Jakarta, 1 Januari 2026 – Mengawali tahun baru dengan refleksi dan kepedulian sosial, Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) menggelar zikir dan doa bersama di Graha Jorindo, Jalan Poltangan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (1/1). Kegiatan ini tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga momentum spiritual untuk mendoakan korban bencana di Sumatera, khususnya Aceh, yang dilaporkan telah merenggut lebih dari seribu nyawa akibat banjir bandang.
Doa yang dipanjatkan tidak hanya untuk keselamatan dan pemulihan masyarakat terdampak, tetapi juga untuk kebangkitan ekonomi daerah yang mengalami kerusakan akibat bencana ekologis tersebut.
Agenda Tahunan Penuh Makna
Sekretaris Jenderal Asprindo, Ana Mustamin, menjelaskan bahwa kegiatan zikir dan doa bersama merupakan agenda rutin yang digagas oleh Ketua Umum Asprindo, Jose Rizal. Tradisi ini menjadi bagian dari komitmen organisasi dalam memadukan nilai spiritual dan tanggung jawab sosial di tengah dinamika ekonomi nasional.
“Acara utamanya memang doa dan zikir. Hiburan digelar agar keluarga besar Jorindo Group, relasi, sahabat, dan masyarakat sekitar bisa bersilaturahmi dan bergembira bersama,” ujar Ana.
Selain doa bersama, kegiatan ini juga diisi dengan hiburan sederhana sebagai wadah silaturahmi antara pekerja Jorindo Group, keluarga besar Asprindo, para anggota, mitra usaha, sahabat organisasi, serta masyarakat sekitar. Kebersamaan ini diharapkan menjadi awal yang positif dalam menyongsong tahun 2026.
Doa untuk Pemulihan Pascabencana
Dalam suasana penuh kekhusyukan, doa khusus dipanjatkan untuk masyarakat Sumatera yang terdampak bencana, terutama di Aceh. Banjir bandang yang terjadi di wilayah tersebut dilaporkan telah menelan lebih dari seribu korban jiwa. Selain kerugian jiwa, kerusakan infrastruktur dan sektor ekonomi lokal juga menjadi tantangan besar bagi proses pemulihan.

Asprindo menilai bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga kebijakan jangka panjang yang mampu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan UMKM yang terdampak langsung.
Momentum pergantian tahun ini, menurut Ana, harus menjadi titik refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam membangun ekonomi yang tangguh dan berkeadilan.
Harapan terhadap Kebijakan Ekonomi 2026
Ana Mustamin juga menyoroti kondisi perekonomian nasional di awal tahun 2026, terutama setelah dampak bencana ekologis di tiga provinsi di Sumatera. Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah strategis yang benar-benar selaras antara target dan implementasi di lapangan.
“Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen. Namun, saya belum melihat kesesuaian antara yang diucapkan dan yang dilakukan di lapangan. Saya menaruh harapan besar kepada Menteri Keuangan Purbaya agar menyusun kebijakan dan program yang lebih memihak masyarakat kecil serta pelaku UMKM,” katanya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan berarti banyak jika tidak disertai peningkatan daya beli masyarakat dan perluasan kesempatan kerja.
Pembangunan Harus Libatkan Pengusaha Lokal
Ana menegaskan bahwa pembangunan akan berdampak optimal jika dimulai dengan melibatkan masyarakat menengah ke bawah dan pengusaha lokal skala kecil. Hal ini penting untuk membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan sekaligus menciptakan lapangan kerja berkualitas.
“Jika hanya melibatkan pelaku usaha besar atau berdampak pada segelintir orang, ekonomi memang bisa tercatat meningkat, tetapi daya beli masyarakat tetap lemah,” ujarnya.
Asprindo secara konsisten mendorong model pembangunan ekonomi kerakyatan, di mana UMKM dan pengusaha lokal menjadi bagian utama dalam rantai produksi dan distribusi. Dengan pendekatan ini, manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata.
Pentingnya Pembangunan Berbasis Sains dan Lingkungan
Selain aspek ekonomi, Ana juga menekankan pentingnya perencanaan pembangunan yang berbasis kajian ilmiah dan memperhatikan aspek lingkungan. Menurutnya, bencana ekologis yang terjadi menjadi pengingat bahwa pembangunan yang mengabaikan keseimbangan alam dapat menimbulkan dampak serius bagi masyarakat.
“Pengusaha harus berinovasi, namun pemerintah wajib menciptakan ekosistem ekonomi kerakyatan agar manfaat pertumbuhan dirasakan seluruh rakyat secara berkeadilan,” pungkasnya.
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang sehat harus sejalan dengan pelestarian lingkungan, agar tidak memicu kerusakan ekosistem yang berujung pada bencana.
Awal Tahun dengan Refleksi dan Komitmen
Kegiatan zikir dan doa bersama ini menjadi simbol bahwa dunia usaha tidak hanya berbicara tentang angka dan pertumbuhan, tetapi juga tentang empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Asprindo berharap tahun 2026 menjadi tahun kebangkitan ekonomi yang lebih inklusif, di mana kebijakan fiskal dan pembangunan benar-benar menyentuh masyarakat kecil, memperkuat UMKM, serta menciptakan lapangan kerja yang luas dan berkualitas.
Dengan semangat kebersamaan di awal tahun, Asprindo menegaskan komitmennya untuk terus mendorong ekonomi kerakyatan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada pengusaha Bumiputera serta masyarakat luas.






