Indonesia memiliki kekayaan komoditas buah yang sangat beragam. Potensi tersebut tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, tetapi juga dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah untuk pasar internasional, termasuk pasar Eropa.
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah produk buah kering, seperti stroberi kering, mangga kering, buah naga kering, kweni kering, serta berbagai jenis buah lainnya.
Peluang ini menjadi semakin menarik karena Indonesia memiliki basis produksi buah yang besar. Data Kementerian Pertanian mencatat produksi buah Indonesia pada 2024 mencapai 29,03 juta ton. Lima komoditas dengan kontribusi produksi terbesar adalah pisang, mangga, nanas, jeruk siam/keprok, dan salak. Mangga sendiri mencapai sekitar 3,30 juta ton atau 11,37 persen dari total produksi buah nasional.
Daerah Penghasil Buah di Indonesia
Potensi bahan baku untuk produk buah kering tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Untuk mangga, sentra produksi utama pada 2024 berada di Jawa Timur dengan sekitar 1,4 juta ton, disusul Jawa Tengah sekitar 590 ribu ton dan Jawa Barat sekitar 468 ribu ton. Data tersebut menunjukkan bahwa pengembangan produk olahan mangga memiliki basis bahan baku yang cukup besar di dalam negeri.
Sementara itu, stroberi banyak dihasilkan di wilayah dataran tinggi. Data Kementerian Pertanian menunjukkan Jawa Barat menjadi provinsi dengan produksi stroberi terbesar pada 2024, mencapai sekitar 28.089 ton, disusul Jawa Tengah sekitar 2.368 ton. Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur juga tercatat sebagai daerah penghasil stroberi.
Untuk buah naga, sentranya lebih tersebar. Kementerian Pertanian mencatat daerah pengembangan dan sentra buah naga antara lain Wonogiri, Cilacap, Kudus, Rembang, dan Tegal di Jawa Tengah; sejumlah kabupaten di DI Yogyakarta; Banyuwangi, Jember, Lumajang, Gresik, dan Malang di Jawa Timur; serta beberapa wilayah di Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Banten, Bengkulu, dan Maluku Utara.
Banyuwangi bahkan menjadi salah satu kawasan yang mendapatkan perhatian dalam pengembangan buah naga berorientasi ekspor. Pada 2024, Kementerian Pertanian mengembangkan kawasan buah naga di Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Solok masing-masing seluas 20 hektare.
Mengapa Buah Kering Menjadi Peluang?
Mengolah buah segar menjadi buah kering dapat memberikan nilai tambah dibandingkan menjual komoditas hanya dalam bentuk segar. Produk dapat dikembangkan dengan berbagai ukuran, kemasan, dan konsep pemasaran sehingga memiliki identitas sebagai produk UMKM Indonesia.
Buah kering juga dapat menjadi salah satu cara mengembangkan produk berbasis komoditas lokal menjadi produk yang lebih siap dipasarkan secara lebih luas.
Namun, peluang pasar internasional tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan buah. UMKM perlu memperhatikan kualitas bahan baku, proses produksi, konsistensi mutu, kebersihan, kemasan, kapasitas produksi, serta kesiapan memenuhi persyaratan pasar tujuan.
Artinya, produk yang ingin masuk ke pasar global perlu dipersiapkan sebagai produk ekspor, bukan sekadar produk lokal yang kemudian dikirim ke luar negeri.
UMKM Perlu Naik Kelas Sebelum Masuk Pasar Global
Peluang pasar Eropa dapat menjadi dorongan bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas bisnisnya. Produk buah kering seperti stroberi, mangga, buah naga, kweni, maupun jenis buah lainnya dapat dikembangkan dengan standar produk yang lebih konsisten.
Kemasan juga menjadi bagian penting. Produk yang memiliki kualitas baik perlu didukung kemasan yang mampu menjaga produk sekaligus memberikan informasi yang jelas kepada konsumen.
Selain itu, kapasitas produksi perlu diperhatikan. Jika permintaan meningkat, UMKM harus mampu menjaga kontinuitas pasokan dan kualitas produk. Karena itu, penguatan rantai pasok antara petani, pengolah, pelaku UMKM, distributor, hingga calon pembeli menjadi bagian penting dalam membangun peluang ekspor.
ASPRINDO Buka Peluang Kolaborasi bagi UMKM
Dalam konteks tersebut, ASPRINDO dapat menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk membangun jaringan dan mencari peluang kerja sama.
UMKM yang memiliki produk buah kering dan berminat mengembangkan pasar internasional dapat menghubungi ASPRINDO untuk membuka komunikasi dan menjajaki peluang yang tersedia.
Potensi buah Indonesia sangat besar dan tersebar dari berbagai daerah. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, memiliki kualitas, kemasan yang baik, kapasitas produksi yang memadai, dan siap bersaing di pasar global.
Karena itu, bagi UMKM produsen buah kering yang memiliki kapasitas dan ingin mengembangkan pasar lebih luas, inilah saatnya mempersiapkan produk dan membuka peluang kolaborasi.
Kita harus tetap bergerak, jangan berhenti.
ASPRINDO Jaya, Indonesia Kaya!






