Jakarta – Memasuki awal tahun 2026, Program Kampung Industri yang digagas Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) bukan lagi sekadar wacana. Kini telah menunjukkan geliat nyata di berbagai daerah dan terus dikembangkan sebagai model pemberdayaan ekonomi berbasis akar rumput.
Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal, sebelumnya menyampaikan bahwa Kampung Industri diharapkan dapat menjadi program nasional yang mendukung pemerintah dalam membangun ketahanan pangan dan memperkuat ekonomi daerah.
“Harapan kami, ke depan, Kampung Industri bisa menjadi program nasional yang mendukung pemerintah dalam upaya membangun ketahanan pangan,” ujar Jose dalam keterangan tertulisnya pada 26 Januari 2025.
Memasuki 2026, komitmen tersebut terus dijalankan melalui sinergi aktif antara Asprindo, pemerintah pusat dan daerah, serta kalangan akademisi.
Sinergi dengan Pemerintah dan Kementerian Teknis
Sejak tahap awal, Asprindo telah melakukan audiensi dengan berbagai kementerian di tingkat pusat guna memperoleh dukungan kebijakan dan koordinasi program. Di antaranya dengan Menteri PPN/Bappenas, Menteri Kelautan dan Perikanan, serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT).
Langkah ini menunjukkan bahwa Kampung Industri dirancang selaras dengan agenda pembangunan nasional, terutama dalam hal ketahanan pangan, penguatan ekonomi desa, dan pengentasan kemiskinan.
Tidak berhenti di situ, Asprindo juga terus mengupayakan dukungan dari kementerian teknis lainnya serta pemerintah daerah agar implementasi program dapat berjalan sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing wilayah.
Dengan dukungan lintas sektor, Kampung Industri tidak hanya menjadi program internal organisasi, tetapi menjadi gerakan kolaboratif yang membuka ruang partisipasi luas bagi pelaku usaha lokal.
Dukungan Akademisi dan Tenaga Ahli
Untuk memastikan program berjalan profesional dan berbasis kajian ilmiah, Asprindo juga menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi. Ketua Dewan Pakar Asprindo, Prof. Didin S. Damanhuri, yang juga Guru Besar IPB, telah menyiapkan tim pakar dari IPB untuk mengawal dan memberikan pendampingan dalam pelaksanaan Kampung Industri.
Kolaborasi ini menjadi salah satu kekuatan utama program, karena tidak hanya mengandalkan semangat kewirausahaan, tetapi juga dukungan tenaga ahli, riset, serta pendekatan manajerial yang terukur.
Dengan demikian, Kampung Industri tidak dijalankan secara sporadis, melainkan dirancang sebagai ekosistem usaha yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Berbasis Akar Rumput dan UMKM
Jose menegaskan bahwa Kampung Industri merupakan alternatif solusi berbasis akar rumput. Program ini diarahkan untuk memperkuat bisnis rumahan dan UMKM yang dikelola mayoritas masyarakat setempat.
“Karena berbasis akar rumput, Kampung Industri merupakan alternatif solusi bagi pemerintah, baik untuk ketahanan pangan maupun untuk pengentasan kemiskinan. Kami harus menjalankan ini kalau mau besar dan kompetitif. Karena selama ini pengusaha pribumi umumnya pengusaha kecil,” papar Jose.
Kampung Industri dirancang sebagai kawasan perkampungan yang menjadikan usaha rumahan dan UMKM sebagai fondasi utama. Melalui pendekatan ini, pengusaha kecil tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi berada dalam ekosistem usaha yang saling terhubung.
Setiap wilayah diarahkan untuk mengembangkan produk unggulan sesuai potensi lokalnya, sehingga memiliki identitas ekonomi yang jelas dan berdaya saing.
Konsep Ekosistem dan Gotong Royong
Kunci dari Kampung Industri, menurut Jose, terletak pada penguatan produk unggulan daerah, semangat gotong royong dalam pengadaan sumber daya, serta pengelolaan usaha secara profesional.
“Kunci Kampung Industri adalah produk unggulan setiap wilayah, gotong royong dalam pengadaan sumber daya, dioperasikan secara profesional, dengan kemanfaatan win-win di antara seluruh elemen yang terlibat,” ungkapnya.
Artinya, Kampung Industri bukan hanya tentang produksi, tetapi tentang membangun rantai nilai yang terintegrasi mulai dari bahan baku, proses produksi, manajemen, hingga pemasaran.
Melalui jaringan anggota Asprindo di berbagai wilayah, pelaku usaha mikro dan kecil juga memiliki peluang memperluas akses pasar, termasuk membuka jalan menuju pasar nasional bahkan internasional.
Bukan Program Baru, Tapi Gerakan Berkelanjutan
Memasuki 2026, Kampung Industri bukan lagi sekadar konsep yang baru digembor-gemborkan. Program ini telah berjalan dan terus diperluas melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
Asprindo membuka kesempatan bagi pengusaha mikro, kecil, dan menengah di seluruh Indonesia untuk bergabung dan menjadi bagian dari ekosistem Kampung Industri. Dengan bergabung, pelaku usaha dapat memperoleh pendampingan, akses jejaring, serta peluang kolaborasi lintas daerah.
Bagi pengusaha yang ingin meningkatkan kapasitas usaha dan membawa produk lokal menembus pasar yang lebih luas, termasuk internasional, Kampung Industri menjadi salah satu jalur strategis.
Ayo Bergabung dan Majukan Daerah Bersama Asprindo
Asprindo mengajak para pengusaha Bumiputera, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil, untuk bergabung melalui cabang atau DPW terdekat di wilayah masing-masing.
Dengan semangat kolaborasi, profesionalisme, dan gotong royong, Kampung Industri diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, mengurangi kemiskinan, serta mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha lokal yang mampu bersaing di tingkat global.
Bersama Asprindo, saatnya pengusaha mikro tidak hanya bertahan, tetapi naik kelas dan membawa produk daerah menuju panggung nasional dan internasional.







