yang pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2003–2008, Paskah Suzetta selaku Menteri PPN/Kepala Bappenas periode 2005–2009, Lukita Dinarsyah Tuwo yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, serta Sudrajat, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok periode 2005–2009.

Usai mendampingi Presiden dalam pertemuan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa diskusi banyak membahas pengalaman pemerintah dalam menghadapi krisis ekonomi global tahun 2008.

“Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014,” kata Airlangga Hartarto.

ASPRINDO Mendukung Kebijakan yang Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Sebagai organisasi yang menaungi para pengusaha Bumiputera, ASPRINDO memandang bahwa stabilitas ekonomi merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan dunia usaha.

Kebijakan fiskal yang sehat, tata kelola pasar modal yang kredibel, serta iklim investasi yang kondusif akan memberikan dampak positif terhadap pengembangan sektor usaha, termasuk bagi pelaku UMKM yang menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional.

Masukan yang disampaikan Ketua Dewan Pakar ASPRINDO mencerminkan komitmen organisasi dalam memberikan pandangan konstruktif terhadap berbagai isu strategis yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi Indonesia.

Melalui kebijakan yang tepat, tata kelola yang semakin baik, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, diharapkan Indonesia mampu memperkuat daya saing ekonomi nasional sekaligus menghadapi berbagai tantangan ekonomi global dengan lebih baik.

Pachira Group Tembus Pameran Internasional di Serbia, Bukti Kampung Industri ASPRINDO Mampu Bersaing di Pasar Global

Pachira Group Tembus Pameran Internasional di Serbia, Bukti Kampung Industri ASPRINDO Mampu Bersaing di Pasar Global

Produk lokal Indonesia terus menunjukkan daya saingnya di pasar internasional. Berbagai pelaku usaha kini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, tetapi juga mulai memperkenalkan produk unggulan Indonesia ke berbagai negara melalui pameran dan kerja sama internasional.

Keberhasilan tersebut tentu tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan proses pembinaan, peningkatan kualitas produk, inovasi, hingga penguatan ekosistem industri agar pelaku usaha mampu memenuhi standar pasar global. Inilah yang terus didorong oleh Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) melalui pengembangan Kampung Industri, sebuah konsep pemberdayaan ekonomi yang mengintegrasikan potensi daerah menjadi industri yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi.

Salah satu bukti nyata keberhasilan pendekatan tersebut adalah tampilnya Pachira Group, salah satu Kampung Industri binaan ASPRINDO, dalam International Agricultural Fair Novi Sad 2026 yang diselenggarakan di Beograd, Serbia, pada 16–21 Mei 2026.

Keikutsertaan tersebut menjadi tonggak penting yang menunjukkan bahwa industri food ingredient Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar internasional.

Dari Kampung Industri Menuju Pasar Global

Kampung Industri yang dikembangkan ASPRINDO memiliki tujuan untuk mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Melalui pembinaan yang berkelanjutan, pelaku usaha tidak hanya didorong untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki kualitas, nilai tambah, dan daya saing yang lebih tinggi.

Keberhasilan Pachira Group tampil di ajang internasional menjadi contoh bahwa industri yang lahir dari daerah pun mampu tampil sejajar dengan pelaku usaha dari berbagai negara apabila dibangun melalui sistem yang tepat.

Momentum ini sekaligus menjadi inspirasi bahwa produk Indonesia memiliki peluang besar untuk diterima di pasar dunia.

International Agricultural Fair Novi Sad 2026 Menjadi Ajang Memperkenalkan Produk Indonesia

Partisipasi Pachira Group dalam International Agricultural Fair Novi Sad 2026 bukan sekadar menghadiri sebuah pameran internasional.

Ajang tersebut menjadi kesempatan strategis untuk memperkenalkan kualitas produk Indonesia kepada calon mitra bisnis, pembeli internasional, serta pelaku industri dari berbagai negara.

Pameran internasional memiliki peran penting dalam membuka akses pasar yang lebih luas. Selain menjadi sarana promosi, kegiatan seperti ini juga membuka peluang kerja sama bisnis, pertukaran teknologi, hingga pengembangan jaringan perdagangan internasional.

Bagi pelaku industri lokal, keikutsertaan dalam pameran internasional merupakan langkah awal untuk membangun kepercayaan pasar terhadap kualitas produk Indonesia.

Industri Food Ingredient Indonesia Memiliki Potensi Besar

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam dan hasil pertanian. Berbagai komoditas lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk food ingredient bernilai tinggi yang dibutuhkan oleh industri pangan di berbagai negara.

Namun, agar mampu bersaing di pasar global, produk tidak cukup hanya mengandalkan bahan baku yang melimpah. Diperlukan proses hilirisasi, inovasi produk, peningkatan kualitas, standarisasi produksi, hingga pengemasan yang mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Keikutsertaan Pachira Group di Serbia menunjukkan bahwa pelaku industri lokal Indonesia mulai mampu memenuhi berbagai aspek tersebut sehingga memiliki peluang untuk memperluas pasar ke tingkat global.

Tidak Semua UMKM Mampu Menembus Pasar Global

Banyak UMKM di Indonesia memiliki produk yang berkualitas. Namun, tidak semuanya dapat langsung memasuki pasar internasional.

Beberapa tantangan yang masih sering dihadapi antara lain adalah konsistensi kualitas produk, pengembangan inovasi, penguatan merek, kemampuan memenuhi standar pasar, hingga keterbatasan akses terhadap jaringan pembeli internasional.

Karena itu, proses pendampingan menjadi salah satu faktor yang sangat penting. Pelaku usaha membutuhkan ekosistem yang tidak hanya membantu meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membuka akses terhadap pasar, jejaring bisnis, dan peluang kolaborasi.

Inilah yang menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan Kampung Industri oleh ASPRINDO.

Kampung Industri Membangun Ekosistem Industri Produktif

Konsep Kampung Industri tidak berhenti pada kegiatan produksi semata. ASPRINDO membangun sebuah ekosistem yang menghubungkan berbagai tahapan usaha mulai dari pengembangan potensi daerah, peningkatan kualitas produk, hilirisasi, hingga perluasan akses pasar.

Melalui pendekatan tersebut, pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan hanya menjual bahan mentah.

Ekosistem ini juga mendorong kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan agar industri lokal mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Dengan sistem yang terintegrasi, Kampung Industri diharapkan mampu melahirkan lebih banyak produk unggulan Indonesia yang siap bersaing di tingkat internasional.

Komitmen ASPRINDO Mengangkat Potensi Daerah ke Tingkat Dunia

ASPRINDO terus berkomitmen membangun ekosistem industri produktif yang mampu mendorong UMKM dan industri lokal naik kelas.

Melalui berbagai program pembinaan, organisasi ini ingin memastikan bahwa potensi daerah tidak berhenti sebagai komoditas lokal, tetapi berkembang menjadi produk bernilai tambah yang memiliki daya saing global.

Keberhasilan Pachira Group menjadi bukti bahwa pembinaan yang tepat dapat menghasilkan industri lokal yang mampu tampil di panggung internasional.

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi daerah harus dilakukan melalui kolaborasi, inovasi, dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan.

Terus Bergerak Membangun Masa Depan Industri Indonesia

Bagi ASPRINDO, membangun industri bukan sekadar menciptakan usaha baru. Lebih dari itu, membangun industri berarti menciptakan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing bangsa, membuka lapangan kerja, serta menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia.

Perjalanan Pachira Group menuju International Agricultural Fair Novi Sad 2026 menjadi bukti bahwa potensi lokal Indonesia mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi global ketika didukung dengan pembinaan, hilirisasi, inovasi, dan ekosistem yang tepat.

Semangat inilah yang akan terus menjadi landasan ASPRINDO dalam membangun lebih banyak Kampung Industri di berbagai daerah Indonesia.

Karena perjalanan membangun industri tidak boleh berhenti. Kita harus terus bergerak, terus berinovasi, dan terus membuka jalan bagi lahirnya lebih banyak produk Indonesia yang mampu bersaing di pasar dunia.

ASPRINDO Jaya, Indonesia Kaya.

Asprindo Kepri Perkuat UMKM Hadapi Perdagangan Cross Border melalui Pendampingan Bersama UMRAH

Asprindo Kepri Perkuat UMKM Hadapi Perdagangan Cross Border melalui Pendampingan Bersama UMRAH

Perdagangan lintas batas atau cross border trade menjadi salah satu peluang strategis yang terus berkembang di wilayah Kepulauan Riau (Kepri). Letaknya yang berdekatan dengan negara tetangga menjadikan daerah ini memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar internasional.

Melihat peluang tersebut, Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) Kepulauan Riau mengambil langkah nyata dengan memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui program pendampingan bersama Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan pelaku usaha, khususnya dalam pengelolaan keuangan dan penyusunan laporan keuangan digital yang sesuai dengan praktik akuntansi modern sehingga lebih siap menghadapi persaingan di pasar global.

Menyiapkan UMKM Kepri Menghadapi Peluang Perdagangan Internasional

Sebagai daerah maritim yang memiliki posisi strategis, Kepulauan Riau memiliki potensi besar dalam perdagangan internasional. Kedekatan wilayah dengan berbagai negara di kawasan Asia Tenggara membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar melalui perdagangan lintas batas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menyadari besarnya peluang tersebut, Asprindo Kepri terus mendorong anggotanya agar tidak hanya berkembang di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyelenggarakan kegiatan pendampingan bertajuk PKM Kolaborasi Internasional “Standar Laporan Keuangan Digital bagi UMKM Asprindo dalam Ekosistem Cross Border Trade di Wilayah Maritim”.

Melalui kegiatan ini, para pelaku UMKM dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan agar mampu memenuhi standar administrasi usaha yang semakin dibutuhkan dalam perdagangan global.

Kolaborasi Asprindo dan UMRAH Perkuat Kompetensi UMKM

Kegiatan pendampingan dilaksanakan pada Sabtu, 9 Mei 2026, bertempat di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam.

Sebanyak 30 pelaku UMKM yang tergabung dalam Asprindo mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berdiskusi sekaligus bertukar pengalaman mengenai berbagai tantangan dan peluang dalam menjalankan usaha di kawasan perdagangan lintas batas.

Pendampingan dibuka langsung oleh Sekretaris Umum Asprindo, Affu Indrawan, yang menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas pelaku usaha agar mampu mengikuti perkembangan dunia bisnis yang semakin kompetitif.

Menurutnya, kesiapan pelaku UMKM tidak hanya diukur dari kualitas produk yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan mengelola administrasi usaha secara profesional.

Tim Dosen UMRAH Berbagi Pengetahuan dan Praktik Terbaik

Sebagai mitra dalam kegiatan ini, Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Manajemen (FEBM) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menghadirkan tim dosen dari berbagai bidang keahlian.

Materi disampaikan secara bergantian oleh:

  • Dr. Asmaul Husna, SE., Ak., MM., CA
  • Dr. Sri Ruwanti, SE., M.Sc
  • Mita Elvira, SE., MBA
  • Nurhasanah, SE., M.Si

Keempat narasumber memberikan pemaparan mengenai berbagai aspek penting yang dibutuhkan pelaku UMKM, mulai dari akuntansi, bisnis digital, manajemen usaha, hingga strategi pengembangan UMKM di wilayah maritim.

Melalui pendekatan yang praktis, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya penyusunan laporan keuangan yang rapi, akurat, dan terdokumentasi secara digital sebagai bagian dari tata kelola usaha yang profesional.

Pentingnya Standar Laporan Keuangan Digital

Salah satu fokus utama dalam pendampingan ini adalah penerapan standar laporan keuangan digital yang mengikuti praktik akuntansi terkini.

Dalam era digital dan perdagangan internasional, laporan keuangan tidak lagi sekadar menjadi dokumen administrasi, tetapi juga menjadi salah satu indikator utama yang digunakan oleh lembaga keuangan maupun calon mitra bisnis dalam menilai kesehatan sebuah usaha.

Dengan memiliki laporan keuangan yang tersusun secara baik, pelaku UMKM akan lebih mudah memantau perkembangan usahanya, mengambil keputusan bisnis berdasarkan data, serta meningkatkan kredibilitas usaha di mata investor maupun perbankan.

Pendampingan ini diharapkan mampu membantu pelaku UMKM membangun sistem administrasi keuangan yang lebih modern dan sesuai dengan kebutuhan bisnis saat ini.

Mendorong UMKM Menjadi Lebih Bankable

Selain membahas perdagangan internasional, sesi diskusi juga mengangkat pentingnya pengelolaan administrasi keuangan agar usaha menjadi bankable, yaitu memenuhi persyaratan untuk memperoleh akses pembiayaan dari lembaga perbankan maupun institusi keuangan lainnya.

Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai bagaimana pencatatan transaksi yang baik, penyusunan laporan keuangan yang sistematis, hingga pentingnya transparansi dalam pengelolaan usaha.

Kemampuan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting bagi UMKM yang ingin memperluas skala usaha, memperoleh tambahan modal, maupun membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

Melalui administrasi keuangan yang tertata, pelaku usaha akan memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

Wujud Pengabdian Perguruan Tinggi kepada Masyarakat

Kegiatan pendampingan ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Sebagai perguruan tinggi yang berfokus pada pengembangan wilayah maritim, UMRAH terus berupaya menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui berbagai program pendampingan, pelatihan, dan pengembangan kapasitas pelaku usaha.

Sejalan dengan kebutuhan dunia usaha yang semakin berkembang, FEBM UMRAH juga telah resmi membuka Program Studi Perdagangan Internasional untuk melengkapi empat program studi yang telah ada sebelumnya, yaitu Akuntansi, Manajemen, Bisnis Digital, dan Kewirausahaan.

Kehadiran program studi tersebut diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam bidang perdagangan internasional sekaligus mendukung pengembangan ekonomi maritim di Kepulauan Riau.

Kolaborasi untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM

Kolaborasi antara Asprindo Kepri dan UMRAH menjadi bukti bahwa penguatan UMKM membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, mulai dari organisasi pengusaha, perguruan tinggi, hingga pemerintah.

Melalui pendampingan ini, pelaku UMKM tidak hanya memperoleh wawasan mengenai pengelolaan usaha yang lebih profesional, tetapi juga mendapatkan bekal untuk menghadapi peluang perdagangan lintas batas yang semakin terbuka.

Asprindo berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing UMKM Indonesia, khususnya di wilayah Kepulauan Riau. Dengan kemampuan manajemen yang semakin baik, laporan keuangan yang lebih profesional, serta kesiapan menghadapi perdagangan internasional, pelaku usaha diharapkan mampu memperluas pasar dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.

Sabang Dinilai Berpotensi Menjadi Hub Industri Baru Seperti Singapura

Sabang Dinilai Berpotensi Menjadi Hub Industri Baru Seperti Singapura

Kota Sabang kembali menjadi perhatian dalam pembahasan pengembangan ekonomi nasional. Letaknya yang berada di ujung barat Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pusat industri, logistik, hingga perdagangan internasional di kawasan Asia. Bahkan, sejumlah pihak menilai posisi strategis Sabang dapat menjadi kekuatan besar seperti yang dimiliki Singapura.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Jose Rizal, mengatakan bahwa secara geopolitik Sabang memiliki keunggulan yang sangat besar, terutama karena berada di jalur utama perdagangan internasional Selat Malaka. Kawasan ini dilalui ribuan kapal dari berbagai negara setiap tahunnya.

Menurutnya, Sabang bahkan memiliki keunggulan alamiah yang tidak dimiliki Singapura. Salah satunya adalah kedalaman perairan pelabuhan yang mencapai 20 hingga 40 meter. Kondisi ini memungkinkan kapal-kapal besar dengan kapasitas hingga 300 ribu DWT bersandar tanpa memerlukan pengerukan rutin. Sementara itu, kedalaman pelabuhan Singapura rata-rata hanya sekitar 15 meter.

Posisi Strategis Sabang di Jalur Perdagangan Dunia

Secara geografis, Sabang berada langsung di pintu masuk Samudra Hindia dan dekat dengan jalur perdagangan internasional. Lokasi ini menjadikan Sabang sangat potensial sebagai pusat distribusi barang, logistik kapal, hingga industri maritim.

Namun, Jose Rizal menegaskan bahwa keunggulan geografis saja belum cukup untuk menjadikan Sabang sebagai pusat ekonomi baru. Keberhasilan Singapura tidak hanya ditentukan oleh lokasi, tetapi juga karena adanya kepastian hukum, infrastruktur modern, serta ekosistem bisnis yang stabil dan terintegrasi.

Ia menilai bahwa Sabang masih perlu memperkuat berbagai aspek pendukung agar mampu menarik investasi besar dan bersaing di tingkat regional.

Faktor Penting untuk Pengembangan Sabang

Terdapat beberapa faktor utama yang dinilai menjadi kunci keberhasilan pengembangan Sabang sebagai kawasan industri dan logistik internasional.

1. Kepastian Hukum dan Regulasi

Investor membutuhkan jaminan aturan yang jelas dan stabil dalam jangka panjang. Karena itu, pemerintah dinilai perlu menyiapkan regulasi khusus yang mampu memberikan kepastian investasi hingga puluhan tahun ke depan.

Model seperti Badan Pengusahaan Kawasan Strategis (BPKS) di Batam dianggap dapat menjadi contoh untuk diterapkan secara lebih optimal di Sabang. Regulasi yang konsisten akan meningkatkan kepercayaan investor asing maupun domestik.

2. Infrastruktur dan Pasokan Energi

Pelabuhan modern membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai, termasuk listrik besar dan internet berkecepatan tinggi. Tanpa dukungan tersebut, operasional industri dan logistik modern akan sulit berkembang.

Sabang juga dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan energi terbarukan, terutama energi geotermal. Potensi vulkanik di kawasan sekitar dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi bersih untuk mendukung kawasan industri di masa depan.

3. Pengembangan SDM dan Ekosistem Bisnis

Selain infrastruktur fisik, pengembangan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting. Pemerintah perlu membangun kerja sama dengan lembaga pendidikan dan pelatihan agar tersedia tenaga kerja yang siap menghadapi kebutuhan industri, logistik, hingga teknologi maritim.

Tanpa SDM yang kompeten dan ekosistem bisnis yang sehat, pembangunan pelabuhan dan kawasan industri dikhawatirkan tidak akan berjalan maksimal.

Sabang Tidak Harus Menjadi “Singapura Baru”

Jose Rizal menilai bahwa Sabang tidak perlu meniru Singapura secara keseluruhan. Menurutnya, yang lebih penting adalah membangun spesialisasi industri yang belum banyak digarap oleh negara lain.

Dengan strategi tersebut, Sabang dapat menjadi pelengkap dalam rantai perdagangan internasional, bukan sekadar pesaing langsung Singapura. Pendekatan ini dianggap lebih realistis dan memiliki peluang keberhasilan lebih besar.

Peluang Bisnis yang Dinilai Potensial di Sabang

Terdapat sejumlah sektor usaha yang dinilai sangat potensial untuk dikembangkan di Sabang, di antaranya:

  • Bunker dan logistik kapal perikanan
    Ribuan kapal ikan asing melintasi Selat Malaka setiap tahun. Sabang berpeluang menjadi lokasi pengisian bahan bakar dan logistik dengan biaya lebih kompetitif dibanding Singapura.
  • Hub kapal pesiar halal
    Wisata halal terus berkembang secara global. Sabang dinilai memiliki peluang menjadi pusat layanan kapal pesiar berbasis wisata muslim.
  • Transshipment komoditas curah
    Komoditas seperti semen, batu bara, dan CPO dapat dipindahkan melalui Sabang menuju berbagai negara seperti India, Bangladesh, hingga kawasan Afrika.
  • Pangkalan militer dan SAR
    Posisi strategis Sabang memungkinkan kawasan ini menjadi basis keamanan maritim dan operasi pencarian serta penyelamatan internasional.
  • Industri energi terbarukan
    Potensi geotermal di sekitar Sabang dapat menjadi kekuatan baru dalam pengembangan industri energi bersih.

Kolaborasi Pemerintah Jadi Penentu

Dalam pengembangan Sabang, pemerintah pusat dan daerah dinilai harus memiliki visi yang sama. Koordinasi antara BPKS, Pemerintah Kota Sabang, Kementerian Perhubungan, hingga Pelindo menjadi hal penting agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan.

Selain itu, pembangunan infrastruktur dasar seperti jaringan internet cepat dan pasokan listrik stabil harus diprioritaskan untuk mendukung operasional pelabuhan modern berbasis teknologi.

Tantangan Pengembangan Sabang

Meski memiliki potensi besar, pengembangan Sabang masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah belum optimalnya realisasi proyek energi terbarukan di kawasan Aceh.

Padahal, sejak sekitar 15 tahun lalu, Pertamina telah mendapat mandat untuk mengembangkan energi geotermal di kawasan Seulawah. Namun hingga kini, pengembangannya dinilai belum menunjukkan hasil signifikan.

Jose Rizal menggambarkan potensi Sabang dengan analogi sederhana. Menurutnya, Sabang ibarat tanah strategis di pinggir jalan tol paling ramai di dunia. Namun tanpa fasilitas pendukung, investor dan pelaku usaha akan memilih tempat lain yang lebih siap.

Dengan pengembangan yang serius, Sabang dinilai mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus membantu mengurangi ketergantungan impor minyak mentah dari Singapura.

Disclaimer:
Data dan informasi dalam artikel ini berlaku hingga April 2026. Perkembangan kebijakan, regulasi, maupun pembangunan infrastruktur di Sabang dapat berubah sesuai kebijakan pemerintah pusat dan daerah.

Hari Buruh 2026 Jadi Momentum Pengusaha dan Pekerja Perkuat Kolaborasi Ekonomi Nasional

Hari Buruh 2026 Jadi Momentum Pengusaha dan Pekerja Perkuat Kolaborasi Ekonomi Nasional

Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei tidak hanya menjadi simbol perjuangan para pekerja, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pengusaha dan tenaga kerja dalam membangun ekonomi nasional yang lebih kuat dan berdaya saing.

Di tengah tantangan ekonomi global yang terus berkembang, hubungan harmonis antara pelaku usaha dan pekerja dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas dunia industri dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia menilai bahwa pekerja dan pengusaha bukanlah dua pihak yang harus saling berhadapan, melainkan mitra strategis yang memiliki tujuan bersama dalam memperkuat perekonomian Indonesia.

Kolaborasi Jadi Kunci Menghadapi Tantangan Ekonomi

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia usaha menghadapi berbagai tantangan mulai dari perlambatan ekonomi global, perubahan pola industri akibat digitalisasi, hingga meningkatnya persaingan tenaga kerja internasional. Kondisi ini menuntut dunia usaha dan tenaga kerja untuk mampu beradaptasi dengan cepat.

Pengusaha membutuhkan tenaga kerja yang produktif, terampil, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Di sisi lain, pekerja juga membutuhkan perusahaan yang sehat dan mampu berkembang agar lapangan pekerjaan tetap tersedia dan kesejahteraan dapat meningkat.

Karena itu, semangat kolaborasi dinilai lebih relevan dibandingkan konflik berkepanjangan antara pengusaha dan pekerja. Hubungan industrial yang sehat akan menciptakan lingkungan kerja yang produktif sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Peningkatan SDM Jadi Tantangan Bersama

Salah satu tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di tingkat global. Perkembangan teknologi dan transformasi industri membuat kebutuhan dunia kerja terus berubah.

Banyak sektor usaha kini membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan digital, manajemen modern, hingga keterampilan teknis yang lebih spesifik. Karena itu, peningkatan kompetensi pekerja menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku usaha.

Asprindo memandang bahwa investasi terhadap kualitas SDM merupakan langkah penting untuk menciptakan ekonomi nasional yang kuat dalam jangka panjang. Pelatihan kerja, pendidikan vokasi, hingga sertifikasi profesi dinilai perlu diperluas agar tenaga kerja Indonesia semakin kompetitif.

Selain itu, pengusaha juga didorong untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pengembangan kemampuan karyawan sehingga produktivitas perusahaan dapat meningkat secara berkelanjutan.

UMKM Memiliki Peran Besar dalam Penyerapan Tenaga Kerja

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Selain berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, sektor ini juga menyerap sebagian besar tenaga kerja di Indonesia.

Karena itu, penguatan UMKM dinilai sangat penting dalam menciptakan lapangan kerja baru dan menjaga stabilitas ekonomi masyarakat. Dukungan terhadap pengusaha daerah, akses pembiayaan, hingga pendampingan usaha perlu terus diperkuat agar UMKM mampu berkembang dan naik kelas.

Dalam konteks Hari Buruh, perhatian terhadap kesejahteraan pekerja tidak hanya berlaku di perusahaan besar, tetapi juga di sektor UMKM yang jumlahnya sangat dominan di Indonesia.

Dengan ekosistem usaha yang sehat, UMKM dapat berkembang menjadi sektor yang lebih produktif sekaligus memberikan perlindungan dan kesejahteraan yang lebih baik bagi tenaga kerja.

Dunia Usaha dan Pekerja Harus Adaptif

Transformasi industri yang terjadi saat ini membuat dunia usaha dan pekerja harus lebih adaptif terhadap perubahan. Digitalisasi, otomatisasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan mulai mengubah berbagai sektor pekerjaan.

Situasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Jika mampu mempersiapkan SDM yang unggul, Indonesia berpotensi memiliki daya saing besar di tingkat internasional.

Sebaliknya, jika tidak mampu mengikuti perubahan, maka banyak sektor usaha maupun tenaga kerja yang berisiko tertinggal dalam persaingan global.

Karena itu, kolaborasi antara pengusaha dan pekerja menjadi semakin penting. Dunia usaha membutuhkan dukungan tenaga kerja yang kompeten, sementara pekerja membutuhkan perusahaan yang terus berkembang dan mampu membuka peluang ekonomi baru.

Hari Buruh Jadi Momentum Persatuan Ekonomi Nasional

Peringatan Hari Buruh seharusnya tidak hanya dipandang sebagai agenda tahunan semata, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dalam membangun ekonomi nasional.

Asprindo menilai Indonesia membutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan dunia usaha dan kesejahteraan tenaga kerja. Pengusaha yang kuat akan membuka lebih banyak lapangan kerja, sementara pekerja yang berkualitas akan meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional.

Semangat gotong royong dan kolaborasi dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan ekonomi masa depan. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja, Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang lebih mandiri dan kompetitif di tingkat global.

Momentum Hari Buruh 2026 diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan ekonomi nasional hanya dapat tercapai ketika seluruh elemen bangsa bergerak bersama, saling mendukung, dan memiliki visi yang sama untuk masa depan Indonesia yang lebih sejahtera.

Jamaluddin Jompa Dorong Asprindo Jadi Wadah Kolaborasi Pengusaha Nasional hingga Internasional

Jamaluddin Jompa Dorong Asprindo Jadi Wadah Kolaborasi Pengusaha Nasional hingga Internasional

Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia terus didorong menjadi organisasi yang mampu memperkuat kolaborasi antar pengusaha di Indonesia. Tidak hanya sebagai tempat berkumpul, Asprindo diharapkan dapat berkembang menjadi forum strategis yang mempertemukan para pelaku usaha untuk saling bermitra, membangun sinergi, dan menciptakan kekuatan ekonomi nasional yang kompetitif di tingkat global.

Harapan tersebut disampaikan Anggota Dewan Pembina Asprindo, Jamaluddin Jompa, dalam keterangan tertulisnya pada Selasa, 28 April 2026. Menurutnya, Asprindo harus menjadi wadah yang mengedepankan kolaborasi dibanding persaingan antar pengusaha.

“Pengusaha Asprindo di tingkat nasional harus bisa bermitra, berkolaborasi dengan pengusaha lokal, sekaligus mampu berkiprah di skala internasional,” ujar Jamaluddin.

Asprindo Didorong Menjadi Kekuatan Pengusaha Nasional

Jamaluddin menilai, persatuan antar pengusaha menjadi faktor penting dalam membangun perekonomian Indonesia yang lebih kuat. Karena itu, ia berharap seluruh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) maupun Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asprindo dapat berkembang menjadi kekuatan nasional yang mampu melahirkan pengusaha dengan daya saing internasional.

Menurutnya, pengusaha Indonesia tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Di tengah persaingan ekonomi global yang semakin kompetitif, dibutuhkan kerja sama, jaringan bisnis yang kuat, serta kemampuan membangun kemitraan yang sehat antar pelaku usaha.

Ia juga menekankan bahwa Asprindo memiliki peran penting dalam membuka ruang kolaborasi antara pengusaha besar dan pelaku usaha lokal di berbagai daerah. Dengan sinergi tersebut, potensi ekonomi daerah dapat berkembang lebih optimal dan memberi dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Kolaborasi Jadi Kunci Menghadapi Persaingan Global

Dalam pandangannya, dunia usaha saat ini membutuhkan ekosistem yang saling mendukung. Persaingan yang sehat tetap diperlukan, namun semangat utama yang harus dibangun adalah kolaborasi untuk menciptakan kekuatan bersama.

Konsep ini dinilai penting agar pengusaha nasional tidak hanya fokus bertahan di pasar domestik, tetapi juga mampu memperluas jaringan bisnis hingga pasar internasional. Dengan adanya kolaborasi antar anggota Asprindo, peluang investasi, distribusi produk, hingga pengembangan usaha dinilai akan semakin terbuka.

Jamaluddin berharap Asprindo dapat menjadi platform yang mempertemukan ide, inovasi, dan peluang bisnis lintas sektor sehingga mampu menciptakan pengusaha yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Kembali Terpilih sebagai Rektor Unhas

Selain aktif di Asprindo, Jamaluddin Jompa juga kembali dipercaya memimpin Universitas Hasanuddin untuk periode 2026–2030.

Ia resmi terpilih kembali sebagai Rektor Unhas setelah melewati proses pemungutan suara Majelis Wali Amanat (MWA) pada 14 Januari 2026. Jabatan tersebut menjadi periode keduanya memimpin salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia.

Dalam pernyataannya, Jamaluddin mengibaratkan tugas sebagai rektor seperti seorang nakhoda kapal besar yang harus membawa seluruh penumpang melewati lautan luas dengan berbagai tantangan.

“Saya mengibaratkan amanah sebagai rektor seperti menjadi nakhoda sebuah kapal besar yang sedang mengarungi lautan luas dengan cuaca yang tidak selalu bersahabat,” katanya.

Pengalaman Menghadapi Tantangan Saat Pandemi

Jamaluddin juga menceritakan bagaimana awal kepemimpinannya sebagai rektor harus dihadapkan dengan situasi sulit saat pandemi COVID-19 melanda dunia. Menurutnya, masa tersebut menjadi ujian besar bagi dunia pendidikan, termasuk bagi Universitas Hasanuddin.

Namun, ia menilai ketangguhan dan kemampuan adaptasi seluruh civitas akademika Unhas menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan tersebut. Berkat kerja sama seluruh pihak, Unhas tetap mampu berkembang dan mencatat berbagai prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Ketangguhan dan kemampuan adaptif dari seluruh civitas akademika Unhas menjadi human capital yang sangat berharga,” ujar Jamaluddin.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan yang diraih Unhas tidak lahir dari kerja satu individu saja. Semua capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif dari seluruh elemen kampus yang mampu meninggalkan ego sektoral dan bergerak bersama menuju tujuan yang sama.

Semangat Kebersamaan Jadi Fondasi Keberhasilan

Menurut Jamaluddin, prinsip kebersamaan juga relevan diterapkan dalam dunia usaha, termasuk di lingkungan Asprindo. Ia percaya bahwa keberhasilan organisasi maupun institusi hanya dapat dicapai apabila seluruh pihak saling mendukung dan memiliki visi yang sama.

“Tidak ada pemain tunggal di Unhas. Unhas bisa mencapai berbagai prestasi karena semua unit melepaskan ego sektoral, saling menopang dan bergerak secara serentak,” ungkapnya.

Semangat kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi budaya yang terus dikembangkan di Asprindo. Dengan memperkuat kemitraan antar pengusaha, organisasi ini dinilai memiliki peluang besar menjadi kekuatan ekonomi nasional yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Prof. Jamaluddin Jompa Kembali Pimpin Unhas, Tegaskan Pentingnya Kolaborasi untuk Kemajuan Pendidikan dan Dunia Usaha

Prof. Jamaluddin Jompa Kembali Pimpin Unhas, Tegaskan Pentingnya Kolaborasi untuk Kemajuan Pendidikan dan Dunia Usaha

Jakarta – Anggota Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) Pusat, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., kembali dipercaya memimpin Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai rektor untuk periode 2026–2030. Kepercayaan tersebut menjadi bukti atas kepemimpinan dan kontribusinya dalam membawa Unhas terus berkembang, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sosok yang akrab disapa Prof JJ ini kembali terpilih setelah memperoleh dukungan mayoritas dalam pemungutan suara Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Hasanuddin pada 14 Januari 2026. Dalam proses pemilihan tersebut, Prof JJ meraih 23 suara dari total 24 anggota MWA, unggul atas dua kandidat lainnya. Hasil tersebut menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan terhadap kepemimpinannya untuk melanjutkan transformasi Universitas Hasanuddin selama lima tahun ke depan.

Bagi ASPRINDO, terpilihnya kembali Prof JJ bukan hanya menjadi kebanggaan bagi dunia pendidikan, tetapi juga menjadi inspirasi bahwa kepemimpinan yang mengedepankan kolaborasi, inovasi, dan semangat membangun mampu menghasilkan prestasi yang berkelanjutan.

Kepemimpinan Adalah Amanah Besar

Dalam sambutannya setelah resmi kembali menjabat sebagai Rektor Universitas Hasanuddin, Prof JJ menyampaikan bahwa amanah yang diberikan kepadanya merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab yang sangat besar.

Ia mengibaratkan tugas seorang rektor seperti menjadi nakhoda sebuah kapal besar yang sedang mengarungi lautan luas dengan kondisi yang tidak selalu mudah.

“Saya mengibaratkan amanah sebagai rektor seperti menjadi nakhoda sebuah kapal besar yang sedang mengarungi lautan luas dengan cuaca yang tidak selalu bersahabat,” ujar Prof JJ pada Selasa, 28 April 2026.

Analogi tersebut menggambarkan bahwa memimpin sebuah perguruan tinggi besar memerlukan visi yang jelas, kemampuan mengambil keputusan, serta keberanian menghadapi berbagai tantangan yang terus berubah.

Filosofi Pelaut Bugis Makassar Menjadi Pegangan

Sebagai putra Bugis Makassar, Prof JJ mengaku memiliki semangat yang lahir dari budaya maritim yang kuat.

Menurutnya, perjalanan memimpin Universitas Hasanuddin tidak lepas dari filosofi pelaut Bugis yang mengajarkan keberanian untuk terus melangkah meski menghadapi tantangan.

Ia mengutip pepatah Bugis:

“Kualleangi tallanga nah toalia.”

Pepatah tersebut memiliki makna bahwa ketika layar telah terkembang dan kemudi telah terpasang, maka pantang surut kembali ke pantai.

Filosofi ini menjadi simbol komitmen untuk terus bergerak maju, tetap teguh menghadapi tantangan, serta tidak mudah menyerah dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Nilai tersebut juga sejalan dengan semangat pembangunan bangsa yang membutuhkan keberanian, konsistensi, dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat.

Berhasil Membawa Unhas Melewati Masa Sulit Pandemi

Prof JJ juga mengenang perjalanan kepemimpinannya pada periode pertama yang dimulai di tengah pandemi COVID-19. Saat itu, Universitas Hasanuddin menghadapi tantangan besar akibat perubahan sistem pembelajaran, penyesuaian kebijakan, hingga kebutuhan untuk mengembangkan cara kerja yang lebih adaptif.

Meski demikian, menurutnya, seluruh civitas akademika Universitas Hasanuddin mampu menunjukkan ketangguhan luar biasa.

Dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga seluruh unit kerja berhasil beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan, sekaligus terus menghadirkan inovasi dalam proses pembelajaran maupun pengembangan institusi.

Prof JJ menyebut bahwa kemampuan adaptasi tersebut menjadi human capital yang sangat berharga bagi Universitas Hasanuddin.

Berkat semangat bersama tersebut, Unhas mampu terus menorehkan berbagai prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional setelah melewati masa pandemi.

Prestasi Tidak Pernah Dibangun oleh Satu Orang

Dalam pidatonya, Prof JJ menegaskan bahwa berbagai pencapaian Universitas Hasanuddin bukanlah hasil kerja individu. Menurutnya, keberhasilan sebuah organisasi hanya dapat dicapai apabila seluruh unsur di dalamnya memiliki tujuan yang sama dan mampu bekerja secara kolaboratif.

“Tidak ada pemain tunggal di Unhas. Unhas bisa mencapai berbagai prestasi karena semua unit melepaskan ego sektoral, saling menopang dan bergerak secara serentak,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan fondasi utama dalam membangun organisasi yang kuat dan berdaya saing. Prinsip tersebut tidak hanya relevan bagi dunia pendidikan, tetapi juga menjadi nilai penting dalam pengembangan dunia usaha.

Kolaborasi Menjadi Semangat ASPRINDO

Selain mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Hasanuddin, Prof JJ juga merupakan Anggota Dewan Pembina ASPRINDO Pusat.

Dalam kesempatan terpisah, ia menyampaikan harapannya agar ASPRINDO terus berkembang menjadi forum yang mampu mempertemukan para pengusaha Bumiputera untuk saling bermitra dan tumbuh bersama.

Menurutnya, kehadiran ASPRINDO bukanlah untuk menciptakan persaingan antar pengusaha, melainkan membangun kolaborasi yang memberikan manfaat bagi seluruh anggota.

“Bersatunya para pengusaha Pribumi (BumiPutera) di ASPRINDO bukan untuk bersaing tapi berkolaborasi dan bersinergi untuk tumbuh bersama,” ungkapnya.

Semangat tersebut sejalan dengan visi ASPRINDO dalam membangun ekosistem usaha yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Mendorong Pengusaha Indonesia Berdaya Saing Internasional

Prof JJ juga berharap agar seluruh jajaran DPP maupun DPW ASPRINDO dapat terus berkembang menjadi kekuatan nasional yang mampu melahirkan lebih banyak pengusaha Indonesia dengan daya saing global.

Ia menilai bahwa pengusaha Indonesia perlu membangun kemitraan yang kuat, baik dengan pelaku usaha lokal maupun mitra internasional, agar mampu memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.

Kolaborasi lintas daerah, pertukaran pengalaman, inovasi, serta penguatan jaringan bisnis menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan ekonomi yang semakin terbuka.

Dengan semakin kuatnya ekosistem pengusaha Bumiputera, diharapkan akan lahir lebih banyak pelaku usaha yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Inspirasi Kepemimpinan untuk Indonesia

Kepercayaan yang kembali diberikan kepada Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. sebagai Rektor Universitas Hasanuddin periode 2026–2030 menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang berlandaskan integritas, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi mampu menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Bagi ASPRINDO, nilai-nilai tersebut juga menjadi landasan dalam membangun organisasi dan memperkuat jaringan pengusaha Bumiputera di seluruh Indonesia.

Melalui semangat untuk terus berkolaborasi, saling mendukung, dan membangun daya saing hingga tingkat internasional, ASPRINDO optimistis dapat menjadi wadah yang mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha Indonesia yang tangguh dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

ASPRINDO Ajak Pengusaha Membangun Bisnis Melalui Kolaborasi dan Ekosistem yang Kuat

ASPRINDO Ajak Pengusaha Membangun Bisnis Melalui Kolaborasi dan Ekosistem yang Kuat

Membangun bisnis bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak pelaku usaha menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan produk, meningkatkan kualitas layanan, hingga mencari pelanggan baru. Namun, tidak sedikit yang merasa usahanya berjalan di tempat meskipun telah bekerja keras setiap hari.

Sering kali, penyebab sebuah bisnis sulit berkembang bukan karena produknya kurang baik atau kualitas jasanya rendah. Justru, tantangan terbesar yang dihadapi banyak pengusaha adalah kurangnya relasi bisnis, terbatasnya akses pasar, dan belum memiliki ekosistem yang mampu mendukung pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.

Inilah yang menjadi perhatian ASPRINDO (Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia). Sebagai organisasi yang menghimpun para pengusaha bumiputera dari berbagai sektor usaha, ASPRINDO hadir untuk membangun ekosistem bisnis yang kolaboratif sehingga para pelaku usaha tidak lagi harus berjuang sendirian.

Mengapa Banyak Bisnis Sulit Berkembang?

Tidak sedikit pengusaha yang memiliki produk berkualitas, tetapi kesulitan meningkatkan penjualan. Ada pula yang telah memiliki pelanggan tetap, namun belum mampu memperluas pasar ke daerah lain.

Kondisi tersebut umumnya bukan disebabkan oleh kualitas produk, melainkan karena terbatasnya jaringan bisnis yang dimiliki.

Tanpa relasi yang kuat, seorang pengusaha akan lebih sulit menemukan mitra usaha, memperoleh informasi peluang bisnis, hingga menjangkau pasar yang lebih luas. Akibatnya, perkembangan usaha menjadi lebih lambat dibandingkan bisnis yang tumbuh di dalam lingkungan kolaboratif.

Selain itu, banyak pelaku usaha juga mengalami kendala dalam memperoleh akses terhadap pelatihan, pendampingan, pembiayaan, maupun informasi mengenai peluang investasi yang dapat mempercepat perkembangan bisnis mereka.

Bisnis Tidak Dibangun Sendirian

Di dunia usaha modern, keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kekuatan jaringan yang dimiliki.

Perusahaan-perusahaan besar pun berkembang karena mampu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemasok, distributor, komunitas bisnis, pemerintah, hingga investor.

Prinsip yang sama juga berlaku bagi UMKM maupun pengusaha yang baru memulai usaha.

Semakin luas jaringan yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan pelanggan baru, memperluas pasar, menemukan mitra strategis, hingga membuka kesempatan kerja sama yang saling menguntungkan.

Karena itu, membangun bisnis bersama komunitas yang tepat menjadi salah satu strategi penting untuk mempercepat pertumbuhan usaha.

ASPRINDO Hadir Membangun Ekosistem Bisnis yang Kolaboratif

Sebagai organisasi pengusaha, ASPRINDO hadir bukan hanya sebagai tempat berkumpulnya pelaku usaha, tetapi sebagai wadah untuk membangun ekosistem bisnis yang saling mendukung.

Melalui berbagai program yang dijalankan, ASPRINDO mendorong anggotanya untuk saling terhubung, berbagi pengalaman, dan membuka peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat bersama.

Dengan bergabung dalam komunitas yang memiliki visi yang sama, setiap anggota memiliki kesempatan untuk berkembang lebih cepat dibandingkan apabila harus menjalankan bisnis secara sendiri-sendiri.

Ekosistem inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama ASPRINDO dalam membantu para pengusaha meningkatkan daya saing usahanya.

Manfaat Bergabung Bersama ASPRINDO

Bergabung dengan ASPRINDO memberikan berbagai manfaat yang dapat mendukung pertumbuhan usaha dalam jangka panjang.

1. Memperluas Networking

Jaringan bisnis merupakan aset yang sangat berharga bagi setiap pengusaha.

Melalui ASPRINDO, anggota dapat bertemu dengan pelaku usaha dari berbagai bidang industri sehingga membuka peluang untuk saling bertukar pengalaman, memperluas koneksi, hingga membangun kerja sama bisnis baru.

Semakin luas jaringan yang dimiliki, semakin besar pula kesempatan untuk menemukan peluang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

2. Membuka Peluang Kolaborasi

Kolaborasi sering kali menjadi kunci lahirnya peluang usaha baru.

Di ASPRINDO, para anggota dapat menjalin kemitraan dalam berbagai bentuk, mulai dari kerja sama pemasaran, distribusi produk, pengadaan barang dan jasa, hingga pengembangan proyek bersama.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat bagi seluruh anggota sekaligus memperkuat daya saing dunia usaha nasional.

3. Meningkatkan Kapasitas Usaha

ASPRINDO juga mendorong peningkatan kompetensi para anggotanya melalui berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, seminar, diskusi bisnis, serta pendampingan usaha.

Program-program tersebut dirancang agar para pengusaha mampu mengikuti perkembangan dunia bisnis yang terus berubah, termasuk dalam bidang digitalisasi, pemasaran, manajemen usaha, hingga pengembangan strategi bisnis.

Dengan kapasitas yang terus meningkat, pelaku usaha akan lebih siap menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia.

4. Mendapatkan Edukasi dan Exposure Bisnis

Selain membangun jaringan, anggota ASPRINDO juga memperoleh kesempatan untuk meningkatkan eksposur usahanya.

Melalui berbagai kegiatan organisasi, produk maupun jasa anggota memiliki peluang untuk lebih dikenal oleh komunitas bisnis yang lebih luas.

Eksposur tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap bisnis yang dijalankan.

Siapa Saja yang Bisa Bergabung?

ASPRINDO terbuka bagi siapa saja yang memiliki semangat untuk bertumbuh dan berkolaborasi.

Keanggotaan tidak terbatas pada pelaku usaha yang sudah besar, tetapi juga mencakup berbagai kalangan, antara lain:

  • UMKM yang ingin mengembangkan usahanya.
  • Pebisnis pemula yang baru memulai perjalanan bisnis.
  • Owner perusahaan, baik skala kecil, menengah, maupun besar.
  • Profesional dan entrepreneur yang ingin memperluas jaringan sekaligus meningkatkan kapasitas bisnis.

Dengan keberagaman latar belakang tersebut, ASPRINDO menjadi ruang yang tepat untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan membangun sinergi antaranggota.

Saatnya Naik Level Bersama ASPRINDO

Di tengah persaingan dunia usaha yang semakin dinamis, pengusaha tidak cukup hanya memiliki produk yang berkualitas. Dibutuhkan jaringan yang kuat, akses terhadap peluang, serta komunitas yang mampu mendorong pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

ASPRINDO hadir sebagai mitra bagi para pengusaha untuk membangun ekosistem bisnis yang lebih kuat, kolaboratif, dan berdaya saing.

Karena bisnis yang besar tidak dibangun sendirian, melainkan tumbuh bersama komunitas yang tepat.

Saatnya naik level bersama ASPRINDO. Perluas networking, buka peluang kolaborasi, tingkatkan kapasitas usaha, dan jadilah bagian dari komunitas pengusaha yang terus bergerak membangun ekonomi Indonesia.

Kampung Industri vs Desa Biasa : Mengapa Ekosistem Menjadi Kunci Kemajuan Ekonomi Desa?

Kampung Industri vs Desa Biasa : Mengapa Ekosistem Menjadi Kunci Kemajuan Ekonomi Desa?

Indonesia dikenal sebagai negara dengan ribuan desa yang memiliki sumber daya alam melimpah, hasil pertanian yang beragam, perikanan yang kaya, serta masyarakat yang kreatif dan produktif. Hampir setiap desa memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan masyarakat. Namun, pada kenyataannya, tidak semua desa mampu mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

Pertanyaannya, mengapa ada desa yang berkembang pesat menjadi pusat kegiatan ekonomi, sementara desa lain masih kesulitan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya?

Menurut Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO), perbedaannya bukan semata-mata terletak pada besarnya potensi yang dimiliki, melainkan pada ekosistem usaha yang dibangun. Inilah konsep yang menjadi dasar pengembangan Kampung Industri, yaitu membangun seluruh rantai ekonomi desa secara terintegrasi agar mampu menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat.

Potensi Desa Tidak Akan Berkembang Tanpa Pengelolaan yang Tepat

Hampir seluruh desa di Indonesia memiliki keunggulan masing-masing. Ada desa yang terkenal sebagai sentra pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan tangan, hingga industri makanan.

Namun sering kali potensi tersebut hanya berhenti pada tahap produksi bahan mentah. Akibatnya, masyarakat memperoleh keuntungan yang relatif kecil karena nilai tambah produk dinikmati oleh pihak lain yang melakukan proses pengolahan maupun pemasaran.

Sebagai contoh, petani hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah dengan harga yang relatif rendah. Nelayan menjual hasil tangkapan langsung tanpa proses pengolahan sehingga harga sangat bergantung pada kondisi pasar. Begitu pula pelaku UMKM yang memproduksi barang sendiri, tetapi masih kesulitan menemukan pasar yang lebih luas.

Situasi seperti ini menyebabkan aktivitas ekonomi berjalan sendiri-sendiri dan belum mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang optimal.

Desa Biasa: Usaha Berjalan Sendiri-Sendiri

Pada desa yang belum memiliki ekosistem usaha yang terintegrasi, setiap pelaku usaha bekerja secara mandiri.

Petani fokus memproduksi hasil panen tanpa memiliki akses terhadap industri pengolahan. Nelayan menjual hasil tangkapan dalam bentuk segar tanpa proses hilirisasi. Pelaku UMKM memasarkan produknya secara terbatas dengan jangkauan pasar yang masih kecil.

Akibatnya, muncul berbagai tantangan seperti:

  • Nilai jual produk masih rendah.
  • Harga komoditas sering tidak stabil.
  • Pasar yang terbatas.
  • Pendapatan masyarakat relatif kecil.
  • Rantai ekonomi desa belum berkembang secara berkelanjutan.

Padahal desa sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang apabila seluruh pelaku usaha saling terhubung dalam satu sistem yang saling mendukung.

Kampung Industri Menghubungkan Seluruh Rantai Ekonomi

Berbeda dengan desa biasa, Kampung Industri mengembangkan seluruh aktivitas ekonomi dalam satu ekosistem yang saling terintegrasi.

Mulai dari proses produksi (hulu), kemudian dilanjutkan dengan pengolahan, distribusi, hingga pemasaran (hilir) dilakukan secara terencana sehingga setiap tahapan mampu memberikan nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan.

Melalui sistem tersebut, hasil pertanian tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk siap konsumsi. Hasil perikanan dapat diproses menjadi berbagai produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Produk UMKM juga memiliki peluang lebih besar untuk dipasarkan hingga tingkat nasional bahkan ekspor.

Dengan adanya integrasi tersebut, manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh satu pelaku usaha, tetapi tersebar kepada masyarakat secara lebih luas.

Nilai Tambah Menjadi Kunci Peningkatan Pendapatan

Salah satu perbedaan paling penting antara desa biasa dan Kampung Industri adalah kemampuan menciptakan nilai tambah (value added).

Produk yang telah melalui proses pengolahan memiliki harga jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.

Selain itu, kualitas produk menjadi lebih terjaga karena proses produksi dilakukan dengan standar yang lebih baik. Produk juga memiliki daya saing yang lebih tinggi sehingga mampu memasuki pasar modern maupun pasar ekspor.

Ketika nilai tambah meningkat, maka pendapatan masyarakat juga ikut meningkat. Inilah yang menjadi dasar terciptanya pertumbuhan ekonomi desa yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Ekosistem Terintegrasi Membuka Pasar yang Lebih Luas

Dalam konsep Kampung Industri, pemasaran tidak lagi dilakukan secara individu.

Pelaku usaha memperoleh dukungan dalam membangun branding, memperluas jaringan distribusi, serta memasarkan produk ke berbagai wilayah.

Dengan demikian, produk desa tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar, tetapi juga memiliki peluang masuk ke pasar nasional hingga internasional.

Ekosistem yang saling terhubung juga membuat proses produksi menjadi lebih efisien karena setiap pelaku usaha memiliki peran masing-masing dalam rantai ekonomi.

Kondisi inilah yang mendorong pertumbuhan ekonomi desa berlangsung secara berkelanjutan.

Peran ASPRINDO dalam Membangun Kampung Industri

Sebagai organisasi yang berkomitmen terhadap pemberdayaan pengusaha bumiputera, ASPRINDO turut berperan dalam mendorong lahirnya Kampung Industri di berbagai daerah.

Peran tersebut diwujudkan melalui berbagai program, antara lain:

  • Membuka akses pasar bagi produk lokal.
  • Memberikan pendampingan usaha kepada pelaku UMKM.
  • Memfasilitasi akses terhadap kebijakan, pembiayaan, dan investasi.
  • Mengukur serta menjaga keberhasilan ekosistem usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan ini, ASPRINDO ingin memastikan bahwa potensi desa tidak berhenti sebagai sumber daya semata, tetapi benar-benar menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Potensi Harus Diubah Menjadi Kekuatan Ekonomi

Keberhasilan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hasil produksi, tetapi oleh kemampuan mengelola potensi tersebut menjadi sistem ekonomi yang saling mendukung.

Potensi yang besar tidak akan memberikan dampak maksimal apabila setiap pelaku usaha berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, ketika seluruh proses mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran diintegrasikan dalam satu ekosistem, desa akan memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat.

Konsep Kampung Industri menunjukkan bahwa pembangunan desa bukan hanya tentang menghasilkan lebih banyak produk, tetapi juga tentang menciptakan nilai tambah, memperluas pasar, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Karena itu, potensi saja tidak cukup. Potensi harus dikelola, dikembangkan, dan diintegrasikan agar menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.

Bersama ASPRINDO, mari terus membangun desa yang produktif, mandiri, dan berdaya saing. Dengan semangat kolaborasi, setiap potensi lokal dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Kita harus tetap bergerak, jangan berhenti. ASPRINDO Jaya, Indonesia Kaya.

Arah Ekonomi Prabowo Dinilai Mengarah ke Konsep Soemitronomics

Arah Ekonomi Prabowo Dinilai Mengarah ke Konsep Soemitronomics

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Didin S Damanhuri, menilai kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam lebih dari satu tahun terakhir mulai menunjukkan kecenderungan mengarah pada pendekatan Soemitronomics.

Hal tersebut disampaikan Didin dalam keterangan tertulis pada Kamis, 26 Maret 2026.

Konsep Soemitronomics sendiri merujuk pada pemikiran Soemitro Djojohadikusumo, yang menitikberatkan pada penerapan prinsip Pasal 33 UUD 1945. Dalam kerangka ini, perekonomian nasional dijalankan dengan keseimbangan antara peran negara, koperasi, dan sektor swasta.

Didin menjelaskan bahwa model tersebut memiliki kemiripan dengan sistem sosial demokrasi di negara-negara Skandinavia seperti Swedia, Finlandia, Denmark, dan Norwegia. Di negara-negara ini, sektor swasta tetap berkembang, tetapi berada dalam pengawasan dan regulasi negara yang ketat, termasuk penerapan pajak progresif, jaminan sosial, serta aturan anti-monopoli.

“Swasta tidak berjalan dalam free fight liberalism, tetapi tetap tunduk pada regulasi negara,” ujar Didin.

Dalam sistem tersebut, koperasi dan sektor swasta dapat tumbuh berdampingan dalam mekanisme pasar yang sehat, tanpa dominasi berlebihan dari kekuatan modal.

Meski demikian, Didin menilai kondisi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait praktik perburuan rente (rent seeking). Praktik ini merujuk pada upaya meraih keuntungan melalui kedekatan dengan kekuasaan, bukan melalui inovasi atau efisiensi usaha.

Ia juga mengutip pemikiran Mohammad Hatta yang menegaskan bahwa sistem ekonomi Pancasila terdiri dari tiga pilar utama, yaitu koperasi, BUMN, dan sektor swasta. Dalam konteks ini, sektor swasta tetap memiliki ruang berkembang selama tidak terlibat dalam praktik rente.

Selain itu, Didin menekankan pentingnya peran UMKM yang saat ini mendominasi lebih dari 99 persen pelaku usaha di Indonesia. Menurutnya, pemerintah perlu mendorong UMKM agar dapat naik kelas, baik menjadi koperasi yang efisien maupun berkembang menjadi perusahaan swasta yang inovatif.

“Kita harus dorong UMKM naik kelas, sebagian menjadi koperasi efisien dan sebagian lagi menjadi swasta inovatif,” katanya.

Didin juga menyoroti bahwa kolusi antara pengusaha dan elite politik masih menjadi salah satu hambatan utama dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi rakyat. Ia menilai berbagai kebijakan ekonomi di masa lalu belum sepenuhnya berhasil mencapai tujuan tersebut.

Ke depan, ia berharap pemerintahan Prabowo mampu menjalankan ekonomi Pancasila secara konsisten dengan menekan praktik rente. “Ekonomi harus menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan, bukan kapital,” tegasnya.

ASPRINDO

Follow Sosial Media ASPRINDO

Design Website by Lafasy Digital